Nurvati

Nurvati
Episode 128: Ketika Segala Waktu Membisu.



Sederhana, lumayan sederhana, kalau nyatanya kisah cinta sang Dewi dengan siluman ular harus kembali terputus oleh seorang pendekar yang hidup demi cinta dan pengabdian.


Dewi Karunia seharusnya mampu membawa koloninya pada kesempatan kedua untuk jiwa mereka dimurnikan lagi, agar terlahir kembali menjadi manusia untuk memperbaiki kesalahan, tetapi gagal.


Dewi Karunia dan suaminya yaitu siluman ular lalu anaknya siluman ular kobra mati karena akibat dari perbuatan mereka sendiri.


Zui pendekar Pemecah Waktu, perjuangannya menjadi pahlawan pun telah berakhir, segala waktu yang terbaik, telah habis pula oleh seorang Dewi yang hidup demi cinta dan pengabdian.


Zui pendekar Pemecah Waktu, seharusnya mampu membuat rencananya menunjukkan sebuah pengalaman berharga bagi kelima anak, kalau faktanya waktu tidak pernah bisa diulang.


Identitas yang menjadikan mereka tetap bersikukuh untuk mati demi cinta dan pengabdian, identitas yang dibawa mati dalam arti hidup, pada akhirnya mereka tewas, namun sisa impian mereka masih bertahan dalam biasnya sejarah kehidupan.


Mungkin saja kematian mereka tragis, mungkin juga kematian mereka manis, tetapi yang pasti mereka telah melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka, yaitu melayani masyarakat.


Namun jika kenyataan mempertanyakan, siapakah identitas yang paling berarti?


Maka kelima anak pasti akan menjawab kalau pendekar Pemecah Waktu-lah yang paling berarti bagi mereka, karena dalam identitasnya dia mengorbankan segala sisa waktunya demi melayani masyarakat dan demi memberikan pengalaman berharga bagi kelima anak sok kuat itu. Dan ini penting bagi mereka.


Atau justru, siluman ular kobra yang akan menjawab bahwasanya Dewi Karunia adalah yang paling berarti baginya serta bagi koloninya, karena sang Dewi Karunia rela turun dari surga demi cinta dan demi membimbing koloninya yang cukup degil itu. Dan ini penting pula bagi mereka.


Terlepas dari siapakah yang layak dihormati atau diakui sebagai yang paling berarti, semua 'perjalanan lintas hidup' itu hanya menunjukkan kalau tidak ada yang merasa menang atau merasa kalah saat melindungi kehormatan orang yang terkasih hingga mati. Dan itu sangat penting bagi mereka.


* * *


Bersamaan dengan sejarah yang kembali terpatri pada kehidupan, waktu yang merekam setiap yang krusial terus bekerja, mengalihkan setiap detik pada jam ke jam.


Pertarungan itu memang telah usai, tetapi segalanya jadi kenangan bahkan jadi motivasi kalau mau.


Waktu yang berlalu sudah ikut membantu menunjukkan adanya proses perubahan hidup, bukan hanya detik yang bekerja, tetapi juga perubahan kelima anak, baik perubahan secara fisik mau pun perubahan mental dan hari ikut berganti bersama tempat yang mereka singgahi.


Kini, kelima anak telah berada di bangsa Barat, tepatnya di gedung kesehatan, atau ras Manusia menyebutnya rumah sakit. Gedung yang berbentuk '0' itu terbuat dari berlian yang mengambang di atas tanah setinggi 3 meteran.


Ruangan nomor 7 diisi oleh Arista, yang terbaring di atas awan khusus.


Dirinya tengah bermimpi, kalau dia tengah duduk di atas batu menghadap Zui sang pendekar Pemecah Waktu.


Cuacanya senja dan sejuk, hamparan rumput hijau terpandang sejauh mata dapat melihat, dan Zui tersenyum tenang pada Arista.


Arista tahu kalau ini mimpi, dia sadar akan hal ini.


Penampilan mereka tidak berubah, Zui mengenakan jubah nuansa putih dengan membiarkan rambut perak panjangnya tergerai, sedangkan Arista masih membawa tas gendongnya dan membiarkan rambut merah bergelombangnya tergerai.


“Guru ... kita kenapa ada di sini?” usut Arista dengan celingak-celinguk keheranan memandang tempat asing ini.


