
Di kota Barata, kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung terbuat dari batu berlian, di hari yang cerah dalam langit biru membentang dengan dihiasi awan-awan putih seperti kapas.
Pelajaran SMP kelas 9 kini tinggal menunggu bel pulang sekolah. Di gedung yang berbentuk 'C' bila ditilik dari atas ini adalah tempat di mana anak ke 2 Ketua Hamenka bersekolah.
Pada detik itu juga, seorang pria dewasa yang menjabat sebagai guru, masih sibuk memaparkan penjelasan mengenai gaya tarik suatu planet hanya dengan unsur panas dari elektomagnetik yang ada pada bintang Aetaz.
Di kelas ini tak ada papan tulis atau pun meja, pancaran gambar hologram dari jam tangan seorang guru adalah media penyampai materi pelajarannya.
Kelas 9-Z ini terbentuk dari bebatuan Ruby serta safir dengan dominan batu safir yang menjadikan nuansa kehijauan lebih berpancar luas.
Terlebih hanya 25 murid yang menghuni kelas ini dan didominasi oleh kaum wanita. Seluruh murid duduk di awan khusus yang mengelilingi sang guru, tentulah semua murid mengandalkan pula 'jam tangan pintarnya' untuk menyimpan materi pelajaran. Dan sistem sekaligus gaya pendidikan seluruh sekolah di ras Peri memang demikian, meski faktanya ada sedikit sistem yang diubah setelah Pangeran Azer menjadi raja.
Sementara, busana para pelajar dibebaskan asalkan sopan.
Hingga yang waktu berlalu tanpa terasa, bersama bel yang berdering, pelajaran siang ini seketika disudahi. Membuat beberapa murid mulai terbebar menuju peraduannya atau kalau sempat pergi bermain.
Tak ada pelajaran tambahan membuat Nerta pun mulai pergi untuk pulang. Sebelum itu terealisasi, mengingat Nerta adalah seorang pahlawan di kota Barata, tentulah beberapa penggemarnya yang notabene kalangan remaja nampak kembali berkerumun di halaman depan sekolah.
“Nerta ...!”
“Nerta ....”
Seruan-seruan kegembiraan penuh kagum bergaung-gaung dari beberapa remaja wanita, merebakkan suasana ramai pada kenyataan, yang melambungkan nama Nerta dalam sanjungan. Dia —Nerta— begitu tampak dicintai dan dihormati oleh para penggemarnya, terlebih selepas keberhasilannya banyak menyelamatkan anak-anak yang diculik, pujian serta kehormatan semakin jauh meninggikkan Nerta sebagai pahlawan termuda di kota Barata, provinsi Barat ini.
Dirinya serta teman-temannya cukup termasyhur di kalangan para pendekar dan petualang. Gelar pahlawan yang didambakan, yang dikejar-kejar sebagai suatu cita-cita termulia, yang dipuja-puja sebagai arti hidup, berhasil mereka renggut untuk dinikmati dan dijalani.
Kini Nerta tengah berdiri di tengah-tengah penggemar tercintanya, menyapa dan bertegur sapa telah menjadi bagian jadwal hidupnya.
Seluruh raut muka ceria nan antusias begitu terlukis kentara di setiap remaja yang hadir. Mereka bahkan sempat-sempatnya bercerita tentang hidup yang dilalui.
Momentum itu dinikmati baik-baik oleh Nerta, roman semeringahnya pun menyambut baik setiap cerita-cerita pengalaman hidup para penggemarnya, hati kecilnya mengalami kehangatan dari keramah-tamahan yang dipersembahkan oleh para remaja yang hadir. Bukan itu saja, beberapa di antara mereka ternyata termasuk anak yang diselamatkan Nerta saat senantu.
Hadiah pil-pil disuguhkan pula hanya untuk Nerta serta teman-temannya, yang tentu Nerta menerimanya dengan penuh syukur dan berterima kasih.
Lebih dari itu!
Cerita-cerita lucu yang sempat tertuang dalam kenyataan kini membuncahkan gelak tawa dari setiap pribadi yang hadir, tak ada kecanggungan antara penggemar dan sang idola, laksana teman dekat yang sudah selayaknya bercanda riang gembira.
Oleh sebab itulah, suasana damai di halaman sekolah ini pastinya teralihkan oleh keriangan remaja-remaja yang bersua dengan idolanya.
Kendati realitas memancarkan kegembiraan, waktu yang berlalu tak dapat ditampik. Untuk itulah disela-sela waktu yang berputar apatis, seluruh remaja mesti menjeda tawa dan ekspresi gembiranya demi menghadapi kehadiran seorang pria dewasa dalam reaksi keheranan dan penuh tanya.
Karena telah hadir Ketua Hamenka di dekat seluruh remaja yang ada. Dirinya berdiri tegap dan mengundang tanya dalam setiap kepala remaja, terutama Nerta yang cukup terkejut atas kehadiran tak diundang itu.
“Mari kita pulang bersama, mumpung belum sore ...,” jawab Ketua Hamenka mengajak anaknya dalam suatu tujuan.
