Nurvati

Nurvati
Episode 30: Kedamaian Membutuhkan Pengorbanan.



Dan ya, di sinilah taman Kupu-kupu berada, sebuah taman nan cantik di balik dinding-dinding istana Awan yang megah, beraroma Mawar dan bersih. Taman yang dipenuhi bunga-bunga Mawar yang tak lupa juga Kupu-kupu sebagai penghuni abadi tempat ini. Tamannya seluas setengah lapangan bola, di tengahnya terdapat air mancur, tepatnya, madu yang memancur tanpa dikerubungi semut, lengkap bersama 2 kursi panjang yang terbuat dari intan ikut menghiasi kolam pancuran madu itu.


Di salah satu kursi itu, Pangeran Awarta duduk tegap menikmati pemandangan taman sekitar. Sudah sepuluh menit dia terlarut dalam kedamaian taman, sampai suara seorang wanita terhormat menyingkap kesepian Pangeran.


”Maafkan aku, sudah membuatmu menunggu lama.“


Putri Kerisia yang anggun nan memesona melangkah mendekati Pangeran Awarta, penampilannya tetap sama cantiknya seperti dipertemuan awal, malah senyuman manis penuh kejahatan terlukis di wajahnya dan hanya sang Putri yang hadir. Mereka pun duduk bersanding memandang kolam madu.


Udara hangat di siang ini juga menghiasi suasana tentram, menutupi kebenaran yang tadi terjadi, perihal menyihir kedua orang tua Awarta. Mereka duduk menyisakan jarak satu meter dengan sayap yang dilipat, membiarkan diri tenggelam sejenak pada hawa taman Kupu-kupu ini.


”Jadi, apa yang tadi kamu bicarakan dengan orang tuaku?“ tanya Pangeran Awarta membuka pembicaraan dan terlihat tak tahu-menahu akan sihir sang Putri.


Pangeran Awarta pun masih berpenampilan seperti diawal pertemuan; jubah nuansa ungu yang bertatahkan permata ungu, celana hitam yang terbuat dari berlian 'Malam', di dada kiri jubahnya terdapat lambang klan 'Bulan Sabit', salah satu Peri bulan.


Sungguh, meski sang Putri telah melakukan kejahatan, tanpa malu dan takut, bibir tipisnya tetap melekukan senyuman tenang penuh percaya diri, bahkan berani menjawab, ”Ya, hanya kerja sama dalam perang dunia ini, untuk tetap menjaga kestabilan negara, tanpa neko neko mengirim pasukan lebih banyak ke medan perang.“


Tapi di sana, sudut bibir Pangeran Awarta malah tertarik membentuk senyuman penuh makna, dan dalam kewibawaannya dia berujar, “Kau pintar berdusta ya ... Putri Kerisia.”


Jelas, kalimat itu berhasil menampar kesadaran sang Putri, mengisyaratkan akan tahunya Pangeran Awarta perihal sihir yang dilakukan Putri. Entah apa memang benar-benar sudah tahu atau belum, tetapi Ini cukup bahaya. Namun demikian, meski jiwa sang Putri bergejolak murka, meski hatinya patah hati, lekuk senyum penuh ketenangan masih disandiwarakan tak lekang oleh kelelahan; masih ada secuil hatinya terbuka untuk menerima Pangeran Awarta.


“Maaf Pangeran, saya tidak tahu maksud Anda apa?” tanya Putri Kerisia pura-pura bodoh dan masih berusaha menarik interesan Pangeran.


Netra hitam sang Pangeran terfokus pada madu mancur di depannya yang berjarak sekitar 2 meter, sudut bibirnya semakin ditarik melukiskan senyum bermakna, dan tatapannya pun penuh rahasia.


Hingga tiba-tiba, tangan kanannya; telunjuknya. Menunjuk ke depan, ke seberang kolam madu. Akibatnya, netra merah lembayung Putri Kerisia terjatuh pada hal yang ditunjuk Pangeran.


Tepat di seberang kolam, dua sosok Peri dari langit turun ke taman Kupu-kupu, peri itu tiada lain dan tiada bukan adalah Raja dan Ratu negeri Selatan, setibanya mereka memijakan kaki di tanah, taman Kupu-kupu, tubuh mereka tiba-tiba bergetar hebat dengan cahayanya yang redup padam, sedetik setelah itu, secara mengejutkan, mereka pun hancur berkeping-keping, hancur pula bersama anak-anak Satan di dalam tubuh mereka, hancur menjadi butiran-butiran kilauan bak bintang-bintang di langit, kemudian hilang sehilang-hilangnya, laksana kejadian itu tak pernah ada.


