
Dalam perspektif Putri Kerisia, dia sebenarnya peduli tak peduli pada perang dunia ke-18 ini, meski dia memiliki kekuatan seorang Dewi, itu belum tentu membuatnya mampu memenangkan perang dunia ini.
Karena secara garis besar, tak hanya Putri Kerisia yang memiliki kekuatan Dewi, di luar sana pun ada saja yang sama memilikinya, tetapi kebanyakan orang-orang yang sudah sampai pada ilmu Pengenal Diri, mereka lebih banyak membantu dari belakang layar atau pun hanya diam, dilakukannya karena perang dunia ke-18 ini adalah perang yang unik sekaligus tak ingin adanya perang antara Dewa-Dewi.
Ini adalah ibu kota bangsa Barat. Sebuah ibu kota dengan kemegahan gedung-gedung dari berlian yang bertatahkan bebatuan permata, seluruhnya mengambang di atas tanah setinggi 2 sampai 3 meter, jalan raya dari emas, lengkap dengan hilir mudik para Peri yang sangat hobi bekerja, mereka memang makhluk pekerja, sehingga tak perlu heran bila ada ras Peri yang bekerja tak mau digaji.
Untuk teknologi, ras Peri tak begitu suka, sehingga hanya beberapa di tempat khusus saja terdapat robot atau semacamnya.
Tepat di gedung yang berbentuk seperti cangkang kura-kura, yang terbuat dari batu merah delima, sebuah bangungan yang luasnya 7 kali lipat dari stadion sepak bola, bahkan lebih besar dari istana raja awan.
Ini adalah gedung Pemerintahan Perwakilan Rakyat atau warga menyingkatnya dengan PPR, fungsinya sama saja dengan para wakil rakyat di dunia manusia. Perbedaannya hanyalah ruang rapat atau ruang kerja mereka yang dibentuk seperti stadion sepak bola, namun lingkupnya lebih kecil, dan yang berada di tengah-tengah adalah meja dari emas yang berbentuk seperti donat, yang di tengah-tengahnya sepuluh orang telah duduk, 2 ahli kitab, 5 Ketua Rakyat, satu Perdana Menteri, satu Penasihat bangsa Barat, dan Putra Mahkota sang pewaris takhta bangsa Barat, Pangeran Azer anak pertama Raja Awan bangsa Barat.
Raja Awan sendiri tak bisa hadir, selain memang terpengaruh oleh ilmu sihir Putri Kerisia, Pangeran Azer sebentar lagi akan dinobatkan sebagai raja baru, menjadikannya harus memulai kepemimpinannya.
Putri Kerisia berada di sini, di arah Timur, dia duduk di barisan belakang, dengan meja perorangan yang setiap meja telah diberi Cermin Pintar yang tergeletak menyatu dengan meja dari emas.
Ini muktamar penting, selain membahas budaya kunang-kunang, melemahnya pasukan bangsa Barat di lini depan pun menjadi topikalitas utama.
Telah 4 jam muktamar ini berlangsung, dan sedang sangat alot pembicaraan di sini, seluruh wakil rakyat tengah berdebat perihal pemindahan penyerangan, lebih-lebih ada saja wakil rakyat yang ingin menghentikan perang.
“Tak dapat pindah! Tak dapat pindah!” sentak seorang pria dewasa.
“Kita harus pindah! Pihak lawan tak dapat ditaklukkan!”
Semua mulai bicara keras-keras berharap suaranya diterima. Cermin Pintar selain untuk bercermin, berfungsi pula sebagai pengeras suara, serta pencatat keterangan penting.
Putri Kerisia duduk tegap dengan bersedekap tangan, masih dalam raut muka tak berperasaannya; datar. Iris merah lembayungnya tak sedikit pun menatap pada tengah-tengah ruang rapat, tempat kakaknya berada, sebagai pemimpin rapat.
Muktamar perang jilid 4000, ya, sudah 4000 kali muktamar besar ini diadakan, dan Putri Kerisia paham betul kalau ini hanya buang-buang waktunya yang berharga, dia diundang oleh kakaknya, hanya sebagai pemberi usul, hanya itu, tak lebih.
Di luar masih hujan deras, namun dinding khusus yang terbuat dari batu safir di sini tak dapat ditembus oleh suara-suara dari luar, sekali pun suara bom.
“Hentikan saja perang ini!”
Teriak beberapa wakil rakyat dari arah Selatan. Mereka lebih kontra dengan perang dunia ini.
“Kebenaran harus ditegakkan!”
