Nurvati

Nurvati
Episode 14: Terusirnya Sang Dewi.



“Apa yang kau harapkan dari jawabanku? Apa kamu berharap aku memilih Putri Kerisia?” sindir Falas dalam keseriusan penuh.


Otomatis, benak Nurvati bergejolak merasa tersindir, membangkitkan gelombang amarah untuk dimengerti, ia ingin Falas mengerti akan perasaan Nurvati yang menuntut kejujuran. Akibatnya dalam marah, Nurvati bangkit dari duduk, berdiri memandang Falas dengan kernyit kening yang menagih kejujuran.


“Kenapa kamu tidak bicara jujur!” sentak Nurvati mulai meradang kesal, terlarut dalam emosi.


Suara keras Nurvati merasuk pada telinga Falas, berproses menjadi keheranan dalam benak Falas, dalam renung penuh tanya, ia bergeming. Falas telah berkata jujur, tak ada yang ia tutupi, jika pun boleh, tentu dia ingin memilih keduanya, menjadikan Putri Kerisia serta Nurvati sebagai teman, toh tak ada salahnya begitu. Namun Falas tahu, dan mengerti, Nurvati menginginkan kejujuran sekaligus keseriusan, maka kejujuran adalah perbuatan terbaik saat ini, hanya saja, cukup disayangkan, Nurvati menganggap Falas berdusta.


“Aku sudah jujur, tapi ... kau malah menganggapku berbohong.” Kembali lagi Falas menyindir.


Nurvati tak percaya, dan dirinya merasa direndahkan, ia tetap bersikukuh, bahwa Falas tak jujur dan menyimpan kejahatan. Hingga Nurvati pun mendengkus, bola netranya terpusat ke iris biru Falas, dan berkata, “Kau berbohong, aku sudah tahu, kau memiliki rencana dengan Putri Kerisia, kau berbuat baik padaku hanya agar aku mau tunduk padamu lalu menjadi budak si Kerisia.”


Sontak pernyataan Nurvati yang dianggap tuduhan oleh Falas, membuatnya ikut bangkit dari duduk; ini bukan lagi masalah enteng. Falas mengernyit bingung, tajam sorot netranya terarah pada iris hijau Nurvati. Falas telah paham, —pernyataan Nurvati membuka sedikit rahasia Nurvati— rupanya Nurvati memiliki masalah pribadi dengan Putri Kerisia, sehingga dia larut dalam praduga, dan menjadikan Falas sebagai masalah kedua. Namun faktanya, Falas tak memiliki kesepakatan apa pun dengan Putri Kerisia, ia memang mengenal Kerisia, tetapi, itu juga tak menjadikannya akrab, apalagi sampai adanya kongkalikong, sungguh, Falas tak memiliki niat jahat terhadap Nurvati.


“Apa yang sebenarnya kamu pikirkan tentangku, Nurvati,” usut Falas sangat serius.


Maka, berkat kejadian ini, suasana yang damai, kini menjadi kenyataan yang menegangkan, dalam realitas kerahasiaan, mereka bertatap dalam tanya, dalam rasa kesal yang mulai berkantaran.


Nurvati yang terbawa arus perasaannya sendiri, menatap geram pada Falas, yang baginya, perkataan Falas tadi hanyalah omong kosong belaka agar tujuannya bisa tercapai, lantas Nurvati bicara, “Saat itu, kau datang menyelamatkan hidupku adalah perintah dari si Kerisia 'kan, lalu berteman denganku untuk mendapatkan hatiku, supaya aku mau menjadi budak si Kerisia.”


Pernyataan kedua itu berhasil menjadi hal kedua yang Falas pahami; Nurvati benar-benar memiliki masalah serius dengan Putri Kerisia.


“Jadi ... kau memiliki masalah dengannya, lalu ... kau menyangka jika aku bersengkongkol untuk mendapatkanmu menjadi budaknya? Nurvati, kau salah menginterpretasikan kehadiranku,” sanggah Falas bersungguh-sungguh dan berharap Nurvati mengerti, tepatnya, tak lagi menuduh Falas yang bukan-bukan.


Nurvati masih tak percaya, baginya masih ada hipotesis kuat yang merujuk kesalahan Falas.


