
Berbarengan dengan wajah yang diangkat Putri Kerisia, dalam hati hancur namun tetap menyunggingkan senyuman tenang bersandiwara, dia melanjutkan perkataannya. “... aku kira, cinta yang tulus akan dibayar manis ... tapi nyatanya tidak.”
Sang Pangeran pun tumungkul dengan berujar, “Maafkan saya, Putri Kerisia.”
Mendengar itu, malah membuat Putri Kerisia terdekah, “HA-HA-HA-HA ....”
Tawa itu menciptakan visual aneh; keanggunan sang Putri entah mengapa terasa lenyap sekejap mata, dan itu karena gelak tawa yang baru pertama kali didapati Pangeran Awarta; gelak tawa yang tak biasa dilakukan Putri Kerisia. Gelak tawa yang memudarkan kesan anggun seorang Putri.
Pangeran Awarta lantas mengernyit kening kebingungan, sampai kembali menolehkan wajah hanya untuk memandang keganjilan sang Putri.
“Kau tak perlu meminta maaf, karena akulah sang Penyelamat itu,” sahut Putri Kerisia dengan berusaha membalikan fakta. Tepatnya; ingin diterima cintanya.
Tak percaya, itulah tanggapan sang Pangeran, sehingga dia berani membantah, “Tidak, sang Penyelamat itu tak akan mengakui dirinya dengan kata-kata, dan dia bukan dari keturunan para bangsawan atau pun para Raja.”
Lalu sang Putri menunduk diam melafalkan mantra dalam hatinya. Sang Pangeran yang merasakan keganjilan pun langsung melompat terbang menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Namun sayang sudah terlambat.
Sedetik kemudian, dari belakang sang Pangeran Awarta, Putri Kerisia telah terbang di sana, seraya berujar, “Ikutlah denganku.”
Hanya kata 'sial' yang mencuat dari mulut Pangeran, sebab, kala telapak tangan kanan sang Putri menyentuh punggung Pangeran, mereka tiba-tiba saja berpindah tempat, pindah dimensi, ruang dan waktu. Telah dibawanya sang Pangeran Awarta pada tempat belum dikenal.
Sebuah tempat dengan hamparan pasir nuansa hijau, disertai langit biru keunguan yang diperindah oleh awan-awan putih yang menumpuk, angin kencang dan cuacanya terik panas menyengat. Bonusnya sepi nan sunyi bak tak pernah ada yang sanggup hidup di tempat ini.
Dan di atas pasir, mereka telah berdiri saling menatap dengan intens dalam jarak 3 meteran. Sang Putri yang tak lekangnya mengembangkan senyuman termanis mengandung kejahatan serta sang Pangeran Awarta yang memasang mimik wajah serius dalam getir dan penuh tanya. Mereka kini berada diambang pertumpahan darah. Ya, bertumpah darah hanya karena mereka tak bisa menerima keputusan masing-masing; perbedaan rasa.
“Apa yang kau harapkan dariku, Putri Kerisia?” usut Pangeran.
“Aku tidak ingin kau hidup di dunia dengan tenang, sebelum kau mengakuiku sebagai Malaikat Penyelamat itu, atau setidaknya, kau harus hidup dalam kesengsaraan,” jawab Putri Kerisia dengan menyeringai dalam tatapan intimidasi. Meski sebenarnya, niatnya hanya ingin merengkuh keadilan daripada cinta yang ditolak. Adil menurut perspektif Putri Kerisia adalah pembalasan.
Jawaban itu telah membentuk keheranan dalam jiwa Pangeran Awarta, bersama kernyit keningnya, ia hanya berkata, “Kau gila, Putri Kerisia.”
“IYA! KARENA DI DALAM CINTA SELALU ADA KEGILAAN,” balas Putri Kerisia dengan lantang nan dinamis. Lalu berujung dengan berdekah, “Huahahahaha ....”
'Tap' itu adalah suara kedua telapak tangan Putri Kerisia yang saling ditempelkan, seraya berujar, “Akan aku segel jiwamu di sini, sehingga kau hanya akan menderita di alam Peri, kecuali kau, mengakuiku sebagai sang Penyelamat!”
Netra sang Pangeran pun membulat, berbuntang tak menyangka. Tapi buru-buru dia terbang melesat dengan mundur menjauh dari sang Putri. Hal ini sudah di luar dugaan, dan tak dapat ditoleransi. Maka dengan kemampuannya, Pangeran Awarta berusaha membentuk pintu teleportasi dengan ilmu 'Cahaya-nya'. Dari telapak tangannya memancarkan cahaya, demi membentuk pintu keluar. Dia berusaha melarikan diri.
Pintu keluar tak berhasil dibentuk, justru Pangeran Awarta bisa mendengar suara Putri Kerisia dari jarak 30 meteran dan itu cukup tedas.
“Kau tahu, aku bisa saja menyihirmu dari jarak jauh, tanpa perlu membawamu ke alam 'Tanduk Pertama-ku', tapi sayang, kemurkaanku tak bisa dibendung lagi, dan aku ingin dihibur saat patah hati ini.”
