Nurvati

Nurvati
Episode 167: Memasrahkan Getir Kenyataan.



Suatu tugas dan panggilan penting membawanya ke sini, seperi dedaunan yang pasrah membiarkan sang udara bertiup membawanya.


Cerah hari yang semakin lama semakin berlalu seiring detik demi detik menuju jam.


Segarnya udara hari ini dinikmati benar-benar oleh Ketua Hamenka, beliau menghanyutkan segenap perasaan tenangnya pada kedamaian tempat hamparan rerumputan nuansa pingai ini.


Ini adalah penantiannya, seorang murid yang baginya berbakat akan mungkin menjadi pembuka kejayaan ras Peri, dia menantinya dalam santai dan kesendiriannya dinikmati penuh suka cita. Sayap kanannya pun terlihat telah tumbuh kembali.


Butuh empat jam waktu terhabiskan hanya untuk melihat kedatangan Nurvati dan angsa putih.


Bersama keadaan yang baru serta semilir angin melingkupi suasana, Nurvati telah sampai di sini, dirinya sampai ke sini pun dengan berlari.


Karena telah lenyap ilmu Hikmah pada diri Nurvati, netra hijau seperti ularnya kembali terpancar dengan wajah oval mulusnya kembali kentara dan rambut hitam yang tergerai berkilaunya terpampang nyata. Selebihnya adalah gaun nuansa kehijauan bertatahkan batu safir yang berenda dibagian roknya menjadi penampilannya kini.


Berkat keberanian Nurvati menghapus ilmu Hikmah-nya, Ketua Hamenka sampai-sampai melontarkan sanjungan sebagai apresiasinya. “Bagus, kau hebat merelakan ilmu itu ....”


”Iyaaaa ... mau bagaimana lagi, gegara penasaran aku ingin buru-buru tahu identitas asliku ... lagian aku dengar-dengar ilmu Diri Asli sangat luar biasa ... hehehe ...,“ balas Nurvati dengan santai hingga menggaruk-garuk bahu kanannya.


Disela momentum itu terjadi kebisuan untuk sesaat, mereka berdiri menyisakan jarak 5 meter dalam menghadap satu sama lain. Ini adalah akhir yang akan menjadi titik balik kehidupan Nurvati.


“Nah ... kalau memang sudah siap, kita bisa memulainya ...,” ungkap Ketua Hamenka dengan tegas tak mau membuang banyak waktu.


Namun konyolnya, dengan santai tanpa merasa bermasalah Nurvati malah nyeletuk, ”Hmmmm ... ketua, bagaimana kalau aku tidur sebentar ....“


Mendengarnya, Ketua Hamenka hanya tetap santai dengan berujar, ”Disaat-saat penting begini kau malah mau tidur siang?“


”Hehehe ... maaf maaf ketua, akhir-akhir ini aku memang selalu dilanda kantuk, entah kenapa begitu, tapi sih ... selama enak ya, dijalani saja ...,“ sahut Nurvati mengklarifikasi.


Hanya manggut-manggut Ketua Hamenka menanggapinya, tak begitu ambil pusing.


”Ya sudah, sekarang aku siap untuk berlatih!“ kata Nurvati dengan antusias dalam pancaran roman semeringahnya. Yang otomatis menunda dulu tidurnya.


Tetapi disela waktu yang ada, Ketua Hamenka malah melontarkan kalimat tanya. ”Oh, iya Nurvati ... ketua cukup penasaran ... apa yang membuatmu nampak berubah drastis?“


Agak kaget Nurvati mendengarnya, ia menduga Ketua Hamenka masih memandang Nurvati sebagai wanita labil.


”Eh ... jadi ketua mengakui kalau aku sudah berubah?“ tanya Nurvati memastikan.


Hanya mengangguk Ketua Hamenka sebagai mengiakan pertanyaan itu.


”Wah wah wah ... baguslah kalau ketua sadar juga,“ kata Nurvati dengan berkacak pinggang dalam senang penuh syukur.


Menjadikan Nurvati dengan sikap santai dan seriusnya menjelaskan sedikit penyebabnya berubah. ”Katakan saja ... seorang yang paling berharga dalam hidupku membuatku harus berubah ... dan aku sangat yakin ... kalau suatu saat nanti ... aku pasti akan kembali bertemu dengannya.“


Ketua Hamenka meresapi baik-baik perkataan Nurvati itu dan menganggapnya sebagai fakta yang berakhir positif. Dan tak ada yang lain kecuali hanya sebatas ingin tahu saja.


Bersama siur angin dari Utara yang menggerak-gerakkan rerumputan, Ketua Hamenka justru malah memberikan sebuah buku dengan sampul emas pada Nurvati, seraya dengan serius berkata, ”Nurvati, lakukan tahap demi tahap apa pun yang tertulis di buku ini dan bila kamu telah sampai pada Diri Asli ... maka kamu boleh meninggalkan buku ini dan mulai mempelajari semuanya dari Diri Asli-mu dan kehidupan bermasyarakat ....“


Tercenung Nurvati di sana, raut mukanya malah seketika menyiratkan keheranan, hingga secara perlahan kakinya mulai melangkah mendekati ketua Hamenka dan dengan rambang menjawat buku tersebut.


