
Bangsa Barat untuk saat ini terbilang tak begitu damai, perang dunia yang terjadi dibelakang realitas itu mulai begitu berdampak. Seakan-akan semua makhluk tahu caranya bertindak benar dan kriminal seakan jalan terakhir demi kebenaran.
Robotik dalam masa perang ke 18 ini telah sering digunakan. Tidak terlalu sentral, tetapi hanya sebatas peran pembantu.
Telah cukup lama Ratu Arenda tak lagi bersua dengan Apan. Selain memang sengaja Ratu Arenda memberi waktu Apan untuk mempertimbangkan pilihannya, Apan juga tetap menjalani tugas negaranya.
Ada satu fakta cukup menarik yang Ratu Arenda dapat dari informannya, kalau misi Apan untuk mencari ruang rahasia kelompok kudeta, ternyata adalah bohong. Institusi perserikatan penyihir tak pernah mengagendakan misi tersebut.
Terlepas memang adanya kelompok tersebut, namun sayangnya misi Apan pada tempo itu, bukanlah mencari ruang rahasia.
Dapat diketahui juga, kalau Apan malah menghancurkan tempat anak-anak yatim dan malah membunuh mereka. Sebab misi yang sebenar-benarnya adalah menghabisi anak-anak yatim panti asuhan terlarang itu, dan memusnahkan segala yang berkaitan dengannya.
Entah apa tujuan Apan berbohong pada sahabatnya sendiri. Tak biasanya dia berbohong demi hal sepenting itu.
Kini telah 300 tahun tempo yang dihabiskan tanpa adanya pertemuan lagi. Dua sahabat itu sebenarnya telah menjadwalkan kalau sepekan dari sekarang mereka akan kembali bersua.
Apan sendiri sudah 100 tahun dalam penugasan negara yang mewajibkannya untuk tak pulang ke rumah. Meski sangat lama dirinya bertugas, Hiri sudah biasa dan memaklumi hal demikian. Anggota militer tentulah sangat jarang di rumah.
Pastilah hal biasa bila sepasang suami istri menanggung beban kerinduan saat hidup saling berjauhan, atau justru muncul benih kejemuan kalau setiap detik di sisi. Entahlah perasaan apa yang kini tengah dilanda Hiri serta Apan.
Di rawa-rawa, pinggir rumah pohon mereka, Hiri dengan pakaian serba putihnya tengah duduk santai di atas sebuah batu. Parasnya yang terbilang manis, mengguratkan wajah orang-orang asia nampak memancarkan kedamaian, mata bulat hitamnya begitu pekat nan berkilau.
Menikmati momen damai di sana bersama perasaannya yang semakin bersyukur. Hidupnya telah cukup di sini.
Bertepatan kala udara siang yang terik berembus lembut, Apan hadir dengan mengagetkan Hiri dari belakang. Mengejutkannya sebagai suatu candaan. Bahkan karenanya ada tawa yang terlukis indah pada paras dua pribadi itu. Hiri agak kaget karena memang kedatangannya tanpa diterka.
Tetapi setidaknya ada hawa gembira yang benderang berkat datangnya Apan selepas penugasan negaranya.
Seloroh sempat bergaung dari Apan, senyum jengah pun terukir dari wajah manis Hiri.
Kini mereka duduk bersama di atas batu itu, Apan malah tanpa sungkan merangkul istrinya begitu akrab. Dia mencurahkan bagaimana liku-liku selama pekerjaan bernegaranya berlangsung.
Kisahnya tentang para mafia yang menggelapkan pil-pil, hingga kekonyolan bandit-bandit yang berbohong padahal telah nyata bukti merujuk pada mereka dan diakhiri oleh kisah adanya kelompok rahasia yang hendak membelokkan berita-berita.
Hiri hanya nampak diam dan mengangguk-angguk sebisanya menjadi pendengar yang baik. Dirinya senang bisa melihat Apan melalui setiap hidupnya dengan senang.
Tak banyak komentar dari Hiri, dia sudah biasa juga mendengar seluruh kisah pengalaman kerja suaminya, lebih lagi, Hiri pun kadang bercerita perihal kelangsungan hidupnya yang sendirian di sini.
Hanya saja, dalam waktu yang telah banyak terkuras untuk cerita-cerita itu. Hiri melayangkan satu tanya nan penting. “Suamiku ... a-apakah kita akan pindah ke alam Manusia?”
