Nurvati

Nurvati
Episode 194: Malam Kehadiran.



Udara hangat nan kencang mendadak bertiup seiring kenyataan mutlak yang tersuguh itu.


Nurvati bahkan hingga mengernyit kening kebingungan. Menatap pria asing itu penuh tanya.


“Ahh ... biasanya ... banyak peserta yang melalui ujian ketiga itu ... gagal ...,” ungkap pria asing ini dengan berkacak pinggang dan diakhiri dengan senyuman hingga matanya tertutup.


Pernyataan itulah yang membuat Nurvati mengangguk memahami. Kalau kejadian aneh yang tadi terlewat adalah ujian.


Hanya saja, sebuah pertanyaan masih mengekang erat Nurvati, pertanyaan sejak awal dirinya bersua dengan pria urakan.


“Eh ... maaf nih ... saya ingin bertanya ... siapakah Anda sebenarnya dan saya merasa bila tidak ada hawa Iblis yang mengekang Anda?” usut Nurvati dengan serius.


“Ooh ... saya ... saya adalah Awarta ...,” jawab pria urakan alias Pangeran Awarta.


Sontak, Nurvati yang sudah tahu perihal pangeran dari bangsa Selatan itu seketika terperangah kaget.


“Hah? Ma-maksud Anda ... Anda adalah pangeran yang hilang itu?” tanya Nurvati memastikan.


Tak menjawab, Pangeran Awarta hanya mengangguk tanda mengiyakan, itu bahkan tetap terdapat senyuman damai.


“WADUH! Anda sedang dicari-cari oleh bangsa Anda ... rumor atau berita perihal hilangnya pangeran bangsa Selatan sangat heboh diperbincangkan! Kenapa Anda malah jadi gila, bukannya pulang ke rumah ... keluarga Anda sangat khawatir!” papar Nurvati begitu ekspresif dan tercengang.


“Iya ....” Hanya satu kata yang terucap dari mulut Pangeran Awarta.


“Iya ...? Pulang ... pulang ... malah berkeliaran dan bincang-bincang dengan batu ...,” balas Nurvati dengan menyindir.


Pangeran Awarta malah diam dan tetap tersenyum mendengarnya. Tidak membalas.


Tapi karena telah sadar kalau di depannya adalah pangeran bangsa Selatan, seorang pria terhormat, Nurvati dengan kikuk mulai bernamaskara dan tumungkul penuh hormat. “Maaf ... maaf atas kelancangan saya pangeran ... saya tidak tahu bila Anda adalah pangeran bangsa Selatan. Perkenalkan, saya Nurlaesa Vati, panggil saja saya Nurvati ....“


“Iya ... saya memahaminya, Nurvati ....”


Hanya tiga kata terucap dari sang Pangeran Awarta dan itu mampu membuat Nurvati kembali bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi ...?”


“Saya tidak punya banyak waktu untuk menceritakannya ... sebentar lagi, alam semesta akan mengembalikan wujud semula saya ... jadi ... tugas Anda telah rampung ... saya ucapkan selamat ...,” balas Pangeran Awarta dengan membungkuk mengapresiasi kerja Nurvati.


Nurvati yang kembali tersadar hanya diam dalam renungan. Dirinya tumungkul dan cukup penasaran tentang apa yang dialami Pangeran Awarta.


“Baiklah ... sampai di sini saja ... aku dengan wujud kegilaanku tadi, siap untuk mengikuti Anda ... saya akan pergi, ke mana pun Anda pergi ...,” beber Pangeran Awarta dengan tenangnya dan malah ingin ikut Nurvati.


”Eh ... tunggu dulu! Aku tidak mengerti, bagaimana bisa aku telah berhasil ... aku tidak merasakan adanya hawa Iblis?“ sanggah Nurvati keheranan.


Hingga senyuman penuh makna mengembang lebar di wajah cerah Pangeran Awarta, lantas dengan tenangnya menjawab, ”Jangan lupa, bercerminlah ....“


Hanya dengan tiga kata itulah otak Nurvati berpacu untuk menetapkan konklusi dari kiasan tersebut.


