
Keadaan nampak krusial, perjuangan impresif Haro malah menjadikan perdebatan bagi rekannya, untung telinganya tak mendengar kalimat-kalimat yang sebenarnya bisa menyakiti hatinya.
Dan tak sedikit pun Putri Kerisia hendak berspekulasi, dia memang benar-benar fokus untuk mengenali lawannya, penting dalam pertarungan mengenali lawan lebih dulu, agar sekiranya setiap tindakan tak masuk kategori gegabah. Pandangannya kini serius, setiap gerak gerik siluman dipantaunya begitu intensif.
“DASAR PAYAH! KITA HARUS MEMIKIRKAN KESELAMATAN SEMUA ORANG!” bentak Logia.
“KAU YANG PAYAH! JUSTRU INI DILAKUKAN DEMI KESELAMATAN!” sergah Arkta.
Masa bodoh dengan debat rekannya, Haro menguatkan diri menghalau setiap tembakan siluman raksasa itu, badannya sudah terluka, bahkan sayapnya acap kali harus terkena bola energi hitam siluman.
'Buafs' 'Buuff' 'Buuff' 'Buafs' puluhan bola energi hitam mencecar Haro tak henti, sampai-sampai Haro harus bergigit menahan sakit, dia sudah diambang batas bertahan, kemungkinan besarnya dia akan kalah.
Tapi, dua rekannya yang tengah berdebat tiba-tiba saja terperenyak oleh kalimat perintah dari sang ketua tim.
“MENUKIK DELAPAN PULUH DERAJAT!”
Sontak segala perdebatan terhenti dan sekonyong-konyongnya mereka langsung melaksanakan perintah Putri Kerisia, bergerak cepat, terbang ke arah kiri.
Bersamaan dengan kejadian cepat itu siluman raksasa sama sekali tak menyadarinya, dia terlalu fokus pada Haro.
'Waaannnng' laser hijau siluman langsung menyorot ke langit sejauh 1000 meteran, sedangkan Putri Kerisia mulai terbang agak menukik dan membuat sorot laser tertuju pada tubuh siluman raksasa itu.
Laser nuansa ungu kini sukses menyorot tubuh raksasa itu, 'Blassssshh'. Akan tetapi di lain sisi secara bersamaan Haro pun telah tak berdaya, lemah tertembak ratusan bola energi hitam siluman raksasa, dia bahkan langsung terhunjam menuju daratan.
“GHRRRROOOOOAAAAAARRRR ...!”
Maka meraunglah siluman raksasa karena rasa sakit, melenyapkan laser hijaunya, menghentikan tembakan energinya, memacu adrenalinnya bergejolak. Badannya tersorot laser ungu dari samping kiri sang siluman.
'Blassssh' laser menyorot bersama berlalunya waktu dari detik ke detik.
Terlebih melihat keberhasilan ini Arkta sampai berkomentar, “Ketua tim memang hebat, kita berhasil menyerang!”
Komentar yang lebih menyanjung Putri Kerisia itu hanya ditanggapi oleh raut muka senderut dari Logia, dan dalam kecemburuan sosialnya, dalam pikiran mencari-cari kesalahan Putri Kerisia, dalam hatinya pun nyeletuk, “Huh ... mengorbankan Haro, tentu saja ini bukanlah hal baik.”
Terus dilakukan serangan laser itu selama waktu berlalu, mempertontonkan kejadian dahsyat itu dalam lingkup raungan siluman yang meleburkan sunyi. Walau nampak seperti mengorbankan teman sendiri, Putri Kerisia menganggap ini kerja sama tim.
Api pada tubuh siluman raksasa itu mulai lenyap, lebih-lebih seluruh api yang membalut kepalanya perlahan pun ikut sirna, dan bersama berlalunya waktu siluman raksasa itu nampak mulai melemah. Itu terlihat dari dirinya yang tumungkul dengan mendengus-dengus dalam kepasrahan.
Tapi di sisi lain bersama berlangsungnya kejadian itu, Haro nampak telah berdiri sekitar 200 meteran dari posisi siluman raksasa itu. Haro berdiri tegap dengan tubuh yang telah pulih seperti sedia kala.
Dia lupa mengapa dirinya ada di sini, hingga kepalanya menoleh pada sumber laser ungu yang lantas memandangi siluman raksasa yang disorot oleh laser itu, butuh lima detik memandangi kejadian dahsyat dan bercahaya itu sebelum akhirnya Haro menyadari kalau dirinya memang tengah bertarung bersama rekan-rekannya untuk membinasakan siluman raksasa itu.
“Ahh ...,” katanya dan hanya itu yang diucapkan.
Tapi konyolnya Haro hanya mematung di tempatnya menikmati suguhan kejadian yang mengesankan baginya itu.
