Nurvati

Nurvati
Episode 115: Lantunan Ayat Kehidupan Sang Dewi Karunia.



Ini adalah hari yang tak berawan, di hutan Kematian, di antara rimbunnya pepohonan, wanita berambut hitam berdiri dengan tertunduk, serangannya telah meleset, tapi tadi hanyalah sekadar penguji.


Kelima anak telah terbang di belakang wanita yang mengaku dewi itu, terbang dalam ketinggian 40 meteran, sedangkan Zui terbang agak jauh dari anak-anak lainnya.


Niat kelima anak untuk menyerang buyar saat kejadian aneh nampak pada wanita itu.


Tubuhnya memancarkan energi merah, seperti api namun tembus pandang nan merah.


Dalam wanita itu, semua renungan tentang koloninya, tentang suaminya, tentang anaknya, membentuk impian yang meninggikan angan-angan dan menjadi arti hidup. Kematian semuanya memberikan dendam dalam penuntutan untuk keadilan.


“Tidak akan aku sia-siakan kematian semuanya!” sentak sang wanita berambut hitam.


Melihat itu Zui langsung terbang cepat menuju kelima anak.


“Anak-anak hati-hati ... dia Dewi Karunia ...,” ungkap Zui dengan serius.


Serempak terkejutlah kelima anak mendengarnya, selain tidak mengira, mereka pun langsung menanggung pertanyaan besar.


“Dewi Karunia itu apa?” tanya Darko penasaran dan menyelidik.


“Tunggu dulu ... pertanyaannya dari mana Kak Zui tahu kalau dia Dewi Karunia?” sela Quin dengan serius penuh tanya hingga mengernyit kening kebingungan.


Mulanya Zui diam dalam renungan dengan memandang sang wanita yang terduga Dewi Karunia. Selepas 3 detik dalam diam penuh makna, Zui berujar, “Kakak melihat ke masa lalu.”


Sebuah pernyataan yang membuat semua orang memasang muka sangat serius dan seketika memandang Dewi Karunia dalam tanya. Tapi belum dijawab pertanyaan Darko.


Sang wanita rambut hitam alias Dewi Karunia kini tengah mendepang tangan lalu angin cukup besar berputar di sekitarnya, energi merahnya pun mulai berpadu dengan angin. Debu, dedaunan hingga hawa, bersinergi menunjukkan akan ada ilmu yang besar hendak digunakannya.


“Kalau begitu ... kita pasti kalah melawan seorang Dewi,” keluh Gorah dengan pesimis.


“Iya juga sih ...,” sambung Arista sependapat.


Sedangkan beberapa teman lainnya terdiam mencerna perkataan Gorah yang terasa ada benarnya juga, kecuali Zui yang malah berujar, “Tidak juga anak-anak ....”


Kalimat yang menyiratkan bantahan itu langsung membuat keempat anak menoleh ke kiri pada Zui sang pendekar Pemecah Waktu.


Zui masih memandang intens pada Dewi Karunia seraya melanjutkan perkataannya. “Dewi yang diturunkan dari surgawi bukanlah Dewi sang Diri Asli, dewa dewi surgawi juga diperintah untuk mengikuti hukum dan yang melanggar hukum itu akan diturunkan ke bumi, mereka juga tetap saja diwajibkan mengenal diri mereka, walau pun memang beberapa dewa dewi surgawi pastilah akan kembali lagi pada alam nirwana ... ini sebenarnya termasuk ilmu Roh.”


Mendengarnya kelima anak terdiam mencerna baik-baik perkataan Zui yang membingungkan. Kecuali Nerta yang nyeletuk, “Kita butuh solusi, bagaimana caranya mengalahkan dia?”


Dan atas kalimat dari Nerta semua anak mengangguk sepaham.


Dengan raut muka datar, Zui menjawab, “Hanya aku yang bisa mengalahkannya ... kalian berlindunglah.”


Perintah atau jawaban yang tak diinginkan semua anak, itu terkesan masalah bukan solusi.


“Tidak mau!” bantah Quin.


“Aku juga nggak mau!” sambung Arista menolak solusi Zui.


Tapi tiba-tiba 'Woush' Gorah malah melesat maju menyerang Dewi Karunia.


“Jangan gegabah!” sentak Zui dengan kekhawatiran.


“Gorah jangan!” teriak Darko serta Quin serempak dengan kaget dan cemas.


Ke dua tangan Gorah memancar energi merah lalu 'Bouff' 'Bouff' beberapa tembakan dilesatkan pada Dewi Karunia.


Belum selesai di situ saja, dua tangan Gorah seketika membentuk parang.


Hanya saja angin yang mengitari Dewi Karunia malah melenyapkan tembakan energi merah dari Gorah, membuat tembakan itu bersinergi dengan anginnya.


“HYAAAAAAT ...!”


Tapi angin yang mengitari Dewi Karunia mendadak membentuk satu tinjuan kuat yang mengenai tepat pada tubuh Gorah, 'Buak'.