Maka dirinya pun tertunduk dan terpejam.


Dirinya secara tidak langsung memahami setiap yang telah terjadi. Berusaha memaknainya sendiri.


Maka selepas memahami letak hawa Iblis terakhirnya, dengan kembali menghadapkan wajahnya pada Pangeran Awarta dan menatapnya, Nurvati kembali bertanya, ”Bagaimana Anda tahu saya sedang dalam tugas?“


Sekali lagi, senyuman penuh makna mengembang di paras cerah Pangeran Awarta, lalu menjawab, ”Iya ... sebab saya pun mendapat tugas ....“


”... dan kalau saja tadi Anda gagal ... maka saya akan kembali pada wujud normal saya.“


”Eh? Ka-kalau begitu ...?“ cemas Nurvati takut-takut malah menyengsarakan Pangeran Awarta.


”Tidak apa-apa ... saya akan kembali pada wujud normal di setiap tengah malam ... dan saya harap ... bisa ikut mendampingi Anda dalam perjalan mencapai Diri Asli ... karena bagaimana juga ... saya sudah bertekad ingin membantu Anda dalam tugas ...,“ sanggah Pangeran Awarta begitu sungguh-sungguh.


Nurvati diam dalam pikiran menimbang-nimbang.


Antara memperbolehkannya ikut, atau tidak.


Hingga butuh sepuluh detik untuk mendapatkan keputusan penting.


“Baiklah ... Anda boleh ikut ... tapi ... pertama-tama ... kita akan menjumpai dulu orang tua Anda ...,” balas Nurvati menganjurkan.


Pangeran Awarta tak menjawab, dirinya hanya mengangguk bersedia.


Sehingga bersama berlalunya waktu, lima detik selepasnya, Pangeran Awarta kembali pada wujud pria urak-urakannya.


Entah apa yang terjadi padanya, Nurvati hanya sanggup diam dan menatapnya penuh iba.


Lagi-lagi dengan ilmunya, dia mampu mengubah angin menjadi sebongkah batu besar. Terlebih batu itu dipeluk dan disayang-sayang. “Tenang batu ... tenang ... aku akan pulang ....”


Meski dalam wujud tak waras, Pangeran Awarta nampak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Ingatan pada Nurvati tak hilang, dia siap mengikuti ke mana pun Nurvati pergi, namun cukup ragu kalau dalam keadaan demikian dia bisa membantu Nurvati.


Nurvati yang telah menyelesaikan tugas ketiganya, saat itu juga, di sana, mulai bersemadi. Jiwanya mulai siap untuk dianugrahi 3 Sayap Cahaya Rahasia.


Sementara Nurvati tengah disahkan oleh Diri Asli-nya, sang pria urakan nampak asyik bincang-bincang bersama batu serta angsa putih.


Di sana, dalam kejiwaan Nurvati, tepatnya alam bawah sadar, dalam kerlip bintang-bintang, telah muncul diri Nurvati dalam wujud sang Diri Asli. Di angkasa luar inilah Nurvati tengah berdiri di atas telapak tangan kanan-Nya.


Cahaya Bening dalam rahasia roh pun terpancar menyelimuti Nurvati.


Perihal kelemahan, perkara serta kekuatan roh pada makhluk di alam ini. Khususnya diri sendiri.


Lalu Cahaya Biru dalam rahasia nyawa terpancar menyelimuti Nurvati.


Perihal kelemahan, perkara serta kekuatan nyawa pada makhluk di alam ini. Khususnya diri sendiri.


Terakhir, Cahaya Pingai dalam rahasia jasad terpancar menyelimuti Nurvati.


Perihal kelemahan, perkara serta kekuatan jasad pada makhluk di alam ini. Khususnya diri sendiri.


Hingga setelah legalisasi itu rampung. Sang Diri Asli kembali menetapkan sebuah petunjuk.


“Nurvati, kamu belum sempurna mencapai-Ku ... saat ini kamu hanyalah baru dapat bertemu dengan-Ku atau berkomunikasi dengan-Ku ... untuk sempurna mencapai-Ku masih ada tugas penting yang mesti kamu kerjakan ....”