Dan bersama konsentrasi Putri Kerisia, siluman raksasa itu pun pada akhirnya ambruk ke tanah, membuat tanah berdebam, mengepul sekaligus telah hilang api yang menyelimuti tubuh siluman itu.
Karena itulah, laser ungu yang dipancarkan Putri Kerisia ikut sirna, menghentikan serangannya dan ke dua rekannya mulai melepaskan tangannya dari sayap Putri Kerisia, menghilangkan formasi B, dan terbang sebagai mana adanya, begitu pun Putri Kerisia, terbang sebagai mana adanya.
“Apakah kita berhasil?” tanya Logia memastikan.
“Kayaknya kita berhasil nih!” timpal Arkta yang sudah menyimpulkan keberhasilannya.
Dan Haro nampak baik-baik saja, walau tak tersenyum karena rekan-rekannya berhasil, dia tetap bersyukur akan keberhasilan itu.
Tubuh siluman yang telungkup telah menghitam arang bukan karena kulit normalnya, melainkan karena hangus oleh laser ungu, terlebih bulu-bulu nuansa hitamnya kini telah hilang dan kepala singanya nampak botak, sehingga malah terlihat seperti kepala kucing spinx.
Namun tunggu dulu!
Baru saja mengembuskan napas syukur, siluman raksasa itu tiba-tiba bergerak, yang awal spekulasi telah tewas namun dalam realitas kebenaran, dia masih hidup. Bahkan lebih dari itu, tubuh hitamnya mulai kembali memunculkan bulu-bulu hitam lebatnya, dia sembuh kembali!
“Payah, ini belum usai!” umpat Logia.
“Sialan, dia masih bertahan!” timpal Arkta tak menduga.
Hanya Putri Kerisia yang nampak santai dengan raut muka datarnya, tanpa mengeluh.
Mula-mula tangan siluman itu yang bergerak, berusaha menopang tubuh untuk bangkit berdiri.
“Bagaimana bisa, siluman itu bertahan?” heran Arkta dengan raut muka serius.
“Ini hal wajar, siluman memang tak bisa mati,” kata Logia yang berpendapat.
“Kalau pun tak bisa mati ... dia harusnya kembali pada alam Siluman,” sanggah Arkta.
“Menurut firasatku ... siluman ini dulunya penyihir, dia mampu menolak beberapa sihir yang menyerangnya karena eksperimental sihir yang dia buat, berhasil,” beber Putri Kerisia yang terlihat spekulasi namun fakta adanya; hasil dari telaahnya.
Dan bersamaan dengan keterangan itu, siluman raksasa kembali bangkit berdiri, kembali pada tubuh utuhnya; berbulu, kepala yang ditumbuhi bulu-bulu layaknya singa, badan berotot, netra hitam gelap, gigi-gigi runcing, kekuatan yang kembali pulih. Dia telah berdiri tegap seolah tak terjadi apa pun.
“Itu artinya ... tak semua sihir bisa dia halau?” usut Arkta penasaran.
“Ya ... menurut firasatku demikian,” balas Putri Kerisia membenarkan.
“Hedeeeeeh ... firasat lagi,” keluh Logia.
Maka dengan kembali memupuk semangat, dengan meregangkan ke dua tangan, dengan tanpa merasa sungkan, Arkta terkesiap dengan ronde selanjutnya, hingga berujar, “Ayo kita habisi dia, aku sangat menyukai lawan yang kuat.”
“Sebaiknya kita kabur ... yang kita cari bukanlah siluman, ini bisa banyak memakan waktu,” saran Logia.
“Haah ... apa kau ingin mengaku kalah, ha?” sindir Arkta dengan melakukan gerakan pemanasan seperti olah raga.
“PAYAH KAU! AKU TIDAK MENGAKU KALAH, JUSTRU AKU INGIN KITA MEMAKSIMALKAN WAKTU YANG ADA!” sergah Logia tak terima sindiran Arkta.
Tapi dengan raut konyolnya dengan bersedekap tangan Arkta malah membalas, “Ahk masa sih, biasanya juga kau 'kan sudah kalah sebelum bertarung.”
Maka dengan geram Logia pun terbang menuju Arkta hendak memberinya pukulan pelajaran.
“Payah kau! Sini kau, kuberi kau pelajaran penting!” kata Logia.
Namun demikian Arkta malah kabur dengan terbang mengelilingi Putri Kerisia, seraya meledek, “HaHa ... Logia si kalah yang belum bertarung ... haha ... Logia si kalah yang belum bertarung ....”
Menyadari tingkah kekanakan dua rekannya itu hanya masa bodoh yang Putri Kerisia lakukan, justru saat ini pandangannya tengah tertuju pada siluman raksasa yang berada 100 meter darinya.
Dan pastinya, siluman raksasa itu telah berdiri tegap menghadap kearah Putri Kerisia, bersiap untuk menyerang.