Saat Pangeran Awarta masih melayang di atas tanah setinggi 2 meter, tiba-tiba, dari bayangan Putri Kerisia, muncul anak-anak Satan-nya. Bukan tercipta 7 atau pun 20 melainkan puluhan anak-anak Satan yang tercipta, dan mereka berlari cepat menuju Pangeran Awarta. Terkekeh penuh kegilaan.
Satu konklusi yang didapat dari kejadian ini; Pangeran Awarta mesti mengalahkan Putri Kerisia agar mampu keluar dari alam 'Tanduk Pertama' ini. Maka dengan gagah berani, tangan kanan sang Pangeran membentuk sebuah busur, dan tangan kirinya membentuk sebuah anak panah dengan ujung gelembung air.
Ketika ratusan anak-anak Satan berlari mendekati Pangeran Awarta, dengan konsentrasi penuh, ia langsung melesatkan satu anak panahnya, melesak menerjang angin. Dan suara 'Boom' adalah ledakan air di antara kerumunan anak-anak Satan, menghancurkan tubuh anak-anak Satan berkeping-keping.
Kendati nyatanya, itu sama sekali tak berguna, jumlah mereka terus bertambah, dan tak bisa diserang seperti itu!
Kedua sayap Pangeran Awarta mengepak, terbang lebih tinggi, tinggi setinggi 15 meter, busurnya dimusnahkan dan tangan Pangeran Awarta pun mendepang, kedua matanya mulai terpejam, dan kakinya berpose seperti duduk bersila; dia hendak menggunakan kekuatan Dewa-nya.
Keanggunan sang Putri telah beralih menjadi keganasan, ia tak peduli lagi pada adat kesopanan, itu kini jadi tak berarti. Dan ketika para anak-anak Satan-nya telah berdiri di bawah Pangeran, Putri Kerisia menyadari rencana Pangeran Awarta, sampai Putri Kerisia bergumam, “Huh ... langsung menggunakan kekuatan wujud asli ....”
Saat itu, batin sang Pangeran bicara kepada diri aslinya, “Izinkan aku untuk menggunakan sedikit rahmat-Mu.”
Secara ajaib, kedua sayap Pangeran Awarta bercahaya semakin terang, putih terang benderang, lalu kedua sayap itu bergerak menuju ke bawah tangannya; kedua sayapnya membentuk dua tangan baru.
Lebih dari itu, di keempat tangan sang Pangeran, di setiap ujung jari telunjuknya yang diangkat, terdapat galaksi kecil yang bintang-bintangnya mengitari pusatnya.
Pusat galaksi itu yang pertama, ialah air, letaknya di telunjuk tangan kanan atas, dan yang kedua, api, yang letaknya di telunjuk tangan kanan bawah, yang ketiga, tanah, yang letaknya di telunjuk tangan kiri atas dan yang terakhir angin, yang letaknya di telunjuk tangan kiri bawah. Keempat elemen yang menjadi pusat gugusan bintang, yang membentuk seperti galaksi, simbol sang Dewa yang agung nan tinggi; Dewa Awarta.
Kelopak netra Pangeran Awarta terpejam, dan dari dadanya, sinar hitam mencuat sebagai penglihatan sekaligus pembicara ke-Dewaan-nya. Kulit putihnya memancarkan cahaya berkilauan. Masih melayang di udara dengan berpose duduk bersila.
Keajaibannya tak sampai disitu saja, dari belakangnya, muncullah para pasukannya; bala tentara sang Dewa Awarta.
Bala tentara itu muncul dari pusat galaksi di tangannya, muncul sesuai elemen masing-masing; air yang berwujud seperti manusia, dengan seluruh tubuh diliputi air, begitu pun dengan elemen yang lainnya, bala tentara dari air berada di lini paling atas, kemudian dalam jarak satu meteran, bala tentara api berada di bawahnya, lalu di bawahnya lagi dalam jarak dua meteran terdapat bala tentara angin dan di lini paling bawah dalam jarak tiga meteran adalah bala tentara dari tanah. Berderet dan berjajar-jajar sebagai bukti kekuatan sang 'Dewa' yang gemilang nan paripurna.
Pasukan itu memiliki jumlah yang tak terhingga, keajaiban itu sampai menghalangi kecemerlangan langit yang tergantikan oleh kengerian bala tentara sang Pangeran, dan kala seluruh pasukan telah siap bertempur, sang Pangeran Awarta bicara, namun bukan lewat mulutnya yang kini terkunci rapat. Sebab Sang Pangeran Awarta bicara lewat pancaran cahaya hitam di dadanya, sebuah pancaran kecemerlangan dari sifat rohaniah tertingginya, dan pancaran cahaya hitam itu menyuarakan suaranya lewat angin; bersabda.
“Putri Kerisia ... niscaya akan aku ampuni engkau dan berbelas kasih kepadamu, bila mana kamu menghentikan sihirmu ini.”
Jiwa sang Putri mendengarnya, tetapi bukan menjadi takut atau menuruti titah sang Pangeran, justru dengan berkacak pinggang dalam keangkuhan, dalam seringai mengejek, dengan menatap tak gentar ke arah bala tentara Pangeran, sang Putri membalas, “AYO HANCURKAN SAJA ALAM SEMESTAKU INI KALAU BISA!”