Nurvati

Nurvati
Episode 73: Kepasrahan Yang Merenggut Harapan.



Angin berembus pelan bersama iris merah lembayung Putri Kerisia yang kembali pada area kegelapan. Lelaki muda itu melangkah mundur pelan-pelan, ketakutan mulai menjerat dirinya. Bagaimana pun dia tak mungkin melawan seorang putri kerajaan.


Tetapi demikian, ia sendiri terkekang oleh ingatan tragis kematian keluarganya, membentuk suatu hasrat yang disebut dendam.


Hanya saja di langkah yang ke empat dia terhenti bersama raut muka yang serius, dan pandangan tajam pada Putri Kerisia.


“Putri, apakah Anda bercanda?” tanya lelaki muda itu memastikan. Sebab jika benar adanya, maka Putri Kerisia layak dibunuh.


“Tak ada waktu untuk bercanda, jika engkau ingin mengalahkan sang Dewi Tanduk Empat ... Aku-lah Dia ... engkau mengalahkan aku maka engkau mengalahkan Dia,” balas Putri Kerisia dengan lantang dan mantap.


Termangu lelaki itu di sana, dia bimbang harus berbuat apa, keluarganya tewas dan hasrat untuk membalas telah berkantaran dalam akal sehatnya.


“Sa-saya ... saya tak mungkin menyerang Anda tuan putri ...,” keluh lelaki muda itu agak rambang dan segan yang diliputi keraguan.


“Engkau meragukan ucapanku,” balas Putri Kerisia, yang dalam kerahasiaan dia merapal mantra, dan secara tidak langsung, telah menggiring pikiran lelaki muda itu untuk menyerang.


Lelaki muda itu tumungkul, perkataan Putri Kerisia memang ada benarnya, lelaki itu meragukannya.


Dalam perspektifnya, keadilan adalah berpihak pada yang benar, kebenarannya ialah siluman diperintah Dewi Tanduk Empat untuk membunuh dan kalau Putri Kerisia dihukum maka sang Dewi pun dihukum, atau kalau tak dihukum, maka kebenaran telah dibelokkan, begitulah persepsi sang lelaki muda.


Maka melangkah berpalinglah Putri Kerisia, ia hendak membuat pintu teleportasi. Tapi sayangnya itu tak terlaksana, sang lelaki muda malah tiba-tiba menyerang.


'Wush' sebilah pedang ditusukkan pada perut Putri Kerisia, dan tepat mengenainya!


Hening dalam ketegangan, Putri Kerisia tetap santai dalam berdiri tegap, tetap anggun di sana.


Berbuntang netra sang lelaki, karena sinar ungu keilmuan Putri Kerisia memancar pada punggung yang tertusuk pedang; ilmu Sihir Cermin.


“Sialan! Sihir tingkat Tujuh!” kata sang lelaki dalam getir ketakutan.


Dan ketakutan itu menjadi lebih pekat saat punggungnya mengucurkan darah keemasan, justru dialah yang tertusuk; serangan berbalik.


Dan suara 'Bruk' menjadi tanda kalau sang lelaki jatuh ke tanah, terkapar mengucurkan darah dan bergigit kesakitan.


Pedang pun telah dicabut dari punggung Putri Kerisia, dia memegangnya, lantas melempar pedang itu ke tanah. Bahkan sang Putri Kerisia telah berdiri menghadap sang lelaki, tapi tanpa ditatap.


“Engkau gegabah ... yaitu tidak mengenali siapa lawanmu,” singgung Putri Kerisia dengan kalem tetap menampilkan kesan anggun.


Takut, heran dan waswas terlukis dalam pandangan getirnya, netra hitamnya tertuju pada diri Putri Kerisia. Pemuda ini hanya terdorong oleh marahnya, terdorong oleh ketersediaan waktu yang menipis.


“KAU SUDAH MELAKUKAN KEJAHATAN PUTRI!”


“KAU SUDAH MEMBUNUH!”


“KAU SUDAH MERENGGUT ORANG-ORANG TERKASIHKU!”


Sentak lelaki muda itu, melampiaskan kekesalannya agar Putri Kerisia menyadari kesalahannya.


Tapi tak sedikit pun Putri Kerisia merasa bersalah, justru dirinya berani membalas, “Oh ... jadi ini tentang pembalasan? Engkau ingin mengadiliku? Apa engkau ingin menegakkan keadilan?”


Bagi Putri Kerisia lelaki dihadapannya terbilang lelaki dungu, lelaki yang mudah dihasut, lelaki yang mudah memercayai kabar bohong.


Cukup dungu lelaki muda itu, bahkan lelaki muda itu percaya begitu saja pada ucapan seekor siluman, yang mana para siluman memang terkadang suka memfitnah.


Alih-alih menyerah, lelaki itu mampu menyembuhkan lukanya sendiri, dan malah kembali bangkit berdiri. Membuat mereka kembali berdiri berhadapan dalam jarak dua meteran.


