Nurvati

Nurvati
Episode 103: Menanggung Beban Hampa Kesepian.



Di malam itu, malam kala sepasang suami istri telah melaksanakan makan malam yang ke duanya. Mereka kini berada di ruang keluarga.


Sebuah ruangan paling mewah nan megah, ruangan dengan berhiaskan bebatuan permata berwarna-warni, dengan awan-awan yang menjadi tempat duduknya, serta langit malam bertabur bintang dan planet-planet menjadi pemandangannya. Tempat yang indah untuk melipur sendu, yang di dalam ruangan ini terdapat air mancur dengan madu yang mengalir di dekat bunga-bunga 'Bintang'. Di sudut ruangannya telah terpahat patung-patung dari batu zamrud yang menyerupai para malaikat, aroma ruangan setengah terbuka ini sangat harum mewangi, dan lantainya yang terbuat dari kaca dengan kolam ikan warna-warni di bawahnya.


Para pelayan wanita pun nampak menari-nari di beranda ruangan ini dan itu diiringi senandung petikan harpa yang mengalun syahdu.


Udara di sini sangatlah sejuk nan nyaman, Arenda serta Pangeran Azer duduk di awan lembut dengan menghadap seluruh pemandangan ruangan, duduk dengan sandaran awan, yang mana kaki mereka berdua dibaluri madu serta susu murni, dua gadis peri melumuri sembari memijat-mijat kaki mereka.


Faktanya dalam kerajaan ras Peri bangsa Barat tidak terdapat banyak selir, atau semacamnya, bisa dikatakan ras Peri adalah ras yang paling setia terhadap satu pasangan, bila orang yang dicintai wafat sebelum menikah, kebanyakan mereka tidak pernah mau menikah dengan yang lain, meski tidak semua peri setia tapi cukup banyak untuk dikatakan tidak sedikit.


Pangeran Azer nampak begitu sibuk dengan jam pintar hologramnya, masih membahas strategi militer ke depannya.


Diabaikan dan seolah terbengkalai, begitulah yang tertampak kali ini pada Arenda wanita terhormat yang akan menjadi seorang ratu, tak seperti dulu, yang mana Pangeran Azer selalu banyak bercerita dan kebanyakan ceritanya selalu mampu menggugah gelak tawa, tetapi tidak hari ini.


“Posisikan dulu dana dan konsumsi pada perang, jangan dulu pada rakyat ...,” titah Pangeran Azer lewat jam tangan canggihnya.


“Tapi masalahnya beberapa fraksi serta sekte lebih menginginkan rakyat biasa yang diprioritaskan ... pasokan pil Energi kita menipis,” balas pria dewasa lewat jam tangan Pangeran Azer.


“Jangan dulu ... kebanyakan rakyat itu gegabah dan banyak omong ... mereka tidak memahami sulitnya mengatur jutaan orang, jadi jelas ... surat perintah itu ditujukan untuk para pejuang ... kompensasi bagi para pejuang yang didahulukan ...,” tandas Pangeran Azer.


Agak terganggu mendengar percakapan itu, ini adalah kebersamaan yang jarang-jarang, sehingga Arenda mau tidak mau terasa diabaikan.


Namun demikian, ini juga adalah suasana perang, jadi mau tidak mau Arenda pun harus rela memaklumi. Nanti juga akan terbiasa.


Setelah kebersamaan malam itu usai, dipagi yang cerah, Pangeran Azer langsung menuju kantor pil Energi di bangsa Barat, tanpa ada kecupan, tanpa ada pelukan pada istrinya, atau bahkan tanpa ada sarapan bersama, Pangeran Azer pamit pergi dan itu buru-buru.


Tak masalah bagi Arenda, dia bisa memakluminya, benar-benar memakluminya.


Akan tetapi, sejak hari itu, iya, sejak di mana suami Arenda sangat sibuk dan lebih memprioritaskan kepemimpinan pada perang, ketika rasa cinta yang melambung saat-saat baru menikah harus diasingkan karena negara, atau mungkin seluruh umat, saat itu juga Arenda mulai terlihat jarang bicara.


Bukan sebatas diam karena sifatnya pendiam, akan tetapi, diam karena tekanan batin yang membentuk perasaan serba salah. Ada keinginan melihat Pangeran Azer seperti dulu, yang penuh cerita, ceria dan humoris. Tapi dia juga tak dapat mengungkapkannya karena bagaimana pun, Pangeran Azer adalah calon raja dan pastinya akan selalu sibuk, benar-benar sibuk.


Pangeran Azer begitu sibuk, tak pernah pulang, lebih dari itu, dia bahkan tak pernah memberi kabar pada istrinya, tak sekali pun, kecuali bila Arenda yang harus bertanya lebih dulu dan itu pun hanya sekilas.


Perihal kondisi Pangeran Azer, dan setelah semuanya baik-baik saja, pembicaraan selesai.


Hari-hari yang dilalui Arenda hanya sebatas menikmati kesendirian di ruangan keluarga, memang selalu ada para pelayan, tapi bukan itu yang selalu diinginkan.


Berminggu-minggu Arenda diam di ruangan keluarga, hanya duduk saja menikmati waktunya, waktu yang tak mungkin dimiliki orang-orang diluar sana.


