
Masih tegang suasana dalam hutan Kematian ini, waktu masih berputar secara biasanya, aura kelam tetaplah kelam, hutan yang tak mungkin hilang keangkerannya karena kutukan telah terpatri di sini.
Level siluman kobra cukup tinggi dari siluman lainnya, dia menguasai ilmu Kegelapan.
Nerta telah bangkit dengan sembuh, Quin melayang di sisi kanannya sedangkan Arista melayang di sisi kirinya.
Maka siluman ular melesat maju dari jarak 7 meteran pada Nerta dengan dua tangan yang berbalut energi hitam.
'BLEDAAAR'.
Akar retak dan mengepul. Tak sempat mereka berbincang, karena memang tak punya waktu untuk basa-basi.
Quin serta Arista berhasil menghindar, dia terbang rendah memandang waswas pada Nerta yang tak sempat menghindar.
'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' 'Buak' pukulan bertubi-tubi menghujani Nerta yang nyatanya perisai nuansa putih berhasil melindunginya.
'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' dihantam keras-keras perisai Nerta oleh tinjuan dari tangan sang siluman kobra dan berusaha menghancurkannya.
'Wush' Quin maju melesat, ke dua tangannya yang membentuk pedang langsung ditancapkan pada buntut ular sang siluman. 'Cleb' 'Cleb'.
Sedangkan Arista tengah mengobati Gorah serta Darko.
Siluman ular berbalik arah, dia melesat ke belakang tepat pada Quin, 'Swoosh'. Yang mana energi hitam dari tangannya telah dihilangkan.
Lalu pertarungan tangan kosong terjadi, 'Buak' 'Tap' 'Buak' 'Tap' siluman ular berhasil unggul, walau Quin menepis tetapi kecepatan pukulan sang siluman tetap mengenai perutnya, hingga memuncratkan darah keemasan dan membuat Quin terdorong ke belakang cukup telak.
'Buak' satu tinjuan yang terselimuti energi hitam berhasil mengenai perut Quin dengan telak, lalu 'Wuush' dirinya terhempas sejauh 20 meter dengan menembus dedaunan pohon yang tumbang dan menabrak akar pohon. 'Brug'.
'Slash' 'Slash' Nerta telah menyayat punggung siluman ular dengan pedangnya yang justru membuat siluman kembali berbalik arah dengan cepat, dan 'Buk' perut Nerta tak dapat menghindari tinjuan keras dari sang siluman, tinjuan yang masih diliputi energi hitam.
'Bledaar' kembali terbentur tubuh Nerta pada akar pohon sangat keras, sampai-sampai membuat cekungan pada akar.
Bersama energi yang hilang dari tangannya, dua pedang dicabut dari buntut sang siluman olehnya, tanpa adanya darah, membuatnya menguasai dua pedang, lalu 'Trang' 'Trang' pedang dari Gorah serta Darko beradu oleh dua pedang dari sang siluman.
Membuat pertarungan dengan pedang tak dapat terelakan lagi, siluman kobra melawan dua bocah Peri.
'Trang' 'Klang' pedang dari atas beradu, 'Trang' 'Klang' pedang dari sisi beradu, 'Slash' 'Slash' pedang saling menebas angin gegara meleset dari target. Dan terus dua bocah Peri dengan terbang mereka beradu kelihaian menyerang dengan pedang pada siluman ular kobra, membentuk dentang besi pedang seperti alunan musik alami. 'Trang' 'Tang' 'Slash' 'Trang' 'Tang' 'Slash'.
'Wush' dari samping kiri siluman kobra pedang Gorah melayang, 'Klang' tapi tertahan oleh pedang siluman. 'Wush' dari samping kanan siluman kobra pedang Gorah meluncur 'Klang', namun ditahan oleh pedang siluman. 'Wush' dari atas kepala siluman kobra pedang Darko menghunjam, tapi 'Trang', pedang siluman mampu menahannya. 'Wush' dari atas kepala siluman kobra pedang Gorah menghunjam, tapi 'Trang', pedang siluman menahannya. Dan 'Wush' 'Wush' ke dua pedang dari Darko serta Gorah meluncur menusuk perut sang siluman, lalu 'Shleerp' 'Shleerp' dua pedang itu berhasil menusuk perut eight pack sang siluman.
Akan tetapi, siluman kobra tak selemah itu, dia melompat dengan melakukan putaran 360 derajat 'Swoosh', 'Buak-Buak' dua bocah itu lagi-lagi tersepak oleh ekor siluman kobra. Dan 'Wuush' mereka terhempas kembali menuju akar pohon, 'Bledar' di sana menanggung luka.