Maka sirnalah senyuman palsu sang Putri, bergeminglah tubuhnya, hancur pula sandiwaranya oleh kebenaran itu, dan netranya berbuntang tak mengira. Dia sudah ketahuan.


Dan bersamaan dengan tangan Pangeran yang kembali diturunkan, Putri Kerisia pun berkomentar, “Ba-bagaimana bisa?”


Mula-mula keheranan sang Putri dibalas oleh senyuman tenang dari sang Pangeran, dan diujungnya, sang Pangeran pun menceritakan seluruh alasannya.


* * *


Sebelum ini semua terjadi, seminggu sebelum pertemuan ini. Di sebuah ruangan rahasia kerajaan negeri Selatan.


Ruangan yang memiliki luas 10x12 meter, ruangan kosong tanpa pintu; hanya ada pintu teleportasi. Ruangan yang di dalamnya hanya ada dua dipan singgasana Raja dan Ratu, ruangan yang terbuat dari batu merah delima, ruangan yang sumber penerangannya dari lampu gantung, yang nama ruangan tersebut adalah Ruangan Pertemuan Rahasia. Ruangan yang hanya dapat diakses oleh keluarga raja semata. Yang kini tengah diadakan pertemuan rahasia keluarga raja, yang hanya dihadiri oleh Raja, Ratu dan Putra Mahkota negeri Selatan; Pangeran Awarta.


“Ada apa putraku, pagi-pagi sekali kau mendesak kami melakukan pertemuan penting?” selidik ayahanda Pangeran Awarta yang duduk di atas dipan di samping kanan sang istri.


Pangeran Awarta telah berlutut dengan dua lututnya di depan orang tuanya, menyisakan jarak 2 meter, berlutut penuh hormat dan rasa segan pada mereka, seraya bicara, “Maafkan saya ayahanda, saya ingin membahas soal pertemuan keluarga kita dengan keluarga negeri Barat, yang mana alangkah baiknya ayahanda dan ibunda tetap di istana, dan biarkan saya saja yang datang.”


Meski kalimat itu disertai tatapan penuh hormat pada sang Raja, ayah Pangeran Awarta tak begitu paham, hingga sang ibunda pun bertanya, “Coba jelaskan, jangan bertele-tele.”


“Pertemuan itu hanya akan membahas perjodohan Putri dengan saya, bukan pertemuan membahas perang. Putri sendiri yang bicara begitu, dan saya telah melihat adanya kejahatan pada jiwa Putri Kerisia, apalagi jika saya menolak permintaan Putri, itu akan memicu konflik dengan negeri Barat.”


Penjelasan yang sebisa mungkin secara retorika dan tidak tendensius itu hanya ditanggapi dengan kebingungan oleh sang Raja, hingga mengusut, “Bagaimana kamu tahu kalau di dalam jiwanya ada kejahatan? Dan bagaimana bisa penolakan itu memicu konflik?”


“Mengapa kamu tidak menerimanya saja?” tanya sang ibunda.


“Tunggu sebentar! Bagaimana bisa kamu melihat diri esensi seseorang, sedangkan kami melihat kamu adalah anak kami yang tak belajar ilmu Hikmah, tubuhmu saja tak bercahaya?” timpal sang ayahanda.


Maka dengan rasa takzim dan penuh hormat, iris hitam Pangeran Awarta ditundukan, lalu menjawab, “Maafkan saya ayahanda, saya tak tertarik pada ilmu Hikmah, maafkan saya, tanpa sepengetahuan ayahanda dan ibunda, saya telah mempelajari ilmu 'Pengenalan Diri', sehingga wajah saya tak diliputi cahaya, tetapi demikian, saya telah mengetahui diri saya sepenuhnya dan telah mengetahui beberapa rahasia dalam alam ini.”


Suasana sempat hening sejenak, kedua orang tua Pangeran Awarta menelaah baik-baik ucapan putranya. Dan meski kebenaran itu baru diketahui, tak sedikit pun orang tuanya marah, justru mereka bangga pada Putranya, karena bagaimana pun, putra mereka memiliki pendirian dan menerima takdirnya sendiri.


“Dan dari pengenalan itu, sebenarnya saya telah bermimpi melihat sang Penyelamat yang digadang-gadang dari kaum wanita, malaikat bersayap satu itu telah lahir, dan saya telah berikrar pada diri sendiri, untuk siap menjadi pelayannya, menjadi kaki tangannya, dan tak akan mencintai siapa pun kecuali sang Penyelamat itu, sehingga tak mungkin saya memilih Putri Kerisia ....”


