Nurvati

Nurvati
Episode 147: Menguak Makna Rahasia.



Suasana di kolam bunga teratai masih damai sebagaimana biasanya, mentari cerah telah menerangi saat ini. Dan keadaan di sini agak membingungkan.


“Ka-kau adalah malaikat Abriel?” tanya Nurvati memastikan.


Tanpa senyuman, dengan tatapannya yang tajam, dan tanpa bicara, dirinya yang terduga Malaikat Abriel hanya mengangguk dengan mantap, menyiratkan kalau dugaan Nurvati benar; itu Malaikat Abriel.


Sungguh di luar ekspektasi hidup Nurvati, sebuah kenyataan yang benar-benar tak pernah disangka-sangka.


Walau begitu, Nurvati yang berdiri dalam jarak 7 meteran dengan sosok yang mengakui sebagai Malaikat Abriel itu tak serta merta dirinya percaya begitu saja. Karena bagaimana pun bisa saja sosok di depannya adalah makhluk lain yang hendak menipu Nurvati.


Nurvati tidak mengenalnya, akan tetapi, malaikat itu mengetahui nama Nurvati, sehingga ada kemungkinan sosok itu antara penyihir atau penipu.


Bersama semilir angin yang menghangat, senyap dan diam mengisi suasana, momentum itu dimanfaatkan Nurvati dalam renungan dalam-dalam. Dirinya tak mungkin memercayai ucapan laki-laki itu sebelum bukti nyata didapatkan.


Oleh sebab itulah, dengan bersedekap menyilang tangan, Nurvati berkata, “Aku tidak percaya, sebelum bukti aku dapatkan ....”


Kalimat tegas itu ditanggapi sengap oleh sosok laki-laki berambut hitam itu.


“Aku ingin bukti!” tandas Nurvati dengan nada menantang.


Masih tanpa senyuman lelaki itu dengan tatapan tajam ke depan, seraya bertanya, “Ingin bukti seperti apa?”


Atas pertanyaan itulah Nurvati sengap berkontemplasi. Dirinya berusaha mencari hal apa yang sekiranya mampu membuat sosok di depannya tak berdaya hanya karena sebuah permainan sederhana. Iya, hanya oleh sebuah permainan laki-laki aneh di depannya dapat dipermalukan.


Setelah 7 detik dalam pikiran yang liar, Nurvati mendapatkan ide.


“Ayo kita berlomba sembunyi, siapa yang bisa bersembunyi tanpa ketahuan ... dia menang, dan kalau kau yang menang ... aku akan mengakuimu sebagai malaikat, tetapi bila aku yang menang ... kau harus mati,” ungkap Nurvati dengan sungguh-sungguh, berniat mempermalukan sosok konyol yang berada di depannya.


Karena siapa juga yang percaya, kalau ada seorang laki-laki yang hadir di hutan bambu ini lalu dengan konyolnya mengaku sebagai malaikat. Jelas, Nurvati akan sangat senang bisa mempermalukannya hanya dengan sebuah permainan kecil.


Maka pria itu menjawab, “Kalau begitu, bersembunyilah kamu, ke mana pun kamu bisa.”


“Baiklah ... kita lihat seperti apa wajahmu saat aku buka penipuanmu ...!” kata Nurvati dengan senang hati melakukannya dan berpikir untuk langsung membuat si laki-laki itu kalah.


Nurvati pun melesat terbang ke atas, cepat bagaikan kilat. Lalu hilang entah ke mana.


Selang sepuluh detik kepergian Nurvati, pria itu terdiam sejenak, memandang ke depan, lurus nan tegas, tetapi di sinilah keanehan itu terjadi.


Sungguh tak di sangka-sangka, pandangan mata hitam lelaki itu telah menembus dimensi keempat, yang kini telah menampakan rombongan nyamuk tengah terbang di antara rumah-rumah ras Manusia.


Maka berkatalah lelaki itu, “Di antara nyamuk-nyamuk yang terbang, di alam Manusia, kamu adalah nyamuk paling kiri, terbang cukup tinggi.”


Nurvati mendengarnya dia sadar kalau laki-laki itu berhasil menemukannya. Tetapi sayangnya Nurvati tidak mau kalah, sebab ekspektasi diawalnya adalah lelaki itu kewalahan hanya dengan satu kali permainan.


Oleh sebab itu, Nurvati membalas, “Tunggu, ini belum selesai ... izinkan aku bersembunyi lagi ....”


Kemudian lelaki itu mempersilakan dan Nurvati pun bersembunyi lagi.


Maka sosok lelaki itu kembali mencari lagi, netranya terus menembus segala dimensi dan sampailah pandangannya pada lautan nan luas, masih di alam Manusia.


Ikan-ikan yang kecil nampak bergerombol, berenang-renang bebas dalam lautan.


