Nurvati

Nurvati
Episode 72: Sang Wanita Terhormat Dalam Mencapai Kesempurnaan.



“Apakah ... kamu mau merelakan kepergian orang tuamu dengan mengganti oleh senyuman indahmu?” tanya sang nenek dalam keseriusan tanpa senyum keriputnya.


Pertanyaan yang langsung menusuk hati sang Putri, yang bahkan dia tak menyangka nenek sepuh ini akan memberikan pertanyaan yang ternyata pilihan.


“I-ibunda dan ayahanda tak mungkin saya biarkan mereka pergi, saya ... saya ...,” kata Putri Kerisia yang terbata, karena rasa cintanya pada orang tuanya begitu besar, merelakan kepergian orang yang terkasihnya berat rasanya.


“Kenapa? Bukankah senyuman adalah hal yang penting buatmu?” sindir sang nenek masih dalam raut muka serius.


Putri Kerisi menundukkan pandangan dalam raut kuyu nan kelesah, senyuman memang penting, memberikan opini publik kalau Putri Kerisia adalah putri yang baik dan tidak sombong. Walau memang persepsi lebih banyak menyatakan Putri Kerisia sombong, setidaknya dia bisa menunjukkan senyuman ramah tamah, hanya untuk 'cari muka'.


“Saya ingin tetap melihat orang tua saya, mereka ... lebih penting buat saya,” balas Putri Kerisia sembari memutar tubuh ke belakang hendak pergi.


Namun juga terlalu berat untuk pergi, segala bayang-bayang tatapan aneh orang-orang itu terkesan memaksa jiwanya untuk bisa tersenyum. Terpaksa dia kembali memutar badan menghadap lagi nenek sepuh itu.


Lagi-lagi tetap berpose sebagai entitas dari seorang wanita terhormat; pandangan ke depan, berdiri tegap, ke dua bahu sejajar, tangan kanan diangkat setengah badan hingga menekuk dengan kepalan tangan isyarat sebagai keteguhan tekad. Dan selama bertahun-tahun, di mana pun berada atau bahkan siapa pun itu orangnya, tak lelah sang Putri Kerisia menunjukkan sikap anggun dan sikap bermartabatnya.


“Kenapa begitu bingung? Bukankah orang tuamu memang sudah tiada? Kehidupan mereka hanyalah tipu dayamu semata?” tanya sang nenek dengan nada menyindir dan agak tersenyum sebagai tanda perkataannya berhasil mengetahui kebenaran.


Putri Kerisia termangu sesaat, ucapan nenek sepuh itu memang benar, hanya saja, ada dua ambisi dan hasrat yang beriringan dalam angan dan harapan sang Putri. Satu sisi ingin tersenyum agar segala niatnya tidak diketahui. Satu sisi lagi, ingin tetap hidup bersama orang tuanya.


Bukannya menjawab atau mengambil keputusan, Putri Kerisia malah membiarkan kesunyian melingkupi suasana, hening dan wangi, dua sesuatu itu yang kini terasa eksistensinya.


“Relakan mereka Putri Kerisia, bila engkau ingin tersenyum, relakan mereka,” saran sang nenek sepuh.


Bahkan sang nenek sepuh yang baru pertama kali melihat putri bangsa Barat ini sudah tahu namanya. Meski begitu, Putri Kerisia yang sudah mengenal Diri Asli-nya tak ambil pusing.


“Ini butuh waktu, karena ... selain daripada kakak saya yang hendak dinobatkan sebagai seorang raja ... saya butuh waktu sendirian demi mengikhlaskan kepergian mereka dan pastinya ini akan jadi berita yang besar,” tutur Putri Kerisia tanpa menatap netra putih sang nenek.


“Jadi ...?” tanya sang nenek yang belum tahu kepastian dari ketetapan Putri Kerisia.


Masih sengap dalam pertimbangan, Putri Kerisia yang tetap menunjukkan sikap anggunnya tak mau gegabah dalam mengambil keputusan.


Maka Putri Kerisia bicara, “Setelah penobatan kakak saya berlangsung, seratus tahun dari itu, baru saya akan merelakan kepergian orang tua saya.”


Sebuah penuturan yang tegas dan mantap dari seorang putri kerajaan. Tak ada kata yang terucap dari sang nenek sepuh, ia hanya mengangguk pelan tanda selalu siap.


Dan bersama kalimat 'sampai jumpa lagi' dari mulut Putri Kerisia, dia kembali memutar badannya, berniat untuk kembali pada peraduannya.


Satu langkah diambil, maka secara ajaib, Putri Kerisia telah keluar dari rumah pohon emas itu, dia telah kembali pada hutan yang gelap, hutan yang rindangnya menghalangi sinar baskara, tetapi begitu di sini, rumah pohon itu tidak ada, hanya tempat kosong, sepi nan misterius.


Putri Kerisia tak ambil pusing, kejaiban adalah hal lumrah baginya.


Namun ketika hendak membuat pintu teleportasi, segala niat serta langkahnya malah tertunda. Dia bergeming di atas tanah nuansa hitam. Ada seseorang yang datang.


