Nurvati

Nurvati
Episode 141: Kebersamaan Dalam Substansi Impian.



Ledakan yang cukup memekakan telinga itu berhasil membentuk cekungan pada pasir, kepul cukup lama mengotori ruang di sekitarnya.


Ke dua kaki entitas sang Ifret telah mendarat di pasir, dirinya selamat dengan bersedekap tangan, dirinya berada jauh di depan bekas ledakan. Netra hitam legamnya memandang lekat-lekat pada tiga peri yang telah berada di depannya.


Putri Kerisia berhasil memanggil dua rekannya dengan telepati untuk datang kemari.


Tiga peri itu —Logia, Arkta serta Putri Kerisia— memandang serius pada sang Ifret, kecuali Putri Kerisia, dirinya malah memandang keberadaan Haro yang berada tepat di belakang sang entitas Ifret itu. Dia selamat gegara perisai pelindung nuansa hijaunya.


“Harooo ...!” seru Logia khawatir kalau Haro mati dan ujian ini gagal.


Kala perisai itu hilang, 'Wush' Haro maju melesat dengan sebilah pedang yang ditebaskan pada entitas Ifret itu.


'Whup' hebatnya dalam sekedipan mata sang entitas Ifret itu lagi-lagi sukses menghilang.


'Shreesssh' ke dua kaki Haro berhasil mendarat di pasir dengan terseret. Lantas memutar tubuhnya ke belakang. Menghadap pada entitas Ifret yang telah berdiri di sana. Dan pedangnya langsung ditancapkan di sisi kirinya.


Tak ada yang terluka sama sekali. Entitas Ifret tetap berdiri dengan seringai liciknya, sedangkan Haro kini berdiri di depan tiga rekannya. Berdiri dalam raut muka serius.


Suasana tegang masih melingkupi waktu, udara kotor di sini dan kegelapan yang memaksa sorot netra para peri berpendar masih eksis dalam realita.


Ada momentum senyap kala mereka kini telah berdiri berhadapan, bukan sekadar mencari kelemahan, atau mencari jalan kemenangan. Mereka berdiri senyap saling menatap karena berusaha mengetahui pikiran satu sama lain, hanya agar tahu, apa yang selanjutnya hendak dilakukan.


Kendatipun tak dapat mengetahui isi dalam pikiran. Putri Kerisia mendadak bertanya pada Logia, “Logia ... apa yang akan kau lakukan kalau kita gagal?”


Pertanyaan yang berhasil memecah suasana senyap itu, berhasil pula memberikan keterkejutan pada segenap anggota tim 12, hingga Arkta yang berdiri di tengah-tengah dua rekannya, menoleh ke kanan pada Putri Kerisia.


“Jangan bercanda ... kita tak mungkin gagal ... kita berempat dan si Ifret itu sendirian ...,” balas Logia dengan menanggapi pertanyaan Putri Kerisia cukup serius dan tentunya percaya diri.


Mengingat ada perkara penting yang hendak dilakukan oleh Haro; mati dengan menampilkan semua ilmunya. Sehingga pertanyaan seperti tadi cukup layak untuk Putri Kerisia ajukan, hanya demi menetapkan konklusi.


Akan tetapi Putri Kerisia malah kembali mengajukan pertanyaan. “Tapi, bagaimana bila kita gagal? Dan kita harus menunggu lagi seribu tahun untuk ikut kembali?”


Tak ada kecurigaan sama sekali dari Logia, dirinya dengan lantang berani menjawab, “Tidak akan gagal! Dan aku yakin, tak perlu menunggu seribu tahun lagi ....”


Tetapi demikian, dengan lantang pula Putri Kerisia kembali bertanya, “Bagaimana jika ada seorang temanmu yang sengaja ingin membuat kita gagal?”


Maka terkejutlah seluruh teman Putri Kerisia, termasuk Haro, namun tidak bagi entitas Ifret.


Lebih-lebih, Logia sampai menoleh ke kanan berusaha menatap Putri Kerisia, menatap adakah kesungguhan dari ucapannya. Kalau nyatanya Logia mulai merasa curiga.


Untuk itulah Logia yang enggan mengalami kegagalan balik bertanya, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”


Raut muka Putri Kerisia tetap datar tak berperasaan, pandangannya ke depan masih dengan gestur tubuh wanita terhormatnya, lantas berujar, “Jawab saja Logia, agar kita bisa tahu isi hatimu ... dan dengan mengetahui isi hatimu ... siapa tahu, kita bisa mengenal lebih akrab satu sama lain ....”


Kalimat yang mengandung perintah itu membuat kening Logia mengernyit keheranan, dia masih belum sadar betul berazam apa yang ada pada ajuan pertanyaan Putri Kerisia.