Hingga lelaki itu pun berujar, “Di antara gerombolan ikan kecil, di antara kilau ikan-ikan itu, di alam Manusia, kamu adalah ikan yang paling tengah, yang kilau sisiknya redup karena terhalang ikan-ikan lainnya.”


Nurvati mendengarnya, dirinya menyadari kalau sudah ketahuan.


Sadar kalau sudah dua kali dirinya ketahuan, Nurvati langsung berpikir cara lain untuk mengalahkan sosok pria itu, sehingga dia kembali terbang, menuju kolam bunga teratai.


Dengan pintu teleportasi, Nurvati telah kembali dengan wujud aslinya, dia kembali berdiri di posisinya semula, berdiri menghadap lelaki aneh itu, seraya berkata, “Baiklah, aku sudah bersembunyi ... sekarang giliranmu ....”


Lelaki itu mengangguk sepakat.


Akan tetapi, menyadari kalau Nurvati ingin mempermalukan lelaki tersebut, membuat sebuah ide brilian tercetus dalam kepalanya, yang langsung diucapkan. “Tunggu sebentar ... karena ini demi pembuktian ... aku ingin kau untuk bersembunyi di sekitar kolam bunga teratai ini saja ... tidak boleh ke mana pun, tidak boleh ke alam lain, atau ke mana pun ... khusus di tempat ini saja!”


Tuntutan yang terdengar sulit itu justru ditanggapi lelaki itu dengan santai, tanpa senyuman, hanya mengangguk lagi sepakat.


Dengan tuntutan itu, Nurvati menutup setiap celah kemenangan lelaki itu, sehingga dirinya sangat yakin kalau sosok itu pada akhirnya nanti pasti kalah.


Mulailah lelaki itu memudar, lantas hilang dari pandangan mata, pergi untuk bersembunyi dan permainan pun dimulai.


Dan dengan berkacak pinggang merasa kalau dirinya akan menang, Nurvati mulai memandangi setiap sudut area kolam bunga teratai ini. Tanahnya, airnya, bebatuannya, kerikil, udara, bambu-bambu hingga dedaunan yang ada, semuanya telah ditilik baik-baik.


Kendati faktanya tak ada lelaki itu. Sehingga Nurvati menggunakan ilmu keilahian buminya, dia menerawang seluruh tempat ini dengan ilmu. Dari atas hingga ke dasar tanah, dari luar dan dalam, semua diselidiki senti demi senti.


Tidak menyerah! Nurvati kembali lagi mencari dan terus mencari. Bagaimana pun mustahil lelaki itu bisa bersembunyi di tempat yang sempit ini, kecuali kalau bermain curang.


Hingga waktu yang terbuang cukup banyak, yang dari menit ke menit hanya menghasilkan nihil, membuat Nurvati mulai menyerah, toh dirinya masih bisa mencari bukti lain.


Maka Nurvati dengan menyimpan rencana lainnya pun bicara, “Hei kau ... ini sudah berakhir, tunjukkanlah keberadaanmu ....”


Secara tiba-tiba, Nurvati pun dikejutkan oleh suara lelaki itu. “Nurvati ... buatlah cermin dan pandanglah matamu lekat-lekat ....”


Jelas, Nurvati memanifestasikan sebuh cermin yang digenggamnya, dan karena silau cahaya ilmu di wajahnya, selaput matanya pun digunakan seraya bercermin, menatap wajah bercahayanya yang langsung memandang matanya lekat-lekat, menyelia netranya sendiri. Akan tetapi bukan itu yang menarik!


Justru, betapa terkejutnya ia kala melihat tepat di bulu matanya, telah berdiri sesosok lelaki tadi dengan membentangkan ke dua sayapnya, dia berdiri di antara bulu mata dan alis Nurvati, menunjukkan keberadaannya.


Secara refleks Nurvati menghancurkan cerminnya, mundur selangkah karena terkejut. “Sialan ....”


Dan sesosok lelaki itu muncul kembali di hadapan Nurvati, berdiri dalam jarak 7 meteran, menatap tajam pada Nurvati, tanpa senyuman, dengan ekspresinya yang menyimpan makna serta rahasia. Dia berujar, “Padahal aku sangat dekat ... sampai kamu tidak sadar aku sangat dekat ....”


Tapi sayangnya, Nurvati tidak puas, dia masih meragukan identitas lelaki di depannya ini, hingga rencana yang ke dua pun mulai bersiap direalisasikan.


Tangan kanannya diangkat sejajar dengan wajah lelaki itu, telapak tangannya pun diarahkan tepat pada kening lelaki itu. Ini mungkin bisa menjadi bukti, kalau lelaki di depannya adalah penyihir.


Lantas, laser nuansa hijau dilesatkan menuju kening pria itu, berharap dia mati dan menanggung malu. Karena bagaimana pun, tak mungkin Malaikat Abriel turun di sini.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)