Nurvati

Nurvati
Episode 102: Terangnya Cinta Yang Menghindari Makna Derita.



Di malam hari yang dingin dengan gugusan bintang yang menbentuk langit bernuansa violet nan kemerahan.


Waktu di negeri Barat telah sampai di malam hari, saat di mana waktunya makan malam bersama keluarga.


Dalam ruang makan yang megah nan mewah, dengan bertatahkan permata ungu serta lampu dari pendaran batu kristal. Lantai yang pastinya dari batu berlian, begitu pula dinding yang berkilau dari batu zamrud, sudut ruangan yang nampak elegan dengan patung naga dari batu berlian dan langit-langit ruangan yang ditinggikan nampak menawan.


Pangeran Azer serta istrinya Arenda dengan balutan pakaian kerajaannya tengah menikmati makan malam berdua, atau bisa juga dikatakan berempat bila dijumlah oleh kehadiran 2 orang pelayan. Tidak begitu romantis, tapi tetap terlihat elegan, anehnya suasana justru lebih menjurus pada keromantisan.


Pelayan wanita yang selalu siap dalam masalah apa pun terutama dapur, telah berdiri tegap di samping kanan Pangeran Azer serta berdiri pula di samping kanan Arenda.


Meja makan yang kecil berbentuk segi delapan dan terbuat dari emas serta batuan permata. Calon raja dan calon ratu bangsa Barat itu duduk saling berhadapan.


Malam ini adalah ke dua kalinya mereka makan bersama setelah pesta pernikahan usai. Ironi memang, apalagi seperti Pangeran Azer dan Arenda sebagai pasangan yang baru menikah yang seharusnya bisa berdua dalam lingkup kemesraan, justru itu sama sekali tak terjadi, yang untungnya Arenda santai dalam menghadapi masalah ini, dirinya paham betul kalau sekarang masih dalam suasana perang. Sedangkan bagi Pangeran Azer, masa bodoh dengan kemesraan atau sejenisnya.


Dalam diri Arenda sang wanita beriris biru laut nan sayu, sang wanita tegas yang lebih menyukai pria humoris ketimbang romantis, terdapat perasaan jengkel yang berbalut dalam perasaan memaklumi.


Jengkel karena mulai dari kebersamaannya dengan Pangeran Azer hingga menikah, fakta bahwasanya Pangeran Azer lebih mementingkan perang membuat Arenda seperti tak dipedulikan. Dan memaklumi karena suaminya kini akan menjadi pemimpin bangsa besar yang kemungkinannya sering bepergian.


Sedangkan dalam diri Pangeran Azer hanya perasaan menggebu-gebu yang memuncak di jiwanya, tentunya, bukan karena menikahi anak seorang menteri, perasaannya yang menggebu dikarenakan hasrat dan ambisinya pada perang dunia ke-18 ini. Dia ingin menang dan hanya ingin selalu mendengar kemenangan.


Makanan hanya tersaji sup buah, yang dengan menghirup pada sup buah tersebut, Arenda wanita berambut hitam panjang menyerap sari pati sup buah itu.


Tapi tidak bagi Pangeran Azer.


Laki-laki bedegap dengan rambut hitam klimis itu terlalu fokus pada 'jam pintar hologramnya' yang mampu mengirim perintah jarak jauh dan sebagainya, jam yang cukup canggih sampai-sampai mampu mengetahui perasaan sang pemakainya.


“Siapkan seluruh kartu yang banyak, campur dengan pasukan robotik ... itu strateginya!” kata Pangeran Azer yang memandang wajah panglima perang dari pancaran hologram jam tangan emasnya.


“Kami harus menunggu pasokan energi terlebih dulu, pangeran,” jawab panglima perang.


“Tidak perlu, yang kita butuhkan adalah keberanian ...,” balas Pangeran Azer terdengar indah namun secara teori dirinya gegabah.


“Baiklah ... kami akan memaksimalkan segala yang ada.”


Sangat mengganggu benar-benar menggangu dalam makan malam jarang-jarang ini, Arenda padahal yang memasak ini semua hanya untuk suami tercintanya dan bahkan Pangeran Azer hanya baru meminum jus anggur yang tak lebih dari itu.


“Halo, Pak menteri ... saya harap segala pasukan robotik telah siap,” ucap Pangeran Azer yang berbicara dengan lain orang.


“Siap pangeran! Sebentar lagi akan selesai, mungkin 3 bulan lagi,” balas pria dewasa dalam wujud hologram yang memancar dari jam tangan Pangeran Azer.


“Oke bagus ... percepat jadi 1 bulan lagi, atau gaji Anda dipotong 99 persen,” ancam Pangeran Azer dengan mendesak.


“Ta-tapi ... tapi ... ba-baiklah pangeran ... kami akan mengusahakannya.”


Pembicaraan yang membuat tatapan Arenda begitu tajam pada wajah tampan suaminya. Terlebih dirinya langsung menghentikan kegiatan makannya.