'Wush' Gorah terhempas sejauh 100 meter terseret di akar pohon 'Bruak' lalu 'Bledaar' membentur batang pohon hingga terbentuk cekungan.


Maka 'Siuw' Arista melesat terbang untuk menyembuhkan Gorah.


“Kakak pendekar, cepat kalahkan dia, Anda bisa mengalahkannya dengan cepat bukan,” titah Darko yang ragu untuk menyerangnya sendiri.


Membuat Quin menoleh ke kanan pada Darko sambil berkata, “Hush ... kenapa kau malah memerintah kakak pendekar?”


“Kita tak mungkin mengalahkan seorang Dewi, walau dia bukan Dewi sang Diri Asli tetap saja dia Dewi surgawi!” bela Darko berapologi.


Hanya saja Zui yang memiliki pandangan perseptif memang langsung maju melesat secepat biasanya.


Ilmu Pemecah Waktunya pun digunakan, berusaha melumpuhkan Dewi Karunia di tempat, tetapi nyatanya gagal.


Tepat ketika hendak masuk pada dimensi relativitas waktu, Dewi Karunia ternyata mampu menghindar; sukmanya berhasil masuk pada dimensi 4. Sehingga mampu menyerang, membuat satu pukulan telak dengan anginnya tepat pada Zui, 'Buak'.


'Wush' Zui terlempar sejauh 110 meter terseret pada tanah lalu menubruk akar pohon, 'Bruak'. Syukurnya sayap uniknya sanggup melindungi dirinya dari benturan; Zui baik-baik saja.


Hal itu membuat semua anak terkejut dan terperangah.


“Eh, semudah itukah menghajar pendekar Pemecah Waktu?” heran Quin dengan kernyit kening kebingungan.


Tak mau membuang waktu, Nerta pun maju melesat, tongkat kujangnya dimanfaatkan kembali.


“Kali ini kami yang akan menjadi sejarah!” seru Nerta dengan memutar tongkatnya di atas kepala.


Lalu di jarak 10 meter dari Dewi Karunia Nerta menembakkan bola-bola cahaya nuansa pingai pada Dewi Karunia, 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.


Akan tetapi, semua bola-bola cahaya malah menghilang dan ikut berputar di sekeliling Dewi Karunia. Namun tidak semudah itu Nerta menyerah.


'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' bola-bola energi dari keempat warna utama ditembakan dan bonusnya 'Bouff' 'Bouff' energi putih langsung dari tangan Nerta ikut melesat pada Dewi Karunia.


Beluma selesai, Nerta pun maju kembali dengan tongkat kujangnya yang diliputi pancaran energi nuansa pingai bersiap menebas sang Dewi Karunia.


Dan tiba-tiba 'Buak' suatu serangan yang tak dapat dihindari Nerta, pukulan dari angin yang melindungi sang Dewi Karunia berhasil menyeret Nerta hingga harus terpelanting sejauh 100 meter dan membentur batang pohon 'Bledaar' sangat keras hingga cekungan yang dalam terbentuk pada batang pohon itu.


Gagal bola-bola energi dari berbagai cahaya yang Nerta lakukan, sang Dewi Karunia tengah berusaha membuka gerbang Karunia-Nya.


Dengan tertunduk dan mendepang tangan, sang Dewi Karunia membaca ayat-ayat Kehidupan.


“Dengan karunia-Nya, terbukalah napas sang Siluman!”


Maka 'BOOMM' gelombang udara pecah hingga menampilkan tubuh sang Dewi Karunia yang berbeda; sayap kiri seperti kelelawar terbentuk, setengah tubuh Dewi Karunia menjadi seekor siluman.


“Dengan karunia-Nya, terbukalah napas sang Peri!”


Dan saat ayat kedua itu dilantunkan lagi, 'BOOMM' gelombang angin pecah dan menampilkan wujud sang Dewi Karunia yang berbeda; sayap kanan terbentuk yang menyerupai sayap peri bangsa Barat dengan setengah tubuh seperti seorang Peri.


Lantas terbang tinggi 'Woush' setinggi 50 meter dari akar pohon menghadap kedua bocah Peri; Quin serta Darko.


Kini wujud Dewi Karunia berbeda; tubuh kirinya adalah siluman lengkap dengan kemampuannya dan tubuh kanannya adalah peri lengkap dengan ilmunya. Jubah nuansa hitam dan putih yang sekarang membalut tubuhnya, dan rambut lurus sang Dewi Karunia membentuk api nuansa abu.


“Gawat, kalau begini ... kita sama saja melawan seorang 'Pengenal',” protes Darko dengan kepalan tangan ke depan, kesiapan menyerang atau bertahan.


Quin hanya diam dengan irama jantung yang jadi lebih giat, tangan mengepal karena bersiap-siap, napas naik turun agar tetap terjaga dan pandangan tajam pada Dewi Karunia penuh waspada.


Mau tidak mau suasana jadi lebih menegangkan.