Kendati begitu, ada kepalan tangan yang terbentuk dari ambisinya, disertai kepala yang menunduk demi menetapkan hatinya, Logia diam sejenak dalam renung terdalam.


“... siapa pun yang menghalangiku dari tujuanku ... kupastikan akan aku habisi!” lanjutnya penuh percaya diri dengan lantang, yakin dan mantap.


Untaian kata-kata itu berhasil melesak pada pendengaran Arkta dan Putri Kerisia, sampai-sampai Arkta menoleh ke kiri pada Logia, memandangnya dalam kesungguhan dan agak tersentuh. Seakan teman-temannya hadir di sini hanya sebatas figuran semata.


Pastilah, di sana Haro pun mendengarnya, dia bahkan hingga mengepal jemarinya erat-erat, seolah memantapkan tekadnya yang tak mungkin luruh, memandang tajam pada entitas Ifret di depannya.


Seolah-olah kalimat yang terdengar kejam dari Logia malah memecut jiwanya, agar sekiranya, menjadikan kekuatan untuk merealisasikan rencananya.


Entah mengapa, kata-kata itu tak mengganggu niatnya, tak membuat Haro untuk mundur. Karena telah tersirat kenyataan, kalau apa pun yang dilakukan Haro hanyalah untuk Haro. Padahal sebaliknya, dirinya bisa berada di sini adalah demi teman-temannya dan benar-benar Haro menganggap semuanya sebagai teman, bukan sebatas formalitas semata!


Belum selesai, Putri Kerisia kemudian malah bertanya pada Arkta. ”Lalu bagaimana denganmu Arkta, bagaimana kalau kita gagal gegara temanmu?“


Cukup membuat benak Arkta terhenyak mendengarnya, entahlah, dirinya bingung untuk menjawabnya, dirinya malah bertanya-tanya dalam kepalanya, berazam apa yang ada pada tanya dari Putri Kerisia.


Tapi ujungnya, Arkta menjawab, ”Yaaaa ... pastilah aku akan menghajar teman bodohku itu ... siapa juga yang mau gagal ....“


Sebuah jawaban yang cukup meyakinkan bagi semua orang, terutama bagi Haro yang notabene akan habis-habisan dalam pertarungan terakhirnya ini.


Lantas tiba-tiba, Putri Kerisia justru bertanya pula pada Haro. “Dan terakhir, bagaimana denganmu Haro, bagaimana jika temanmu sengaja membuat kita gagal dalam ujian ini?”


Hening merebak, semua telah mendengar pertanyaan dari Putri Kerisia, terutama Haro yang mencerna baik-baik pertanyaan tersebut.


Haro harus mati, tak ada jalan lain selain memberikan pengalaman berarti bagi teman-temannya, dirinya benar-benar harus mati, lantaran segalanya ini demi teman-temannya.


Di sana, entitas Ifret hanya mematung memandangi para peri yang tak penting juga apa yang mereka rencanakan, hanya basa-basi yang tak perlu digubris oleh sang Ifret.


“Aku ... aku tidak tahu harus menjawab apa ...,” balas Haro dengan kepalan tangan persiapan. Bersiap untuk menyerang entitas Ifret.


“Haaah ... kalau dia tidak perlu ditanya, tak penting juga ... nanti juga dia akan lupa sama rekannya sendiri ...,” ledek Logia dengan entengnya.


Membisu, momentum yang melingkupi suasana ini jadi senyap. Kalimat dari Logia sebenarnya sudah sering digaungkan juga, jadi tak begitu menyayat hati.


Tatapan lurus masih terlihat dari sang putri bangsa Barat. Kini dirinya telah memahami. Kalau semua pribadi di sini adalah individualistis; para penganut egoisme.


“Ayo ... kita serang si Ifret itu!” ajak Logia dengan lonjakan semangatnya.


“Hem!” Arkta mengangguk mantap dengan bersiap siaga untuk maju menyerang.


Dan Haro mengepal tangan dengan energi hijau yang telah meliputi ke dua tangannya.


Detik ini, gairah demi mempertunjukkan ilmu sihirnya semakin meninggi, impiannya itu akan segera tercapai, Haro akan tunjukan pada semua temannya bahwasanya pertarungan ini demi impian yang telah menjadi arti hidupnya.


Kecuali Putri Kerisia, wanita yang lupa caranya tertawa dan tersenyum itu hanya tetap menampilkan gestur tubuh wanita terhormatnya; tatapan lurus ke depan, tegap berdiri, ke dua bahu sejajar, tangan kanan diangkat setengah badan hingga menekuk dengan kepalan tangan sebagai tanda kemantapan tekad.