Akan tetapi kebingungan kini menjerat pikirannya, masih memampang wajah herannya dalam kernyit kening dan tatapan aneh pada wajah bercahaya Ketua Hamenka. Maka tercetuslah pertanyaan penuh penyelidikan darinya. ”Loh ... kenapa tidak langsung dengan ketua saja?“


Sebuah pertanyaan yang mau tidak mau menguak segala tujuan dalam kepala Ketua Hamenka, sebuah fakta yang terpaksa mesti dibeberkan, tetapi itu pun dengan berkelir. ”Nurvati ... berjuanglah, ketua divonis mati oleh atasan ketua ....“


Sontak jawaban itu berhasil membuat Nurvati berbuntang dalam kaget penuh tanya, terpaku sejenak dengan hati yang sempat tergetar sedih.


”Jangan bercanda ketua!“ sentak Nurvati menolak segala kenyataan menyedihkan yang mungkin tersuguh.


Karena tak mau juga membuang waktu lama, tanpa sungkan Ketua Hamenka mundur beberapa langkah, lantas dengan tetap terdengar tegar dan santai, dirinya berujar, ”Nurvati, pelajari saja buku itu dan ... berjuanglah ....“


Kemudian dirinya memutar badan memalingkan segala kenyataan dari hadapan Nurvati, yang otomatis membentuk kenyataan baru yang tak terduga; Ketua Hamenka akan pergi selamanya. Terlebih detik itu juga dirinya langsung memanifestasikan pintu teleportasi menuju suatu tempat.


”Te-tetapi ...,“ gumam Nurvati dengan tertunduk kelesah hingga jemari tangannya mengerat memegang buku itu, seolah berusaha kuat-kuat menahan beban kenyataan pahit.


”... APA YANG SEBENARNYA TERJADI?“ sentak Nurvati benar-benar tak mengerti dan memaksa ingin tahu.


Sentakan itu syukurnya berhasil sejenak menunda kepergian Ketua Hamenka, dirinya tertegun di depan pintu, lantas tanpa ragu menjawab, ”Nurvati ... ketua membelot untuk menyepakati kebenaran perang dunia ini dan semua pembelot akan dihukum mati.“


Cukup eksplisit penjelasan itu, tetapi masih mengandung celah untuk dipertanyakan, maka Nurvati kembali menyelidik. ”Lalu kenapa ketua tidak sepakat saja?! Atau ketua habisi saja semua orang-orang itu, bukankah ketua sudah sampai pada Diri Asli?!“


Terdengar masuk akal komplain dari Nurvati, sampai-sampai Ketua Hamenka berani mencetuskan alasan tekadnya menjadi pembelot. ”Nurvati ... meski ucapanmu terdengar penuh pengharapan ... tetapi kenyataannya, tak ada yang pernah bisa lolos dari hukum ....“


”Lalu untuk apa aku mempelajari semua ini?!“ keluh Nurvati dengan sekuat tenaga untuk tetap tampil tegar dalam bimbang penuh tanya.


”Untuk menghadapi kematian dengan tenang dan bahagia ...,“ jawab Ketua Hamenka dengan lantang tanpa ragu dan tetap terlihat santai. Bahkan bila pun tak ada cahaya di wajahnya, tentulah senyuman syukur mengembang indah di wajah kakunya.


Kalimat itu menjadi penutup termanis bagi Nurvati dan menjadi kata-kata terakhir dari Ketua Hamenka, dirinya langsung mendedah pintu sekaligus meninggalkan Nurvati bersama angsanya.


Angin saat itu bersiur tanpa masalah, perasaan getir telah membuncah dalam diri Nurvati, menanggung beban emosi kelesah, di sana tanpa tahu harus berbuat apa, hanya memakukan diri nampak tak berdaya.


Lalu didekap begitu erat buku bersampul emas itu dengan menahan beban kepasrahan.


Terpaku di sana bersama berputarnya waktu, merenungi lagi setiap momen yang sempat tersaji, seperti ada hal besar yang telah dilewatkannya dan Nurvati tak boleh tahu.


Sedangkan sang angsa putih hanya berdiri begitu polos tanpa masalah. ”Ngok ngok ....“


Kendati demikian, Nurvati yang terjerat getir dan kelesah, dalam raut muka kebingungan, secara impulsif mulai berlari meninggalkan tempat tersebut.


Dirinya berlari dengan masih diikuti angsa putih, karena bagaimana pun, hal ini mesti dikonfirmasi lagi pada keluarga Ketua Hamenka. Yang bahkan ada sedikit pengharapan kalau kenyataan pahit tadi tidak benar, atau hanya iseng semata.


Kini Nurvati berlari secepatnya menuju tempat kediaman Hamenka berusaha mencari informasi lagi yang akurat.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)