Atau bahkan ketika bulan dari bulan berganti, Arenda harus selalu menikmati waktunya sendiri.


Jadi mau tidak mau Arenda pun harus rela memaklumi. Nanti juga akan terbiasa.


Waktu yang berlalu, membentuknya untuk tak terlarut dalam sepi.


Iya menerima segala yang menjadi rasa sakit, membayangkan kalau segalanya baik-baik saja. Duduk di taman menikmati matahari terbenam dan semua akan jadi malam, begitu khayal Arenda.


Arenda mulai keluar dari istana, berpaling sejenak dari sisi nyaman di istana, hanya mengitari kota-kota demi melipur sepi atau setidaknya menghibur diri.


Banyak juga rakyat yang hendak bertemu dirinya, tapi tak sedikit juga rakyat yang menyuarakan keinginan mereka agar perang dihentikan.


Waktu telah banyak habis oleh jalan-jalan Arenda, dia bahkan jadi sedikit dekat dengan segelintir rakyat.


Dulu memang dirinya sangat jarang bersosialisasi pada masyarakat, dirinya lebih mementingkan pendidikannya dan lagi, lebih sering pergi ke negara lain, sehingga rakyat bangsa Barat cukup asing mendengar Arenda.


Tapi kali ini, seluruh bangsa Barat sudah tak asing dengan Arenda dan itu berkat kedekatan serta pernikahannya bersama sang Putra Mahkota.


Bulan-bulan itu sudah masuk dalam waktu satu tahun, lalu tahun-tahun berikutnya Arenda sering bersosialisasi bersama masyarakat, bincang-bincang mengenai negara, atau mengenai canda tawa.


Kritikan serta pesan-pesan dari masyarakat sangat banyak diterima, akan tetapi, segalanya mulai berubah saat kebanyakan rakyat ingin adanya revolusi, rakyat ingin perang ini dihentikan, rakyat ingin ini dan ingin itu.


Lebih dari itu, Arenda telah diincar oleh kelompok pembunuh bayaran, beberapa di antara kelompok itu mendapatkan hukuman mati, sisanya dipenjara seumur hidup.


Nyawa Arenda terancam, dirinya kini harus banyak mendapatkan pengawalan ketat, lebih-lebih tak jarang ada saja para pelayan mau pun pengawal Arenda yang berusaha membunuhnya.


Kerajaan seketika diperketat dan Arenda tak diperbolehkan lagi untuk berbaur dengan masyarakat, hormon stresnya menjadi meningkat semenjak dirinya banyak dibenci dan perasaan kelesahnya dipendam sendiri, tetap menampilkan kesan kuat di hadapan semua orang.


Rakyat benci gegara Arenda tak mampu meminta suaminya untuk menghentikan perang.


Meski pada dasarnya, ada beberapa kelompok yang malah menyebarkan berita-berita bohong terhadap pemerintahan, terhadap keluarga kerajaan, bahkan fitnah terhadap Pangeran Azer sendiri.


Tuduhan-tuduhan bohong itu membentuk kebencian baik pada pemerintahan mau pun pada keluarga kerajaan, dan kebencian itu jelas membentuk permusuhan.


Hingga maklumat Pangeran Azer pun dikumandangkan pada seluruh rakyat. Tujuannya agar negara Barat menjadi aman.


“Barang siapa yang mengadu domba pemerintahan dengan masyarakat, atau sebaliknya, barang siapa yang menyebarkan berita bohong atau memfitnah, maka, hukuman mati adalah bayarannya.”


Banyak rakyat yang senang mendengar itu, tapi tak sedikit pula yang keberatan. Karena bagaimana pun maklumat itu telah menjadi hukum.


Itu terkesan menguntungkan pemerintahan semata, pendapat dari rakyat seolah harus dibungkam, padahal Pangeran Azer belumlah menjadi raja, hanya sebatas mendapat surat Perintah dari Raja Awan yang lantas malah memerintah seenaknya.


“Begitulah, orang yang tak tahu ilmunya jadi pemimpin, keblinger jadinya ....” Pendapat seorang petani.


“Keliru si pangeran itu, surat yang mula-mulanya untuk membuat rakyat merasa aman dalam perang dunia ini, malah disalahgunakan.” Pendapat dari seorang pedagang.


Dan keesokan harinya dua rakyat yang berpendapat itu dihukum mati, selain karena menyebarkan berita bohong, mereka berusaha mengadu domba rakyat dengan pemerintahan.


Namun bagi sebagian rakyat yang mendukung hukum baru itu, mereka menyanjung-nyanjung tegasnya Pangeran Azer, sebuah hukum yang layak bagi para rakyat yang sulit diatur, surat perintah yang sangat tepat untuk digunakan.


“Pemerintahan itu sudah benar, rakyatnya saja yang dungu.” Pendapat dari pedagang.


“Kebanyakan rakyat sok tahu terhadap pemerintahan, jadinya banyak fitnah, jadi sangat layak para pengadu domba itu dihukum mati.” Pendapat perancang bangunan.


Sehingga jelas, aura-aura persatuan mulai berujung perpecahan.