
Selepas hari berlalu, pada siang hari yang cerah.
Berita perihal Ratu Arenda menunjukkan kesetiaannya tersebar luas. Sang ratu bangsa Barat itu rela membiarkan tangan kanannya buntung selama sisa hidupnya.
Sementara perihal adanya gosip mengenai perselingkuhannya, telah ditutup oleh pembuktiannya itu dan warga tak boleh membicarakannya lagi.
Hiri sebagai istri dari Apan, kini tetap pada hunian ke banggaannya di hutan rawa-rawa. Dia mengetahui pula berita tersebut dari cermin pintar. Lebih-lebih tahu jika suaminya dituduh berselingkuh. Namun demikian, dirinya hanya cemas perihal keadaan suaminya. Lagi pula Hiri memang telah tahu kalau mereka bersahabat.
Kemarin malam sidang kemiliteran sihir telah direalisasikan bagi Apan. Hasilnya adalah Apan tidak bersalah dan keadilan berhasil Apan dapatkan. Dirinya terbebas dari segala tuduhan. Toh memang Apan serta Ratu Arenda adalah sahabat.
Untuk itulah hidup normal dan lega bisa mereka dapatkan kembali. Apan pun kembali pada liburan bersama istrinya, sementara Ratu Arenda kembali pada kegiatan agendanya.
Kejadian yang cukup menegangkan itu tak terlalu diperpanjang, selain memang ditakutkan adanya kekeliruan dan penghukuman hanya gegara bergosip, tak penting juga membicarakan keluarga kerajaan yang mulai otoriter.
Terlepas dari kejadian sentimental itu. Bila kembali ditarik ingatan masa lampau kala Raja Azer tengah bertapa dalam kultivasinya. Dirinya sempat meminta klan Mared untuk membuatkan istana megah demi hadiah kecintaan Raja Azer pada istrinya; Ratu Arenda.
Tempo yang telah cukup lama dalam penantian dan pembuatan istana tersebut faktanya sudah rampung 500 tahun yang lalu.
Raja Azer memang berubah, dari pria yang dulu banyak bercerita dan humoris menjadi pria yang tegas dan katakanlah; berwibawa.
Kesetiaan, satu kata itulah yang menjadi alasan kuat untuk Raja Azer rela menghadiahi istrinya sebuah istana megah di atas laut. Istana itu adalah simbolnya.
Untuk itulah hari ini, di waktu yang bagi Raja Azer tepat. Dirinya membawa istrinya untuk melihat sekaligus menerima hadiah tersebut.
Mereka bahkan telah berada di atas air memandangi istana megah dan berteknologi canggih tersebut. Busana formal kerajaan pun tetap melekat elegan di tubuh mereka.
“Tak ada yang dapat melihat keindahan istana tersebut, kecuali kita dan keturunan kita ...,” ucap Raja Azer yang terbang di samping kanan istrinya. Membeberkan satu rahasia penting.
Ratu Arenda cukup interesan pada bangunan megah nan unik di depannya. Terlihat dari sorot netra birunya yang nampak berbinar kagum.
“Istana itu tak memiliki pintu, model istana akan nampak berubah bila ditilik dari setiap empat penjuru mata angin, interior dan ornamen dalam istana dapat berubah bentuk setiap musim di sini berganti, suhu dan aroma akan berubah sesuai perasaan ... dan semua itu ... saya persembahkan untuk ratuku ...,” tutur Raja Azer blak-blakan penuh bangga.
Raja Azer kemudian mengepak sayap, mengajak Ratu Arenda segera masuk ke dalam istana.
Mereka terbang, terutama Ratu Arenda yang semeringah memandang istana di atas air itu dalam kekaguman. Tapi belum mengembangkan senyuman.
Istana yang gemerlap, penuh dengan kilauan bebatuan mulia dan berteknologi mutakhir.
Mereka hanya perlu menyentuh dinding, maka mereka dapat masuk ke dalam istana dengan menembusnya.
Di halaman istana, mereka di hadapkan oleh rerumputan nuansa kuning lemon, tentu saja rerumputan ini tak seperti biasanya; bergoyang-goyang seperti api, lalu berganti-ganti warna. Bunga-bunga pun menampakkan kecantikan bentuk dan coraknya.
Terlihat megah, tapi cukup berlebihan juga, sangat menarik dan baru, tetapi ras Peri memang menyukainya.
“Apakah ini ... tidak masalah, sayang ... maksud saya, adalah mengapa membuat istana di sini ... sedangkan bangsa kita berbeda tempat?” heran Ratu Arenda dengan mendarat di rerumputan nan halus dan sejuk.
Raja Azer mengangguk paham. “Ahh ... jadi demikian respons Anda melihat istana ini ....”