Telah datang seorang pria muda yang merasa kalau dirinya mendapat petunjuk, dia datang dengan tersenyum senang, bahkan warna netra hitamnya yang terhalang kegelapan hutan itu nampak langsung tertuju pada Putri Kerisia, tanpa berkedip.


Entah siapa gerangan yang tak dikenali itu, namun gestur tubuh dan raut mukanya, memancarkan kepuasan saat wajah mulus Putri Kerisia tertangkap iris hitamnya.


Di sana Putri Kerisia hanya mematung saja, membiarkan jarak menipis untuk sekiranya menatap lebih dekat pada lelaki muda ini.


“Salam untuk Anda, Putri Kerisia,” kata sang lelaki dengan membungkuk bernamaskara. Hormat dan memberikan rasa takzimnya pada sang Putri.


Dalam sisa jarak dua meter itu, Putri Kerisia tetap dalam sikap sang wanita terhormatnya, netranya hanya sekali memandang roman pria itu, selepasnya dia hanya menatap kegelapan.


“Katakan ... apa yang engkau lakukan di bangsaku ini, bahkan sampai bisa lolos dalam penjagaan perbatasan?” usut Putri Kerisia dengan tegas, enggan basa-basi.


Ketika pemuda berparas tampan dalam perspektif ras Peri ini kembali tegak, senyuman tenang terlukis menghias parasnya, lantas berkatalah ia. “Saya telah mendapat petunjuk, agar untuk mengenali Dewi Tanduk Empat saya harus menemui Anda, saya harus mengenali sang Dewi Tanduk Empat agar mampu mengalahkannya nanti.”


Tanpa melihat paras pemuda itu, Putri Kerisia menjawab, “Sang Dewi tak dapat engkau kalahkan, Dia bukan makhluk yang terikat akan hukum dunia, tidak mati dan tidak pula hidup, Dia Diri Asli ....”


“... untuk apa engkau mengenali-Nya kalau hanya untuk dikalahkan? Dan engkau belum menjawab pertanyaanku diawal,” sindirnya.


Tapi malah tersenyum tenang di sana sang pria muda itu. Netranya lalu berpaling pada kepalan tangan sang Putri Kerisia, seraya menjawab, “Apa itu Diri Asli, mengapa ada hal aneh seperti demikian?”


”Diri Asli adalah manifestasi dari pencapaian ilmu Pengenal Diri, pengenalan awal kejadian, tengah dan akhir dari kejadian dirinya, akan hal itu, siapa pun yang sanggup berjuang pada pengenalan diri secara paripurna tentulah Diri Asli itu muncul, mirip sebagaimana sang lakonnya, sebab sang lakon pula sang Diri Asli itu, tetapi bukan Diri Sejatinya ... dan engkau belum menjawab pertanyaanku diawal,“ papar Putri Kerisia secara tegas.


Tetapi keheranan sang lelaki di sana, dia pernah mendengarnya, hanya saja tak begitu memahaminya. “Diri Sejati?”


“Kala engkau mampu mencapai Diri Asli, lantas menyempurnakan pengabdianmu pada-Nya, maka niscaya Diri Sejati itu akan muncul ... dan engkau belum menjawab pertanyaanku diawal,” jelas Putri Kerisia.


“Bila telah sampai pada tahap Diri Sejati, apa yang terjadi?” tanya lagi lelaki muda itu, agar supaya dirinya mampu mengalahkan Dewi Tanduk Empat.


“Jawablah dulu pertanyaanku diawal, bagaimana bisa engkau lolos dari penjagaan perbatasan? Bukankah di sana ada dinding pelindung, dan dinding pelindung itu terdapat para penjaga yang tak tidur? Dan bagaimana bisa engkau mengetahui keberadaanku?” sela Putri Kerisia menelisik dan masih memandang kegelapan.


“Saya sudah katakan, saya mendapat petunjuk dan semua petunjuk itu membuat saya mampu melewati segala pertahanan itu, lalu kaki saya menggerakkan saya untuk ke sini ...,” beber sang lelaki muda dengan santai, sambil menatap wajah mulus Putri Kerisia.


“... nah, apakah bila sudah sampai pada Diri Sejati bisa mengalahkan Dewi Tanduk Empat itu?” lanjutnya dengan serius.


“Kalau sudah sempurna, kalau sudah memahami Diri Sejati, untuk apa engkau mengalahkan Dewi Tanduk Empat itu?” singgung Putri Kerisia.


“Aku ... maksud saya ... keluarga saya tewas, mereka tewas oleh seekor siluman, dan siluman itu telah saya kalahkan, dia berkata, sang Dewi Tanduk Empat-lah yang sudah memerintahnya,” balas sang pria muda dengan sungguh-sungguh, tanpa ada senyuman lagi.


Ajaibnya, ketika pengakuan pria muda itu diterima pendengaran Putri Kerisia baik-baik, netra merah lembayung sang Putri Kerisia tertuju langsung pada paras memesona sang lelaki, tapi dengan berujar, “Aku-lah Dewi Tanduk Empat itu ....”


Sontak, pernyataan itu membuat geger lelaki muda itu, membuat alis hitamnya mengernyit serius, membentuk tanya dalam kepalanya, namun dari mulutnya hanya mengucapkan satu kata, “Eh?”