Teriak beberapa wakil rakyat dari arah Barat. Mereka lebih pro pada perang dunia ini.
Jumlah dewan yang hadir dalam muktamar ini kurang lebih 300 orang, 20 orangnya adalah para panglima perang dan 30 orang lainnya adalah 'kelompok perdamaian'.
Tetapi tiba-tiba seluruhnya senyap, berhenti bersuara. Karena seorang pria terhormat, sang Putra Mahkota, Pangeran Azer buka suara.
“Perang harus berlanjut!”
Kendati meski tiba-tiba disela oleh seorang pria wakil rakyat, Pangeran Azer tetap mampu menggiring opini seluruh wakil rakyat.
“Kita ada dipihak yang benar ...!”
“... para Malaikat membantu kita ... mungkin memang tak ada kabar untuk berperang, karena kita memang ditugaskan untuk inisiatif menegakkan kebenaran menunjukkan kalau kita memang tak lengah untuk menegakkan kebenaran walau tanpa berita dari malaikat, segala yang kita perjuangkan inilah yang akan membuat para Malaikat menyertai kita dan dengan kebenaran ini, Malaikat Abriel selalu menuntun kita!” tegas Pangeran Azer dengan membawa-bawa nama Malaikat Abriel hanya agar lebih mudah menghasut para wakil rakyat. Menyentuh hati dan pikiran mereka.
Suara tegas, karismatik, gagah yang mana seluruh aura seorang pemimpin dari ayahnya memang telah diwarisi pada Pangeran Azer dan berhasil menghasut seluruh wakil rakyat.
Tapi bagi Putri Kerisia, semua orang-orang dungu di sini mau mendengarkan Pangeran Azer tentu hanya karena dia punya 'gelar' dan 'nama', dalam perspektif sang Putri, kakaknya hanya sebuah 'boneka' yang digerakkan oleh sang penguasa, dan penguasa itu pastinya adalah para kaum utopis.
Maka secara mengejutkan, yang seharusnya Putri Kerisia mendukung kakaknya, justru dia berani bicara, ”Apakah benar, Malaikat Abriel mau menuntun orang-orang seperti kita, lalu mereka yang di sana, akan dituntun oleh siapa ...?“
Sebuah kalimat yang sontak membuat seluruh orang memusatkan perhatian pada Putri Kerisia.
Raut muka Pangeran Azer bahkan sampai serius, netra merah darahnya langsung menatap Cermin Pintar yang telah terpampang wajah datar Putri Kerisia. Pangeran Azer tak terima.
”Mohon maaf, Putri, mengapa Anda bicara demikian? Apa Anda berusaha mengkhianati ras dan bangsa Anda sendiri?“ sindir Pangeran Azer dengan kalimat yang pedas, yang mana berusaha untuk tetap tampil hebat, dan sebisanya memberikan paham kalau kalimat Putri Kerisia adalah kalimat pembangkangan.
Ingin rasanya tersenyum walau tak bisa, karena sang Putri sangat senang semua orang mulai terbawa oleh kalimat bodohnya, bahkan sang Pangeran Azer yang notabene akan menjadi seorang raja mulai emosi.
”Maaf Pangeran Azer ... atau kalau boleh aku katakan, kakakku yang tercinta ... aku, sebagai wakil dari rakyat jelata, ingin menyampaikan, kalau saya tak mendukung perang ini, tapi, tak juga mendukung perdamaian ... yang saya lihat, mereka bangga dalam kematian di medan perang, mereka semua punya keyakinan dan keyakinan itu membentuk mereka, membuat mereka yakin, merekalah yang telah menegakkan kebenaran, dan kitalah yang jauh dari kata benar, perang ini tak akan berhenti, akan terus terjadi, sebab ... tekad pada keyakinan selalu menunjukkan kebenaran!“ tutur Putri Kerisia dengan lantang nan mantap penuh percaya diri.
Beberapa wakil rakyat nampak mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Putri Kerisia.
“SEBUAH UCAPAN YANG BERUSAHA MEMECAH BELAH BANGSA!”
“SEBUAH UCAPAN YANG BERUSAHA MEMECAH BELAH BANGSA!”
Dua kali kalimat itu digaungkan oleh Pangeran Azer, dilakukan karena egonya enggan kalah oleh pendapat adiknya sendiri dan sebisa mungkin dirinya terlihat hebat. Keluarga kerajaan memang penuh 'drama' dan itu terlihat menjijikan bagi mereka yang tahu. Tahu kebusukan anak-anak Raja Awan.