Nurvati

Nurvati
Episode 61: Kenyataan Pahit Tak Dapat Diubah.



* * *


Kembali pada kolam bunga Teratai, hutan bambu ungu, bersama hari yang mulai mendung, bersama semilir angin yang semakin kencang, cerita kehidupan Falas telah berakhir, kini kembali pada waktu yang seharusnya.


Suasana telah berbeda, hawa mulai dingin, hari agak gelap karena gumpalan-gumpalan awan yang menghalangi sinar baskara.


Falas masih betah duduk bersila dengan bersedekap tangan, duduk di atas batu tengah-tengah kolam. Begitu pula dengan Nurvati yang betah berdiri tegak menghadap Falas di pinggir kolam. Mereka masih saling memandang, masih dalam harapannya masing-masing.


Setelah seluruh cerita memilukan itu dicerna baik-baik oleh Nurvati, dirinya berdiri mematung dalam rasa prihatin. Atau setelah Falas menceritakan kehidupannya, semoga Nurvati paham.


Mereka malah sengap dalam senyap, terlarut dalam suasana damai di tempat ini, terbawa perasaan pada pengalaman menyedihkan Falas.


“Jadi ... aku harap kamu paham maksudku,” kata Falas, enggan membuat Nurvati salah memahami maksud tujuan cerita hidup Falas. Yang bermaksud bahwasanya, agar Nurvati mampu memiliki asa untuk tetap hidup.


“Iya ... aku turut berduka ...,” balas Nurvati, yang dalam persepsinya Falas bercerita agar dia bisa menyampaikan unek-uneknya kalau dia juga punya hidup yang berat.


Di sana, bibir tipis Falas sempat mengembangkan senyuman damai, pandangan pada Nurvati pun begitu teduh, lantas berujar, “Nurvati, aku menceritakan hidupku bukan untuk dikasihani ... aku menceritakannya padamu, karena aku bermaksud untuk menyemangatimu dalam hidup, aku punya tujuan dan tujuannya itu seperti yang dikatakan ibuku ... 'kuatkan mental mereka untuk menerjang hidup atau buat hidup mereka jauh lebih bermakna' ....”


Termangu Nurvari di tempatnya, mendengar kalimat mengandung lakonisme itu memunculkan konklusi penting, Falas bukan hanya sekadar mengungkap unek-uneknya, lebih dari itu, dia mengungkap rahasia dan tujuan kehadirannya selama ini.


“Kau ... kau ... ternyata ... memang benar, kau punya tujuan sendiri ...,” ucap Nurvati terbata-bata, karena tak kuasa menahan kenyataan yang ternyata bertolak belakang dengan harapannya.


Tak ada penyangkalan dari mulut Falas, justru dia berani bicara, “Iya ... aku ingin menemanimu sampai berkembang, kuat, mandiri, dan ... apalagi ya ...?”


“Jadi selama ini ... kau menipuku?” singgung Nurvati mulai emosi. Emosi marah karena itu artinya pertemanan Falas tak tulus.


“Waduh, tidak begitu juga ...,” sanggah Falas.


“... aku menganggapmu sebagai teman, ya, hanya sebatas teman dan sekarang kau sudah hebat ... aku turut senang ...,” imbuhnya tanpa tahu apa yang terjadi dalam gejolak psikologis wanita yang baru dewasa itu, atau tepatnya, tidak mau ambil pusing.


Nurvati tertunduk, dia merasakan ada perasaan yang berbeda dalam dirinya, entah mengapa perasaan ini begitu menggebu-gebu, atau terasa hangat, tapi tak dapat ia jabarkan apa yang sebenarnya terjadi.


“Nurvati, aku punya cita-cita ingin menjadi Malaikat, melanjutkan harapan ibuku, lalu aku mengajakmu, menguatkan mentalmu, supaya engkau bisa ikut bersamaku pada alam Malaikat, agar dengan begitu, tak perlu lagi kita tenggelam dalam dualisme kehidupan, benci atau cinta, perang atau damai ...,” papar Falas.


”Tapi aku ingin ... kita tetap hidup bersama, menikmati hari-hari selanjutnya,“ sangka Nurvati tertunduk dengan mengepal tangan, terkesiap akan kembali menanggung luka.


”Maafkan aku, Nurvati ... bukankah niat awal kita bergabung dalam akademi adalah untuk menjadi malaikat? Lalu mengapa kamu berpaling? Atau kamu mengira aku akan gagal menjadi sesosok malaikat, sehingga kamu memiliki ilmu kedigdayaan supaya kamu bisa melindungiku, begitu?“ sindir Falas yang lalu tersenyum tenang memandang dengan santai pada Nurvati.


Nurvati sengap, sebab anggapan Falas memang benar adanya, semuanya diniatkan untuk balas budi pada Falas, melindunginya dan hidup bersamanya.