“Untuk mencapai ilmu rahasia empat sayap kanan-Ku ... mengenai awal, tengah, akhir serta penyempurna ... carilah dua Dewi serta dua Dewa Surgawi yang dihukum turun ke bumi, selamatkan mereka dari kutukan ....”


Mendengarnya, justru Nurvati sempat mengajukan pertanyaan, ”Mengapa Engkau tidak langsung memberikan ilmu tersebut padaku? Atau menyelamatkan mereka oleh-Mu saja?“


Maka sang Diri Asli dalam batin Nurvati, menjawab. ”Ilmu ini diambil atau didapatkan dengan cara berusaha ... Aku tidaklah melakukan sesuatu kalau bukan karena hukum dan kewajiban ... jadi ... lakukanlah kewajibanmu ... sebab nanti sang Hukum yang memberikanmu ilmu ini.“


Nurvati terdiam. Ia merenungi baik-baik apa yang diperintahkan sang Diri Asli padanya.


Sehingga tanpa banyak bicara lagi, Nurvati pun kembali pada siklus hidup yang sebenarnya. Kembali pada kesadarannya.


Dia siap pada tugas selanjutnya.


Matanya terdedah, dia bahkan sempat menengadahkan wajah demi memandang langit malam hari yang berbintang.


Jiwa baru! Perasaan baru!


Ilmu yang telah didapatkan Nurvati membuatnya merasakan sensasi baru dalam dirinya. Dia tahu tentang rohnya, nyawanya hingga jasadnya.


Dan demi menguji ilmu sayap Roh-nya, Nurvati memandang sang angsa putih, menganalisa apa yang ada dalam diri sang angsa. Bukannya apa-apa, angsa ini cukup mencurigakan sedari awal mengikuti Nurvati tanpa lelah.


Untuk itulah ilmu rahasia rohnya bermanfaat.


Telah terungkap mengapa sang angsa putih selalu mengikuti Nurvati. Secara rahasia dalam frekuensi roh, tepat di dalam tubuh angsa putih itu, faktanya terdapat roh yang terjebak.


Seorang Dewi Surgawi telah dihukum dan dimasukan ke dalam tubuh angsa putih itu.


”Nurvati ... tolonglah aku ... tolonglah ... kembalikan aku pada alam Nirwana ...,“ lirih Dewi Surgawi itu dalam tangisan.


”Ngok ngok ....“


Sedangkan sang pria urakan masih asyik berbincang dengan batunya. "Lalala ... tersenyum kawan, tersenyumlah."


Sadar kalau ilmu Sayap Cahaya-nya belum sempurna dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Nurvati dalam bahasa rahasia roh menjawab, ”Bersabarlah Dewi ... saya akan cari cara untuk membebaskan Anda ... untuk saat ini ... Anda ikutlah dulu dengan saya ... oke.“


Mendengar Nurvati telah dapat berkomunikasi dalam bahasa roh, jelas membuat sang Dewi Surgawi semeringah dan senang. Sang angsa putih malah mengepak-ngepakan sayapnya.


”Eh? Akhirnya ... engkau bisa mendengarku?!“


”... syukurlah ... beribu tahun aku terjebak dan akhirnya aku akan bebas ... aku siap mengikutimu ....“


”Ngok ... ngok ... ngok!“ sang angsa putih lagi-lagi mengepak sayap.


”Diam batu! Diamlah ... kita tak akan mati ...,“ celetuk pria urakan dengan memeluk erat sebongkah batunya dan cukup cerewet.


Nurvati tersenyum santai menyikapinya. Dirinya mulai mendapatkan determinasi dan sensasi hidup yang baru; menjadi lebih bahagia.


Hingga bersama rencana barunya dan bersama teman-teman barunya itu, Nurvati pun pergi melanjutkan tugasnya lagi. Untuk saat ini mereka terbang menuju bangsa Selatan, berniat menemui dulu orang tua Pangeran Awarta.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)