Lantas Raja Azer terbang lebih ke depan, berusaha agar posisinya berada di hadapan mata sang istri. Menghadapnya. “Saya tahu ... kalau Anda suka kesendirian ... sesuatu hal yang damai ... dan lagi ... istana ini adalah bukti, kalau pun saya berubah ... saya selalu memerhatikan Anda ....”
Tak butuh waktu lama. Mereka melanjutkan untuk masuk ke dalam aula utama istana.
Dengan menggunakan sebuah alat teleportasi, berbentuk gelembung udara. Dideteksi, kemudian berpindah tempat.
Tempat ini memiliki hawa yang begitu bergelora, membuncahkan semangat hidup. Tapi belum cukup menggugah bibir tipis Ratu Arenda untuk senyuman bahagia.
Seluruhnya nampak hidup, lantainya yang memperlihatkan kehidupan biota laut, atau dindingnya yang menampilkan alam jagat raya, atau mungkin langit-langitnya yang dipenuhi bunga-bunga dengan serbuk bunga yang berkilauan, laksana kerlip bintang yang berjatuhan. Terlalu klasik bagi ras Peri sendiri.
Di sini mereka dapat berteleportasi pada posisi yang diinginkan, mereka juga dapat mengubah ornamen hingga gaya istana dengan kekuatan imajiner; pikiran. Sebab Istana ini telah dirancang sedinamis mungkin, hingga frekuensi pikiran atau inteligensi dapat terkontak pada sistem robotik dalam aula utama istana ini. Namun hanya mereka dan keturunan mereka yang mampu menggunakannya.
“Anda belum melihat keajaibannya!” seru Raja Azer yang berdiri di atas naga bersisik batu Ruby. Tepat di langit-langit aula.
Maka dengan kekuatan pikiran yang telah terkoneksi pada aula istana nan megah ini. Segala bentuk-bentuk ornamen hingga pilar-pilar melengkungan gaya yang berbeda.
Dimensi pun nampak dimanfaatkan, Raja Azer yang jauh nampak terlihat dekat, aura, hawa dan aroma berubah, warna-warna berubah. Diantara warna-warna ini beberapa warna tidak terdapat di alam Manusia dan beberapa bentuk ornamen cukup unik dan aneh, baru pertama kalinya dilihat oleh mata Ratu Arenda.
Model aula utama istana kali ini nampak jauh lebih elegan di mata ras Peri.
Netra pada ras Peri pun memang dapat menangkap seratus miliar warna yang berbeda.
“Semuanya nampak mudah dibentuk, mudah berubah ...,” komentar Ratu Arenda dengan nada rendah, tapi tetap dalam kagum.
”Iya ... ini semua terbuat dari air, jadi mudah berubah ...,“ sahut Raja Azer yang nampak berdiri di hadapan Ratu Arenda dalam jarak satu meter; sebatas permainan dimensi dan sudut pandang.
”Siapa yang membuat ini ...?“ tanya Ratu Arenda. Cukup penasaran mengenai sang arsitek.
”Secara kebetulan yang disengaja ... klan Mared dari ras Maan ...,“ jawab Raja Azer dengan santai.
Sontak kenyataan itu sedikit mengejutkan Ratu Arenda. Karena sepengetahuannya, ras Maan termasuk musuh dan tidak sekali pun suaminya membicarakan adanya klan yang dekat dengannya.
”Loh ... jadi ... Anda masih menyembunyikan rahasia lain dari saya?“ sindir Ratu Arenda dengan kalem.
”Tidak ... itu bukan rahasia ... itu hanya sebatas fakta ... yang terungkap kalau sudah waktunya,“ jawab Raja Azer terkesan berkelir.
Selepasnya, Ratu Arenda dibawa pada ruangan-ruangan unik lainnya. Ruangan yang pada faktanya sangat berbeda dari ruangan yang ada dalam ras Peri.
Ruangan yang seolah masuk ke dalam lautan hingga ruangan yang seakan-akan masuk ke dalam negeri Udara. Atau dengan kata lain, ruangan-ruangan unik dan aneh yang jarang dan belum pernah Ratu Arenda lihat.
Sampai pada akhirnya, mereka berada di puncak menara istana. Menatap keindahan istana dari ketinggian.
Mereka berdiri di depan pagar pembatas.
Kendati semua keindahan, segenap keunikan, atau segala unsur pemacu kebahagiaan telah disuguhkan pada sang ratu bangsa Barat. Faktanya itu masih belum mampu menimbulkan senyuman di wajah manis Ratu Arenda. Tetap terlihat tenang dan santai.
Sadar akan hal itu, Raja Azer yang keheranan jelas mencetuskan kalimat tanya. ”Ratuku ... mengapa sedari tadi saya tak melihat senyuman senang, atau semacamnya? Apakah Anda tidak bahagia? Atau ini semua sangat buruk?“
”Katakan saja ... kalau memang tidak menyukainya ... saya siap untuk menghancurkan tempat ini.“