Raut muka damai nan teduh begitu jelas terpampang pada Zui, menatap Arista bagaikan anaknya sendiri, lantas dengan santai berujar, “Semuanya sudah berakhir, Arista ... Dewi Karunia, sudah tewas ....”


Pengakuan yang membuat Arista terkejut hingga membuka matanya lebar.


“Eh? Guru berhasil mengalahkannya?” tanya Arista penasaran.


Tak ada jawaban, hanya dengan satu kali anggukan mantap dari Zui, Arista menganggap itu jawaban 'iya'.


“Waaaah ... bagus guru, guru memang hebat ... aku bangga menjadi murid guru!” sanjung Arista dengan mengangkat jari jempol tangan kanannya ke depan sebagai wujud apresiasinya pada Zui.


“Tapi, guru juga sudah tewas ...,” ungkap Zui dengan santai dalam pandangan teduhnya.


Sontak pengakuan itu membuat senyum syukur di wajah Arista lenyap yang malah membentuk kernyit kening kebingungan dan menatap heran pada Zui.


“Loh ... kok bisa begitu? Jadi ini benar mimpi?” tanya Arista waswas.


“Terus ... nanti siapa dong yang ngajarin aku ilmu Pemecah Waktu?” cemasnya.


Di sana Zui tetap tersenyum tenang dengan menatap penuh makna pada Arista.


“Kenapa guru tidak memutar waktu kembali? Kenapa guru tidak mengulang semuanya? Memperbaiki semuanya? Kenapa guru?” cecar Arista dalam kelesah dan prihatin bahkan kesannya menuntut.


Dengan santai dan pandangan penuh makna pada muridnya, Zui menjawab, “Tidak ada yang mampu mengubah masa lalu dan tidak ada yang bisa mengulang waktu ... itu hanya ada dikhayalan saja ... karena, secara faktanya, guru hanya menerawang masa depan dan masa lalu, membuat diri spiritual guru atau roh guru masuk pada dimensi keempat ....”


Arista malah bingung mendengarnya, hingga melayangkan kalimat tanya, “Terus kenapa orang-orang menyebut guru pendekar pemecah waktu?”


“Karena guru ... tahu setiap kejadian yang akan muncul dibeberapa waktu yang akan datang, lalu memperbaiki setiap kesalahan itu, memilah mana saja waktu yang tepat untuk bekerja dan berkehidupan ... kecuali takdir yang tak dapat diubah, lalu orang-orang yang mengetahuinya, mulai menyebut guru sang pemecah waktu ...,” papar Zui.


”Itu artinya guru bisa mengetahui waktu kematian guru? Kenapa tidak dihindari?“ selidik Arista dengan serius.


Arista masih bingung, hanya terdiam mendengarkan.


”Arista ... guru bahkan tahu, kalau suami serta anak guru akan mati ...,“ lanjut Zui membeberkan fakta penting.


”Lantas kenapa guru tidak mengubahnya?!“ heran Arista agak meninggikan suara, terdorong oleh emosinya sendiri, terlebih raut mukanya mulai nampak sendu.


Dengan santai Zui menjawab, ”Karena yang paling penting, bukanlah menghindari kematian ... yang paling penting, adalah cara menghadapi kematian itu ....“


Arista tercenung mendengarnya.


”... tak ada yang dapat menghindari kematian ... apa yang bisa guru lakukan, adalah memanfaatkan setiap waktu yang berlalu demi menghadapi kematian itu ... sebelumnya, guru telah melihat, atau katakanlah, diperlihatkan ... bila mana guru tidak ikut dalam petualangan kalian, maka kalianlah yang akan mati, akan tetapi, kalau guru turut serta bersama kalian ... maka gurulah yang mati ...,“ imbuh Zui dengan serius.


Membuat seluruh emosi dan kesadaran memuncak pada jiwa Arista, memusatkannya pada satu konklusi penting, bahwasanya secara tidak langsung, Zui telah mengorbankan segala sisa napasnya demi Arista serta kawan-kawannya.


Itu sangat berarti bagi Arista, seluruh waktu yang dijalani terasa telah cukup memberikan keakraban, meski belum sepenuhnya bisa saling percaya karena dulu Zui terlihat sombong dan egois, namun apa yang diungkapkan dalam hati, nyatanya itu salah!


Kepercayaan bisa tumbuh dan langsung menjadi bukti, tanpa dapat disangka-sangka.


”Kenapa? Kenapa guru melakukan ini pada kami? Untuk apa?“ tanya Arista memastikan.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)