
Suasana kembali mengalunkan aura kematian, hasrat kelam siluman untuk menggiring jiwa-jiwa di sini semakin haus, dirinya yang baru lagi, telah semakin mempelajari serangan lawannya dan pikiran suramnya untuk menyantap mereka semakin benderang menerangi.
Haro yang berwajah agak tampan walau tak setampan bidadara surgawi, dia mulai menyunggingkan senyuman senang. Dia punya mimpi, impian yang membentuk jiwa terkutuknya, dan agar nanti matinya bisa mengalunkan ayat-ayat kematian, dia mesti menunjukkan beberapa ayat kematian lain pada rekan-rekannya.
Ke dua tangannya kini memancarkan energi hijau, dirinya paham kalau selama bernaung dalam kebersamaan rekannya hanya menjadi beban pikiran saja, kali ini, akan ia tunjukkan bahwa tangannya memiliki aura malaikat maut yang mampu menyanjung cahaya kematian.
Maka melesat cepatlah Haro pada siluman raksasa itu, bahkan dengan penuh gairah semangat untuk membunuh mulai sesuram gelap malam bersama mimpi indahnya yang mengiringi pujian untuk senyuman siksaan.
“HIYAAAAAAAAAAAT ...!” teriak Haro dengan tatapan sang pencabut nyawa.
Sadar akan bahaya, dengan kekuatan barunya, sang siluman pun mulai menoleh ke kiri seraya menganga bersiap menyorotkan laser.
Ayat-ayat kematian pun dilantunkan oleh Haro, mulutnya komat-kamit dan seketika itu juga energi hijaunya mulai berubah. Bernuansa abu-abu yang lantas menyelimuti tubuhnya, dan sekejap mata Haro berubah wujud; kedua sayap nuansa hitam dua kali lipat lebih lebar yang berbau bangkai, kulitnya abu-abu pucat, netranya hitam sehitam kelam mimpi kesesatan, di kedua bahunya mencuat tanduk sehitam arang, mulutnya lenyap menyatu menjadi kulit, di kedua lubang hidungnya mengucurkan darah kehitaman, kukunya menjadi akar cambuk nuansa hitam, tubuhnya berotot, jubahnya berubah menjadi jubah hitam yang terbentuk dari darah hitam menetes yang setiap tetesannya menjadi api, rambutnya membara api putih kemalaikatan Satu, lubang telinganya mengucurkan darah nuansa hitam. Mencemari udara oleh aura keputusasaan, membentuk suasana seolah mencekam.
Level Penyihir Haro kini meningkat; Langit 8 terbuka. Kemampuan; segala ayat-ayat suci mampu diubah untuk menyesatkan jiwa.
Ayat pertama dalam kitab Manunggaling Ablaez dirapal, “Dengan nama-Nya yang melaknat dan hobi menyiksa, kukorbankan sifatku dalam kemanunggalan laknat-Mu.”
Sang siluman yang hendak menyerang dengan mulutnya mulai mengurungkan niatnya. Matanya buta dan telah buta pula jiwanya.
“GHRRROOOAAAAAR ...!”
Hingga berteriak karena kasih-Nya mulai terasa suram.
Dan hal itu langsung menghentikan kegiatan konyol Logia yang mengejar-ngejar Arkta, karena bagaimana pun, sudah sampai aura kelam kematian pada jiwa mereka, melenyapkan marah dan mulai membentuk rasa takut. Maka terbang menghadap siluman adalah yang mereka perbuat.
Bahkan raut muka datar Putri Kerisia mendadak beralih pada raut muka serius dengan mengernyit kening keheranan.
“Itu ... sihir terlarang dari para penyihir, dia menggunakan ayat-ayat dalam kitab Manunggaling Ablaez. Jika kelewat batas, selain dia bisa membunuh kita, dia bisa membentuk lubang hitam yang nantinya melenyapkan planet-planet,” papar Arkta dengan raut serius berbalur jiwa yang ketakutan.
“Bodoh! Si Haro kenapa harus segegabah itu!” singgung Logia dengan kernyit kening serius.
Namun Putri Kerisia justru malah melayangkan tanya, “Masalahnya adalah apa kuat jiwanya disiksa dalam neraka?”
“Dilihat dari warna api rambutnya, dia baru masuk dalam Malaikat Penghukum level satu, dan sepertinya hanya menggunakan satu ayat,” ungkap Arkta berasumsi namun juga menyimpulkan.
Dan 'Siuw satu cambukan dari jari telunjuk Haro melayang deras pada kepala singa siluman itu, 'Ceter'. Satu kali cambukan mampu membuat siluman itu seketika berlutut tersiksa.
Karena dalam kebatinan, jiwanya yang telah dicambuk, laksana hulu hati yang ditusuk-tusuk 10.000 pedang, bahkan lebih sakit lagi!
Jelas netra buta sang siluman yang terpejam mulai mengucurkan darah ungu kehitaman, darah itu mengucur deras, sakit yang teramat sakit.
“GWROOOOOOOAAAAAR ...!”
Siluman itu mulai mengerang kesakitan, sedangkan Haro terbang pada jarak 30 meteran dengan cemeti di setiap jarinya yang sepanjang 40 meteran.