Jelas sudah, Nurvati memang memiliki masalah kritis dengan Putri Kerisia, masalah itu telah menodai mentalitas Nurvati, menjadi luka moral baginya, sampai-sampai seorang yang mengenal Putri Kerisia dianggapnya sebagai utusan yang hendak mengelabui Nurvati, membuat Nurvati dibutakan oleh prasangkanya sendiri. Dan kala semuanya mulai tedas, Falas berkontemplasi pada kehidupannya kali ini. Mungkin dan mungkin, Falas pun salah dalam memahami Nurvati, atau justru, Falas belum sepenuhnya memperkenalkan dirinya pada Nurvati, yang mana Falas memang memiliki tujuan lain dalam pertemanannya dengan Nurvati, akan tetapi, itu tak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan Putri Kerisia. Sungguh, ini hanyalah kesalahpahaman.


Waktu berputar, bersama angin yang ikut mengalun lembut, Falas memikul beban kebingungan, dan Nurvati menanggung beban kecurigaan. Tak ada jawaban kebenaran dari Falas, membuat Nurvati berasumsi akan benarnya kejahatan yang dilakukan Falas, hingga perasaan kecewa mendorong kakinya untuk bergerak pergi. Nurvati pun berpaling pergi, meninggalkan Falas dalam kebingungannya. Falas yang melihat Nurvati melangkah pergi, tergerak secara impulsif untuk mengejar Nurvati.


Ia melompat menuju bibir kolam dan dalam seruannya pada Nurvati, dia berlari mengejar Nurvati. Enggan masalah ini malah menjadi masalah rumit.


“Nurvati, tunggu!”


Masa bodoh dengan Falas, rasa kecewa telah menuntun Nurvati untuk berani meninggalkan Falas, ia menembus rindangnya bambu, buru-buru meninggalkan anak laki-laki penuh dusta itu di belakang punggungnya. Falas tak mungkin membiarkan Nurvati pergi dalam prasangka buruknya pada Falas, tak mungkin Falas dikenang sebagai penipu yang pada dasarnya dia tak menipu siapa pun, sehingga wajib baginya untuk meluruskan segala asumsi Nurvati padanya.


“NURVATI!”


Seruan Falas sekencang sebisanya yang memang terdengar di telinga Nurvati, namun panggilannya tak diindahkan sedikit saja oleh Nurvati, bagaikan angin lalu. Dia berlari secepat mungkin agar hilang dari penipu itu, bagaimana pun, Nurvati tak sudi kembali ditipu lagi, cukup baginya kematian orang tuanya menjadi kesengsaraannya yang paling menyakitkan dan untuk itu, Nurvati lebih memilih kesepian.


Sempat terlintas dalam kelumit pikiran Falas, akan betapa bodohnya Nurvati yang lebih memercayai praduganya sendiri ketimbang penjelasan Falas. Meski Falas menganggap Nurvati bodoh, tetapi hati Falas malah membantahnya, karena dia juga tahu, bahwa Nurvati traumatik pada masa lalunya, sebab luka batin tak sembuh secepat sembuhnya luka berdarah, sehingga tak etis bila Falas menghakimi Nurvati sebagai orang bodoh. Walau hati menjadi kontradiktif dengan logika, Falas tetap akan memaafkan Nurvati, walau ia yakin, suatu saat dirinya dibenci sepenuh hati dan dicaci maki oleh Nurvati, keyakinannya untuk memaafkan Nurvati berkali-kali telah terpaut menembus waktu sehingga menjadi janjinya pada diri sendiri.


Karena pada hakikatnya, ada hal yang tak Nurvati pahami dari takdir pertemuannya dengan Falas, ada rahasia yang harus tersembunyi manis dalam ikatan pertemanan dan nanti terkuak oleh kemisteriusan waktu, maka wajib, keyakinan akan hari yang nanti mengobati mental Nurvati, harus dijadikan perasat bagi Falas.


Dalam rimbun hutan bambu ungu, dua anak Peri berlari dalam dorongan hati yang berlandaskan perspektif masing-masing, Falas yang belum mengenal Nurvati secara sempurna dan Nurvati yang belum mengetahui hakikat tujuan kehadiran Falas, dalam masa perang itu dua anak mencari arti hidup, dan terbawa aura hidup yang membingungkan. Nurvati terbius oleh perasaannya sendiri, bahkan Falas yang sedari tadi memanggil Nurvati, dianggapnya bak gonggongan seekor anjing belaka.


“Nurvati, tunggu!”