Netra hitam lelaki muda itu tertuju pada Putri Kerisia, walau sang putri tak membalas menatap, lelaki muda itu berujar, “Ya ... aku menuntut keadilan, aku paham betul kalau para pemimpin tak peduli pada para siluman, kau pasti bisa lolos dari jerat hukum, kau punya kuasa dan kuasa itu mampu kau manfaatkan!”


“YA, AKU INGIN KEADILAN!” sentak lelaki muda ini sebagai bukti tujuannya benar adanya.


“Engkau bisa membunuhku, bila engkau bisa menggiring manusia saling membunuh ... bawa seorang saja arwah manusia yang tewas karena dibunuh itu kehadapanku ... maka engkau akan mendapatkan keadilanmu,” ungkap Putri Kerisia yang memiliki rencana tersendiri. Dan tak mau berbasa-basi.


“Omong kosong!” bentak lelaki muda itu mulai mengeluarkan energi nuansa hijau. Bersiap menyerang. Yang mulanya tak percaya.


Sayangnya segala niat itu pupus, saat sihir Pikir yang dirapal Putri Kerisia berhasil merasuk pada lelaki muda itu, membentuk visual dalam penglihatannya, visual akan keluarganya.


Wajah ibunya, wajah ayahnya serta wajah adik perempuannya, mereka menangis kesedihan memandang lelaki muda itu, menciptakan emosi empati yang lambat laun merambat dalam jiwanya, meliputi sekujur tubuhnya, maka tanpa disadarinya, sang lelaki muda ini telah terbawa oleh sihir dari Putri Kerisia.


Konklusi pun muncul; keluarganya menderita, dan penderitaan itu berkat Putri Kerisia, maka wajib Putri Kerisia dibalas, karena seperti itulah hukum!


Sang lelaki muda merenung, menilik seluruh kehidupannya yang selalu menunjukkan rasa sakit dan rasa sakit yang menunjukkan keputusasaan hingga di dalam keputusasaannya memunculkan kepasrahan, kemudian berkatalah lelaki muda itu. “Bagaimana bisa aku memercayai ucapanmu, bagaimana kalau kau berbohong?”


“Engkau akan mengetahui aku kalau aku berbohong, engkau laki-laki yang terpilih, engkau mendapat petunjuk, dan dari petunjuk itu engkau harus menemui aku ... lantas, apa yang membuat engkau tidak percaya?” ujar Putri Kerisia dalam hasutannya yang halus.


Tercenunglah sang lelaki di sana, karena apa yang dikatakan Putri Kerisia terasa benar.


Saat sihir itu lenyap, energi hijau dari tangan lelaki tersebut pun hilang. Keheningan tercipta kala mereka membisu dalam suasana.


“Baiklah ... akan saya bawa arwah manusia pada Anda,” tutur lelaki muda itu merasa mendapatkan petunjuk yang benar.


Maka jelas, kalimat itu berhasil membuat Putri Kerisia merasa senang, senang karena lelaki ini mudah dibodohi, mudah dihasut dan mudah dijebak.


Sungguh dungu lelaki ini, sungguh dungu, begitulah pikiran Putri Kerisia.


“Sebutkanlah namamu terlebih dulu, agar kita bisa saling memahami,” pinta Putri Kerisia tanpa memandang lelaki itu.


“Nama saya ... Adofo,” ucap lelaki muda ini alias Adofo.


“Sekarang pergilah ... kalau berhasil, datanglah ke kerajaanku, maka engkau akan mampu membunuhku,” titah Putri Kerisia masih menatap ke depan pada kegelapan.


Hanya mengangguk setuju sang lelaki itu. Kemudian Putri Kerisia pun membentuk pintu teleportasi dan tanpa ada kata yang terucap dia pergi meninggalkan lelaki itu.


Tak butuh waktu lama, dalam hasratnya yang penuh kesedihan dan dendam, karena Adofo tak dapat membuat pintu teleportasi antar alam, dia pun terpaksa terbang menuju gerbang teleportasi antar alam, menuju alam Manusia.


Bagaimana pun, keluarganya harus mendapatkan keadilan, sebagai seorang anak yang berbakti, dia hanya berusaha mengabdi pada ayah, ibu dan adiknya. Hal wajar bila seorang anak berusaha melindungi harkat dan martabat keluarganya.


Para pemimpin tak dapat diandalkan, sedangkan para penegak hukum di negaranya tak mungkin juga mengurus hukum seorang rakyat jelata sepertinya, justru lelaki muda ini diolok-olok gegara ingin menghukum Dewi Tanduk Empat, lelaki muda ini malah ditertawakan hanya gegara ingin menghukum sang Dewi.


Sehingga kekecewaan pun membentuk persepsi, bahwasanya para pemimpin dan penguasa tak dapat diandalkan, mereka pun sama saja, memilih ego dan ingin disanjung, jadi jelas, hati sang pemuda memilih berjuang sendiri menegakkan keadilannya.


Dia hanya lelaki polos, yang menyayangi keluarganya, yang tak memandang siapa pun lawannya, seorang Dewi atau bukan, bagaimana pun caranya dia akan melindungi keluarganya, itulah keadilan!