Dan 'Ceter' cemeti dari telunjuknya kembali deras mencambuk kepala siluman singa itu, maka dia kembali mengerang menderita.
“GHROOOOOAR ...!”
Lalu ayat-ayat Kematian kembali Haro lantunkan. “Hai jiwa, Aku hobi menyiksa dan telah Ku-laknat 7 Dewi dalam cahaya hitam yang kelam. Hai jiwa, tahukah kamu siapakah Dewi pertama itu? Pertama ... Dewi di Barat.”
Sontak siksa kematian kembali terbuka, kini rambut atau bulu-bulu siluman itu mulai membuat hawa panas yang membakar jiwa siluman raksasa itu.
“GHROOOOOOOOOOAAAAAAAAR ...!”
Maka bergetarlah sekujur tubuh siluman raksasa itu.
Melihat kengerian itu, bersama ketegangan yang lebih pekat, Logia kembali berkomentar, “Dua ayat sudah dia baca!”
“Ketua, apa yang harus kita lakukan?” tanya Arkta mulai resah.
Dalam raut serius namun tetap dalam sikap santai, Putri Kerisia hanya menjawab, “Biarkan Haro membaca ayat-ayat Kematian itu, biarkan dia.”
“Apa?! Apa kau gila ...!” protes Logia.
“Kenapa ketua? Bukankah itu sihir terlarang? Dia bisa ...,” ucapan Arkta terpotong.
“Aku punya firasat ... kalau Haro ... ingin menyentuh hati kita,” ungkap Putri Kerisia tanpa ragu dengan lantang dan penuh keyakinan.
Arkta sengap hanya mampu mengikuti keputusan sang pimpinan.
”Omong kosong. Ujungnya hanya firasat lagi firasat lagi ...,“ keluh Logia.
”Aku akan menghentikan Haro!“ imbuh Logia mulai melesat terbang menuju Haro.
Tapi belum sampai Logia melalui 3 meter jarak, Arkta pun telah meluncur ke depan, terbang mengadang kepergian Logia, memasang muka serius menatap tajam Logia.
”Minggir bodoh!“ sentak Logia.
Logia berusaha bergerak mencari celah, namun itu diiringi ocehan dari Arkta.
”Biarkan Haro bertarung! Biarkan dia memilih jalannya!“
”Minggir bodoh! Dia bisa melupakan segalanya!“ bentak Logia.
”Tidak! Dia tidak akan melupakan segalanya!“ sergah Arkta.
”Dia pasti lupa!“
”Tidak akan! Karena dia adalah teman kita!“ bantah Arkta.
Entah mengapa ketika kata 'teman' bergaung, Logia berhenti mencari celah; pikirannya tersentuh. Dan kini terbang berhadapan dengan Arkta.
”Teman?“ tanya Logia yang mengandung ledekan dengan kernyit kening kekhawatiran.
”Ya, kita adalah teman!“ jawab Arkta dengan yakin nan mantap.
”Tapi aku tidak menganggap kalian adalah teman, kebersamaan kita hanya sebatas formalitas semata!“ ketus Logia dengan serius tanpa ragu.
Mendengarnya Arkta hanya membisu, karena itu memang terasa benar, atau tepatnya, dirinya hanya menganggap Putri Kerisia seorang yang dianggap Arkta sebagai temannya. Sehingga Logia pun mulai berpaling dari Arkta, terbang menuju Haro. Dan Arkta membiarkannya karena dirinya memang menganggap pertemanan bersama Haro serta Logia sebagai formalitas semata, hanya gegara sebuah tim.
Hanya saja ada hal yang membuat Logia malah berhenti mendadak.
”Lalu kenapa kau hendak menghentikan Haro?“ tanya Putri Kerisia keras-keras agar telinga Logia menerimanya dan langsung menyentuhnya.
Dan itu nyatanya berhasil membuat Logia memakukan diri dengan memunggungi Arkta serta Putri Kerisia.
”Apakah ... karena adanya rasa empati sebagai seorang teman? Atau kau tak percaya pada temanmu sendiri?“ sindir Putri Kerisia dengan santai.
Logia mengepal tangan dengan geram serta memutar tubuh ke belakang dengan memandang kesal pada Putri Kerisia, lebih-lebih bersamaan dengan itu Arkta ikut memutar tubuh ke belakang menghadap Logia.
”Aku tak mau ujianku ini gagal hanya gegara gegabahnya orang pelupa seperti si Haro itu,“ beber Logia yang tak sedikit pun menaruh percaya pada timnya, bahkan tak merasa berteman.
Selepas itu, Logia langsung melesat terbang, pergi hendak menghentikan Haro.
”Logia!“ seru Arkta hendak terbang menghentikan logia namun tindakannya dicegah oleh Putri Kerisia.
”Biarkan dia, Arkta ... kata-kata tak bisa menghentikannya, hanya dengan peristiwa, Logia akan memahami,“ cegah Putri Kerisia dengan lantang nan tegas, yang terbang berada di belakang Arkta.
Maka Arkta hanya terdiam, mengikuti komando ketua timnya dan terpaksa pula harus pasrah sejenak untuk menyaksikan peristiwa selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada saran/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)