“Pangeran Azer ... bisakah Anda memaksimal waktu bersama istrimu ini ...,” pinta Arenda dengan sungguh-sungguh dalam rasa jengkel menguasai dirinya, tetapi tetap sebagai wanita terhormat dirinya menampilkan kesan anggun; duduk tegak serta ke dua bahu sejajar.


Netra merah darah Pangeran Azer seketika beralih pada istrinya. Dirinya paham betul kalau istrinya kembali jengkel.


Tapi dengan santai, Pangeran Azer malah menampilkan senyuman simpul terbaiknya, tersenyum sebagai tanda menuruti istrinya, padahal tidak juga.


Pangeran Azer mematikan jam tangannya, dia tersenyum dengan memejamkan matanya pada istrinya, lantas mulai menyantap atau tepatnya menghirup sari pati beberapa hidangan yang tersaji.


Ada pandangan cinta dan kesal yang tersirat dalam raut muka Arenda, netra biru laut nan sayunya menatap lekat-lekat pada suaminya yang mulai menyantap hidangan buatannya, selepasnya barulah dia melanjutkan santapannya. Rasa jengkelnya mulai reda, dirinya masih bisa memaklumi sikap suaminya.


Sedangkan para pelayan tetap tegap seperti patung, pandangannya lurus dan tanpa ekspresi. Pakaian mereka bernuansa putih dengan emas; gaunnya para pelayan.


Pangeran Azer memang benar-benar seperti orang yang kelaparan, kewibawaannya malah terkesan hilang. Dia meraih satu mangkuk lalu menghirup sari pati makanan hanya dengan dua kali hisap, begitu pun dengan mangkuk-mangkuk emas lainnya, hirup buru-buru lalu mengambil hidangan berikutnya. Terlihat tak menikmati.


Sontak kenyataan itu mendesak rasa jengkel untuk eksis kembali, membentuk anggapan seolah makan malam hari ini, atau masakan Arenda terkesan tak dihargai.


“Suamiku ... Pangeran Azer ... mengapa begitu terburu-buru sekali?” tanya Arenda yang rasa jengkelnya kembali meningkat, tetapi sebagai wanita terhormat dirinya tetap menampilkan kesan anggun dan duduk tegap. Lebih-lebih nada suaranya dilembutkan demi mendapatkan perhatian dari sang suami.


Seketika itu juga Pangeran Azer menghentikan kegiatan makannya dan langsung memandang istri tercintanya. Konyolnya Pangeran Azer masih menyempatkan tersenyum simpul demi menegaskan semuanya baik-baik saja, padahal tidak begitu.


Sudah biasa sebenarnya Pangeran Azer acuh tak acuh pada Arenda, baik masa-masa berpacaran atau pun sekarang, tak ada bedanya.


“Ekhem ... ekhem.” Sempat berdeham Pangeran Azer dengan raut muka santai nan cueknya.


“Begini sayangku ... engkau pun tahu ... kalau sekarang tengah terjadi perang dunia ... ingat, perang dunia loh ... bukan perang-perangan ...,” papar Pangeran Azer dengan santai berusaha membuat istrinya nyaman.


Hanya sengap dengan muka tegas yang telukis pada Arenda.


“... kau tahu 'kan maksud suami tampanmu ini?” lanjut Pangeran Azer dengan mengangkat ke dua alis yang terkesan merayu, padahal hendak menundukkan istrinya.


“Iya ... aku paham,” jawab Arenda dengan tegas yang sebisa mungkin bersabar dan memaklumi suaminya. Cintanya yang besar membuatnya tak berdaya dengan keputusan keras kepala suaminya.


“Perang dunia ini adalah ... pembelotan kebenaran ... kalau kita ....” Perkataan Pangeran Azer dipotong.


“Iya ... Anda sering mengatakan itu, saya paham,” sela Arenda yang tak mau adanya konflik berumah tangga hanya gegara alasan 'kritikan cara makan malam'.


“Bagus ... istriku memang selalu pintar ...,” sanjung Pangeran Azer yang lagi-lagi kembali dengan kalimat lembutnya, sebuah kalimat untuk menundukkan sikap jengkel Arenda.


Lantas Pangeran Azer kembali bersantap buru-buru yang kesan wibawanya terasa hilang.


Kendati begitu, ke dua tangan Arenda yang menumpu di pahanya nampak mengepal erat, mau tidak mau hal ini ternyata memicu dilema yang besar dalam dirinya. Pernikahan dengan Pangeran Azer terkesan seperti tak terasa adanya hubungan suami istri, sikap manis pangeran hanya sebatas pembelaan terhadap keputusannya sendiri. Lebih dari itu, rencana bulan madunya telah diurungkan dan sudah pasti, alasannya adalah perang dunia ke-18 ini; Pangeran Azer ingin membela kebenaran.


Untung bagi Arenda, dirinya masih sabar dan selalu setia pada Pangeran Azer, walau sadar sikap masa bodoh suaminya tak pernah berubah, rasa cintanya yang selalu merekah mampu membuat apa pun yang dilakukan sang dambaan hati, selalu dapat dimaklumi.


---------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)