Ada momen yang malah diisi oleh kebisuan mutlak, seluruh pusat perhatian kini dominan pada Nerta, seakan sangat ingin tahu keputusan apa yang akan Nerta persembahkan untuk ajakan ayahnya itu.
Tetapi dalam waktu berlalu, Nerta membiarkan sejenak dirinya dalam sengap, tatapan iris hitamnya justru jatuh pada rumput putih yang diinjak kaki ayahnya. Di sana bukannya menjawab dirinya malah betah dalam diam penuh rahasia.
Terpiculah Hamenka untuk sekali lagi mencetuskan kalimat ajakannya. “Ayo Nak, kita pulang bersama, soalnya ayah akan ada jadwal dengan seorang murid ....”
Entah mengapa kalimat itu malah berkontraksi dalam hati Nerta sebagai suatu afektif, membuncah emosi itu menjadi emosi berang, wajah malasnya mulai tergerak menjadi raut muka penolakan dan menyiratkan marah karena tersindir.
“Aku sibuk ayah ... maaf, hari ini aku akan ada misi dan teman-temanku menantiku ...,” ungkap Nerta yang bahkan enggan menatap wajah bercahaya ayahnya, kesan tak suka dan apatis terpampang jelas darinya.
Anak itu, iya, Nerta anak yang gengsi untuk meluapkan ekspresi sayangnya pada orang tua, Nerta yang semakin beranjak dewasa semakin gengsi berjalan bersama orang tuanya.
Baginya terkesan jijik dan kekanakan bila dirinya atau anak-anak seusianya harus pulang sekolah dijemput atau diantar oleh yang namanya orang tua. Gengsi juga untuk bersikap manis pada orang tuanya dimuka umum, seolah sangat culun dan tidak modern.
Akan hal rumit yang kini tengah dilanda oleh anak seusianya, Ketua Hamenka cukup memahaminya, namun ada hal penting yang mendorongnya untuk sekali lagi bicara, “Nak, ayah hanya sebentar ....”
Sayang sekali perkataan itu belum rampung gegara Nerta dengan nada tinggi mengandung penolakan mencetuskan kalimatnya. “Aku sibuk ayah! Aku seorang yang sibuk ... seorang ayah mestinya memahami ini ... jadi ... aku tidak bisa ....”
Sontak segenap suasana yang ceria mulai bersinergi bersama hawa kecanggungan, kecanggungan yang terbentuk itu pun hingga dihiasi oleh kebungkaman absolut dari seluruh remaja.
Wajah ceria yang sempat eksis mesti tergantingan sementara oleh raut merenung dari seluruh remaja, yang menjadi senyap dalam sengap, kalimat Nerta cukup menyentak kenyataan kalau ucapan seriusnya wajib digugu!
Mulanya Ketua Hamenka pun membisu, dirinya tak mungkin juga memaksa anaknya, namun demikian, detik-detik kebisuan yang berlangsung mulai dibuyarkan oleh ucapan kepasrahan dari Ketua Hamenka. “Ya sudah ... maafkan ayah sudah mengganggu ....”
Nerta diam memalingkan pandangan dalam gusar dan gengsi. Masa bodoh dengan kehadiran ayahnya, yang malah membuat kini kesan pahlawan pada Nerta harus luluh gegara yang namanya orang tua, terlebih kehadiran orang tua semakin mengenyampingkan lebel seorang 'pahlawan yang kuat' dan malah menonjolkan sisi kekanakan —lemah— dari Nerta. Sungguh memalukan dan sial!
Maka tergeraklah Ketua Hamenka untuk memutar tubuh ke belakang bersiap untuk pergi, memasrahkan diri dalam penolakan anaknya dan dengan yang namanya ketulusan seorang ayah, Ketua Hamenka merelakan penolakan kasar itu.
Dirinya mulai memanifestasikan pintu teleportasi menuju suatu tempat.
Bahkan yang mestinya Ketua Hamenka pergi dengan tenang, justru itu sedikit dinodai oleh kalimat ketus dari Nerta. “Dan tolong jangan sebut aku, Nak ... aku sudah cukup dewasa ....”
Tetapi demikian, Ketua Hamenka menyikapinya dengan santai, lebih-lebih sebelum pergi dirinya menyempatkan menyempilkan sedikit tawa dalam kalimat kepasrahannya. “Hehehe ... iya, maaf ... Nerta ....”
Tak menggubris, Nerta dalam sikap malas nan gengsi itu membiarkan ayahnya pergi menanggung penolakan, lalu hilang dari tempat ini.
Segala kegembiraan dari para penggemarnya pun kembali membuncah melingkupi suasana, tak menjadikan kejadian tadi sebagai suatu masalah, toh memang tak terlalu penting juga, dan untuk itu, Nerta segera melanjutkan lagi arti hidupnya. Mengukuhkan selalu gelar kepahlawanannya dan impiannya kini tak lain hanyalah supaya selalu mampu mempersembahkan kebahagiaan bagi masyarakat.