Wajah Falas kini menengadah pada langit yang terhalang awan kelabu, di sana menggelegar dan bergemuruh, seolah hujan akan turun deras.


Falas kembali menghadapkan wajahnya pada Nurvati, memandangnya penuh iba, kemudian menjawab, ”Awalnya iya, tetapi bila pun gagal, setidaknya aku bisa menguatkan mentalmu, selalu bersamamu agar memberi makna dalam hidupmu, sehingga bisa terkilan di hatimu, dan memberi asa padamu supaya tetap kamu mau terus melanjutkan hidup.“


Nurvati sengap, menyerap baik-baik perkataan Falas, yang artinya Falas akan pergi dan ini adalah waktu perpisahan. Maka segenap perasaan yang mulanya terasa indah, kini perlahan mulai menyakiti dan perasaan itu pun memunculkan kekecewaan.


“Apa kau punya cita-cita, Nurvati?” tanya Falas dengan suaranya yang terdengar renyah.


“Tidak ... aku tidak butuh cita-cita ... hidupku sudah cukup berarti,” ketus Nurvati dalam kecewa.


Harapan, ambisi, hasrat yang saat itu menguatkan hidup Nurvati, kini terangkum dalam kekecewaan. Jiwa mudanya, perasaan uniknya, pandangan kagumnya, penantian indahnya, segalanya telah dijawab, oleh sebuah fakta, yaitu sia-sia. Semuanya percuma.


“Waaaah ... baguslah ... aku bangga padamu Nurvati, kau sudah terlihat kuat, mungkin kau lebih hebat dariku ...,” sanjung Falas tanpa tahu perasaan sebenarnya dalam diri Nurvati.


Angin bersiur kencang, udara semakin dingin, mula-mula perasaan berbunga-bunga itu merebak pekat, membentuk jiwanya nampak segar dan terkesan kalau semua akan berakhir baik-baik saja, namun ketika kenyataan tak sesuai ekspektasi, saat tahu bahwa apa yang diharapkannya tak terjadi, jiwa muda dari seorang wanita yang gengsi ditolak, mulai menunjukkan keengganannya ditolak.


“Sekarang kau sudah berkembang, tanpa aku ... kau bisa bertahan hidup ...,” kata Falas dengan kalem.


Ingin rasanya mengungkapkan perasaan yang dialami dirinya, tetapi entah Nurvati pun bingung harus memulainya dari mana, gengsi pun menyekat mulut untuk bicara, berdiam diri nampak lebih mampu mengungkapkan perasaan yang tengah dialaminya, sulit berucap, berharap Falas memahaminya dengan hati secara langsung.


Perasaan itu, sesuatu yang ingin disambut dengan baik, atau bila tidak, ada dua hal yang bisa saja mengekang dirinya, antara murka, atau putus asa.


“Sebentar lagi ... aku akan memudar dan menjadi malaikat,” beber Falas, masih tak tahu perasaan yang kini dialami wanita dewasa di depannya itu.


“Apakah, jika kau menjadi malaikat, masih mengenalku?” tanya Nurvati memastikan, dengan tetap tumungkul dalam kecewa.


Mulanya Falas terkekeh. “Hehehehe ....”


“... ya Nurvati, ketika seseorang sampai pada taraf diri malaikat, dia akan berevolusi menjadi malaikat, terlahir dari cahaya, yaitu ilmu, sifat, pikir, hidup dan alamnya akan pada alam Malaikat, tak lagi mengenal orang-orang yang dulu bersamanya, di dalam diri malaikat itu hanya ada hukum, mengikuti atau mengagungkan segala makhluk-makhluk-Nya ... aku rasa dulu sudah dijelaskan,” jelasnya.


“Kenapa semuanya terasa seperti omong kosong ...,” keluh Nurvati.


“Eh? Apa maksudmu, Nurvati?” heran Falas.


Hanya bergeming Nurvati, enggan menjawab ketidaktahuan Falas.


“Ayolah ... bergembiralah ... sebab aku akan menjadi malaikat ... ayahku ... seluruh sanak saudaraku berbahagia ... dan aku ingin kau ikut berbahagia ... sebab temanmu ini akan menjadi seorang malaikat!” seru Falas begitu semangat dan bergairah, bonusnya bahagia.


Tapi kebahagiaan itu tak seperti yang diperkirakan Nurvati, Nurvati tak bahagia melihat perpisahan ini. Ada keinginan untuk hidup bersama, dan keinginan itu berkat sebuah emosi, sisi kejiwaan yang sering masyarakat sebut sebagai, perasaan sayang. Walau tahu Falas memiliki tujuan sendiri, sayangnya Nurvati juga paham, bahwa semua sudah terlanjur terikat; terlanjur sayang jika harus pisah.