Apan yang masih merangkul istrinya penuh cinta, sejenak termangu beberapa saat. Ingatan perihal Ratu Arenda yang menginginkan adanya perceraian atau persembunyian kembali membebani pikiran Apan.
Keputusan yang tanpa ragu telah diambil, keseriusan untuk hidup di sini dan berbahagia di sini telah siap Apan serta Hiri bentuk.
Mendengarnya, Hiri nampak tersenyum penuh makna dan malah mengusap-usap perutnya.
Apan yang melihat hal tersebut hanya memandangnya dengan santai. Tak menaruh curiga.
Hingga sebuah argumentasi pengakuan yang tercetus dari Hiri, menyentak kejiwaan Apan.
“Kita akan menjadi or-orang tua ... a-aku ... aku mengandung buah hati kita ....”
Realita tak dapat dibantah, mula-mula Apan terkejut tak menyangka, namun cecaran pertanyaan mengenai kebenaran itu dijawab oleh Hiri dengan 'iya', mengartikan bila Hiri memang hamil.
Buah cinta kebahagiaan itu telah muncul. Apan sebagai suami sampai-sampai begitu senang dan semeringah, luapan kegembiraan itu benderang nyata saat Apan berkali-kali memeluk istrinya penuh cinta dan bersyukur.
Malah kejadian pertama kali dalam hidupnya ini hampir membuat Apan panik. Tetapi berkat melihat istrinya nampak tenang dan senang, Apan mampu mengendalikan dirinya.
Dalam senja itu, mereka malah sempat membisu untuk beberapa saat. Kebahagiaan yang kentara cukup membuat Apan tak dapat berkata-kata. Meninggikan perasaannya begitu senang nan bergejolak. Tak menyangka akan kehidupannya telah sejauh ini. Pandangannya berbinar pada ruang hampa di depannya; ia akan segera jadi seorang ayah.
Kendati kebahagiaan itu seolah memberikan harapan keselamatan hidup; harapan baru. Hiri yang masih memikirkan kemelut perihal Ratu Arenda kembali lagi bertanya, “Suamiku ... aku harap engkau me-merahasiakan ini da-dari Ratu Arenda ... kecuali ... ka-kalau anak kita telah lahir ....”
Apan yang mendengarnya seketika memasang muka serius memandang Hiri.
“Tenang saja ... kita bisa hidup di alam ini dengan damai ... dan tenang saja, sahabatku selalu bisa diandalkan ...,” tutur —tenggiling— Apan menenangkan istrinya dan begitu yakin kalau semua akan baik-baik saja.
Apan bahkan masih merangkul istrinya dengan penuh kasih, hingga Hiri menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Apan.
“Suamiku ... bi-bicaralah terus padaku ... dan jangan menutupi segala hal penting di belakangku, bicarakan keluh kesahmu ... a-aku harap, walau aku hanyalah seorang siluman ... setidaknya a-aku ingin bisa membantumu ...,” tutur Hiri dengan sungguh-sungguh penuh harap sembari mengusap-usap punggung tenggiling milik Apan yang transparan.
Apan tak bicara, dirinya hanya mengangguk-angguk dengan mengeratkan rangkulannya, memacu hatinya menguatkan tekadnya. Karena justru raut mukanya kini menyiratkan renungan terdalam, sorot netranya pun nampak memancarkan adanya perkara penting yang semestinya dipikirkan.
Memandang jauh menuju hutan di seberang rawa. Pikiran dan hatinya yang telah terpagut pada Hiri, melambungkan perasaannya yang tulus yang kian berpacunya detik kian yakin, kalau Hiri adalah wanitanya yang paling tepat.
Karena tak mungkin seseorang memahami apa yang dialaminya, pikirannya, sukmanya hingga perasaannya. Mimpi-mimpi yang telah dirakitnya bersama Hiri, atau keteguhan tekad untuk ikrar selalu bersama, tak mungkin padam oleh mereka-mereka yang tak memahami.
Benar, Apan hanya memikirkan caranya agar dapat hidup damai bersama wanita pilihannya, dia tak merasa adanya kesalahan, semua yang kini terjadi dan apa yang dialaminya telah begitu adanya.
Komitmen itu mengikat mereka dan perasaan menguatkannya. Seorang anak segera menjadi arti hidup, impian itu selalu berganti seiring kebahagiaan yang menyertai. Tetapi impian demi arti hidup, akan menjadi kehidupan laksana mimpi-mimpi indah.