“... akan tetapi, bila begitu, sang Putri ditakutkannya dengan penolakan itu bisa memicu kebencian dan kebencian menciptakan perang, sedangkan kita tengah dalam kemelut perang dunia, jadi tak lucu jika kita berpecah belah hanya karena cinta ditolak.”


Pemaparan yang diskursif dari Pangeran Awarta ditanggapi dengan baik oleh kedua orang tuanya.


“Jadi maksudmu, kamu ingin datang ke sana untuk berpura-pura menerima cinta Putri Kerisia?” usut sang ibunda dalam suara lembutnya.


”Saya akan meminta pengawal setia saya untuk menyamar menjadi ayahanda dan ibunda, lalu datang ke sana dan menerima takdir apapun dari Putri Kerisia, akan saya usahakan agar tidak terjadi perpecahan dengan negeri Barat.“


”Sesungguhnya, masalah ini bisa menjadi rumit, pangeran,“ komentar sang ayahanda dengan suaranya yang dalam nan berwibawa.


”Jika seperti itu, masalah ini bisa memicu kestabilan dalam negeri, dan bukankah kita bisa merundingkan bersama Raja dan Ratu negeri Barat?“ imbuh ayahanda mencari jalan keluar lain.


“Maafkan saya ayahanda dan ibunda, pertanyaan ayahanda dan ibunda tak bisa dijawab oleh kata-kata saat ini, tetapi nanti dijawab oleh kejadian di masa depan,” ungkap Pangeran Awarta masih menundukan pandangannya.


“Apa jangan-jangan kamu sudah melihat masa depan?” selidik sang ibunda.


“Maafkan saya ibunda, saya tak bermaksud mendahului ibunda, sekali lagi mohon maaf, pertanyaan ayahanda dan ibunda hanya mampu dijawab oleh kejadian atau pengalaman di masa depan dan tak sanggup dijawab oleh kata-kata pada hari ini,” balas Pangeran Awarta dengan tertunduk penuh hormat dan segan.


Kembalilah mereka sengap, termangu dalam alam pikir, memikirkan seluruh penjelasan putra mereka. Hingga sampailah waktu pada sepuluh detik, dan sang Raja negeri Selatan dalam suara berwibawanya, bicara, “Kalau begitu, tunjukanlah pada kami diri sejatimu, agar kami bisa menjadi yakin padamu, anakku.“


Tanpa ragu, Pangeran Awarta pun menatap kedua orang tuanya, dan dengan lantang sang Pangeran Awarta berkata, ”Lihatlah ke dalam mataku.“


Maka pada akhirnya, kala semua telah direncanakan dengan matang dan baik, ketika orang tuanya telah dicerahkan, sang Pangeran Awarta, pergi bersama Pengawal setianya yang disamarkan diri mereka oleh Pangeran menjadi orang tuanya. Bahkan kepergian mereka telah mendapat restu dari Raja dan Ratu negeri Selatan. Dalam harapan kedamaian bagi negeri dan putra mereka, rencana pun dilaksanakan.


* * * * *


Dan detik ini, disaat ini juga, setelah kebenaran itu diketahui oleh Putri Kerisia, setelah cerita berakhir, mereka —Pangeran Awarta dan Putri Kerisia— yang masih duduk di kursi taman, mulai merasakan hawa yang berubah, berubah menjadi ketegangan, karena rahasia telah terkuak dan membimbing hati pada kelesah.


Sang Putri Kerisia yang semula tersenyum, kini tertunduk dalam sengap, lenyap pula senyum palsunya, tetapi gejolak batin telah berkantaran menuntut pelampiasan; menuntut keadilan. Keadilan, karena rasa sakit selalu dan selalu menggugat keadilan.


”Nah ... Putri, saya datang hanya untuk meminta Anda agar tidak memicu konflik di antara bangsa Selatan dan bangsa Barat hanya gegara saya menolak menikahi Anda, karena sebenarnya, kita tetap saudara satu ras,“ tutur Pangeran Awarta dengan sungguh-sungguh sambil menoleh ke kiri memandang penuh harap pada Putri Kerisia.


”Aku kira, keadilan sudah aku dapatkan, aku kira, dengan menjadi anak seorang penguasa, semuanya bisa aku miliki, aku kira ....“ Ungkapan perasaannya dijeda karena berat untuk dibeberkan ke permukaan. Dia hanya ingin Pangeran dapat mengerti.


Hanya saja, Pangeran pun ingin Putri Kerisia mengerti.


Seorang wanita yang baru pertama kali cintanya malah menimbulkan patah hati, dan seorang pria yang mengandalkan mimpinya demi menjadi pelayan sang 'Penyelamat'. Maka akibatnya, kejadian ini menjadi konflik batin di antara mereka.