'Klontang-klontang' dua pedang yang dipegang sang siluman dibuang, lebih dari itu, dua pedang yang menancap tanpa darah pada perutnya berhasil dicabut tanpa sakit.
Lalu 'Slash' pedang di tangan kiri siluman menebas angin karena Quin yang tadi hendak menendang, berhasil terbang ke atas, lalu 'Swrinng' pedang yang dipegang tangan kanan sang siluman pun meleset lagi dari Quin yang hendak meninju, Quin berhasil salto di udara.
Maka di atas tanah itu terjadi pertarungan antara pedang dan tangan kosong, sang siluman melawan seorang bocah perempuan.
'Swrinng' 'Wush' 'Shrinng' 'Woush' tebas lalu menghindar, tebas lalu menghindar. Siluman kobra malah menebas angin gegara Quin menghindar, dan Quin gagal menghajar siluman karena dirinya harus menghindari sabetan pedang.
'Wush' Quin terhempas dan 'Bruk' terkapar di atas akar pohon.
Dua pedang dari tangan siluman kobra pun dibuang ke sembarang tempat.
Lalu 'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' 'Buak', pukulan bertubi-tubi dari tangan Nerta yang berbalut energi nuansa putih berhasil mendarat mantap pada perut eight pack sang siluman.
Tapi tunggu sebentar.
Sang siluman hanya diam di tempat tanpa merasakan sakit, terlebih tak sedikit pun sang siluman bergeser sejengkal dari posisinya. Dia mampu menahan setiap pukulan walau itu menggunakan energi.
'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' puluhan pukulan sama sekali nampak tak berguna.
Sontak sebuah tinjuan dari tangan kanan siluman yang berbalut energi hitam melesat pada wajah Nerta dan 'BAK' mengenai tepat di wajahnya.
'Wuush' Nerta terhempas kembali pada akar pohon, 'Bleedar' membuatnya menanggung luka cukup parah.
Untuk Arista sendiri, dirinya sedari tadi bolak-balik menuju teman-temannya yang terluka.
Saat ini, bersama kesiur angin yang mendadak kencang, kedua tangan siluman ular kobra kembali berbalut energi nuansa hitam.
'Swoosh' dirinya maju melesat pada Nerta yang terkulai tak berdaya, hidungnya patah serta setengah bagian wajahnya remuk dengan darah keemasan yang menetes dari wajahnya.
'Bledaar' Nerta tertinju kembali dengan tubuh yang melesak pada akar pohon.
Belum usai, tinjuan-tinjuan dari tangan yang berbalut energi hitam berhasil menghujani perut serta dada Nerta, 'BUAK' 'BUK' 'BUAK' 'BUK' 'BUAK' 'BUK' 'BUAK' 'BUK'.
Tak dapat menghindar bahkan tak sempat Nerta membuat perisai energi, dirinya terlalu linglung untuk menyadari bahaya.
Maka terpaksa dirinya menanggung luka parah yang teramat, pukulan-pukulan kuat dari sang siluman telah membuat tulang pada dada Nerta retak, 'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk'.
'Bledaar' satu pukulan kuat-kuat yang sukses menghajar dada Nerta, selain membuatnya melesak pada akar pohon, itu juga berhasil mematahkan tulang dadanya yang seketika membuatnya tak sadarkan diri; sekarat.
“HYAAAAAAAAT ...!” teriak Darko dan Gorah dengan melayangkan palu besar, dua kali lipat lebih besar dari tubuh sang siluman ular.
Meluncur deras palu dari batu merah delima itu pada buntut siluman kobra.
'BLEDAAAR' telah membuat tanah retak dan buntut siluman hancur dengan darah ungu kehitaman yang memuncrat pada tanah.
“GWAAAAAAH ...!” erang kesakitan sang siluman ular kobra.
Itu bahkan sanggup membuatnya merasakan sakit, lebih-lebih dia langsung mengalihkan pusat perhatiannya pada dua anak pemegang palu, sekaligus melenyapkan energi hitam pada tangannya dan menghentikan pukulan pada Nerta.
'Swoosh' siluman melompat jauh, menghindari kemungkinan buruk lainnya, hanya saja, buntut ularnya hancur dan terputus, memberikan rasa sakit dengan darah yang keluar membasahi akar pohon.
Di atas akar pohon itu, dalam jarak 10 meteran pada bocah-bocah Peri, wajahnya yang tadi kaku tak berperasaan, kini mulai memampang raut muka marah dengan bergigit kesakitan. Dia terluka.
“GHROAAAAAAAAAAAAR ...!” teriak siluman kobra dengan menyalang pada dua bocah pemegang palu besar, murka dan tak terima.