
Butuh pergantian waktu siang pada malam hanya agar Nerta dapat pulih total, penyembuhan lukanya tak semudah yang dispekulasikan.
Pertarungan Zui dengan para kera telah usai, puluhan kera telah tewas, selain daripada itu pun beberapa siluman kelelawar, serta puluhan siluman kerbau sempat juga dia habisi, dan itu dilakukan seorang diri.
Kini dirinya tengah menyelamatkan anak-anak yang disandera oleh siluman tenggiling, tanah hingga berdebam, dia bertarung dengan dua siluman tenggiling lengkap dengan sisa siluman laba-laba pelindung para tenggiling.
'Trang-Trang' dentang pedang Gorah serta Darko masih terus beradu dengan pedang siluman ular kobra, mereka masih pada tempat yang sama; di atas akar pohon. Dan tetap bertarung dengan sebilah pedang.
Kegelapan malam membuat ras Peri itu menyorotkan lagi cahaya penerang dari netra mereka masing-masing. Sedangkan untuk para siluman mereka sebenarnya mampu melihat dalam gelap, tetapi dalam jarak pandang yang tak begitu jauh.
Suasana hutan masih diisi oleh suara-suara pertarungan dari ras Peri yang nampak nekat itu. Langit malam hanya dihiasi sedikit taburan bintang, udara yang mengirimkan aroma pering masih santer terasa, hawa menjadi hangat karena adanya pertarungan dan setiap anak yang masih terjebak di sel tahanan masih tak sadarkan diri.
“Hyaaaaaat ...!” Gorah dan Darko masih antusias dalam pertarungan mereka. Meliukan tangan agar pedang melayang cepat dan akurat.
'Klang' lalu 'Trang' siluman juga meski cacat masih begitu hebat menahan anak-anak itu dengan tangan satu yang meliukkan pula pedang dengan tepat dan cepat.
Mereka hanya berkutat di sana, karena memang Gorah dan Darko memberikan kesempatan teman-temannya yang lain untuk memulihkan diri.
Namun pada akhirnya, setelah berjam-jam pertarungan itu terjadi, semuanya buyar seketika. Karena dari sisi kanan siluman ular kobra telah melesat cepat Nerta dengan tinjuan yang berbalut energi putihnya.
'BAK' tinjuan keras dari ke dua tangan Nerta berhasil mengenai pinggang sang siluman, membuatnya terdorong ke samping dengan terseret satu meter, 'Srrrraak'.
Membuka peluang bagus yang langsung membuat Gorah serta Darko menebaskan pedang mereka pada siluman kobra.
'Klang' hebatnya dua pedang itu mampu ditahan oleh siluman ular kobra. Sedetik selepas itu, Nerta maju dengan dua katana yang berhasil menusuk perut sang siluman. 'Slerp'.
“Gyah ...!” Siluman kobra mulai merasakan sakit dari luka dan dari sudut bibirnya mengeluarkan darah ungu kehitaman.
Merasa terpojok, sang siluman mulai menyemburkan lagi asap berdebu hitam yang panas dari mulutnya.
'BRUUUUFFFFH'.
'Swoosh' Nerta berhasil mengindar, hanya saja Gorah serta Darko harus menghindar dengan tubuh yang terbakar api gegara terkena semburan siluman itu.
“HUAAAAAAAA ...!” mereka berteriak di udara dengan berputar-putar berusaha mematikan api dari tubuh mereka.
'Bruk' mereka menjatuhkan badan ke tanah dan berguling-guling di sana, yang lantas dihampiri oleh Arista.
Api membakar di depan siluman ular kobra itu. Nerta pun terbang di depannya dalam jarak 8 meteran.
Faktanya dalam alam jin tak pernah ada yang namanya lemari pakaian, mereka mampu membuat pakaian dengan energi mereka, sesuai cipta khayal mereka. Sedangkan bagi bayi biasanya akan dibantu oleh orang tuanya.
Begitulah yang terjadi pada Nerta, jubah nuansa putih berlengan panjang yang disertai corak api nuansa hitam dengan celana panjang warna hitamnya menjadi penampilannya kini.
Pedang dari siluman ular kobra telah dibuang, lebih-lebih dua katana yang menancap ngeri di perut berototnya tanpa segan dicabut dari sana, kemudian dibuang ke sembarang tempat. Tapi kali ini, di perut berotot itu terdapat bekas luka dengan darah ungu kehitamannya.
Quin yang telah pulih langsung meluncur cepat dengan bola-bola energi nuansa merah tertembak pada siluman kobra tersebut.
'Buafs' 'Buafs' anehnya siluman itu membiarkan dirinya tertembak, yang memang bola-bola energi itu sama sekali tak membuatnya terluka.
Ke dua tangan Quin telah membentuk dua kapak yang lalu dirinya menebaskan kapak itu secara vertikal dari atas ke bawah pada kepala sang siluman, 'Siuw'.
'Swoosh' sang siluman berhasil menghindar mundur ke belakang, membuat Quin bergerak di depannya dan inilah rencana sang siluman.
'BRUUUUFFFFH'.
Asap berdebu hitam yang panas dari mulut sang siluman disemburkan kembali pada Quin dan itu mengenainya!
Membuat sekujur tubuh Quin lengkap dengan sayapnya terbakar hebat dan sebelum semua terlambat, Nerta berputar-putar dengan sayap yang mengembang selebar-lebarnya membentuk angin yang besar untuk mematikan api yang melahap tubuh Quin.
Di sana Quin berteriak kepanasan, terbakar di atas akar pohon dengan berguling-guling, sedangkan siluman ular melompat menjauh, dari akar ke akar, berusaha pergi menuju sel tahanan anak-anak yang tadi Nerta dan kawan-kawannya hendak membukanya.
Darko dan Gorah masih butuh penanganan intensif dari Arista, terbaring di tanah dengan melenguh kepanasan, api sudah padam, tapi terpaksa mereka menanggung luka bakar. Membuat Arista berdiri di samping ke duanya, tangan kirinya menyalurkan energi biru langit pada Gorah, sementara tangan kanannya menyalurkan energi biru langit pada Darko.
Gorah yang bertelanjang dada mengalami luka bakar lebih serius ketimbang Darko yang berjubah.
Kendati demikian, Quin masih terus berjuang mematikan api dengan bantuan kibasan sayap Nerta yang membentuk tiupan angin kencang pada Quin.
Siluman ular kobra kini berhasil berada di depan sel tahanan anak-anak, tangan kanannya kemudian menarik kaki seorang bocah laki-laki. Berkat cincin itu dia bisa menembus sel tahanan tersebut.
Telah terbaring tak sadarkan diri seorang bocah laki-laki tawanan siluman yang kini berada tepat di depan siluman ular kobra.
Lantas tangan kanannya membentuk sebilah pisau dan 'Cleb' pisau itu ditusukan pada leher bocah laki-laki itu.
“Khrkhrhhk ....” Maka bocah itu tewas secara perlahan dengan darah keemasan yang memuncrat dari lehernya.
Belum usai, sebilah pedang pun dibentuk dari tangan kanan siluman ular kobra.
'Slash' 'Slash' dada bocah itu disayat, kemudian tangan kanan siluman tersebut melesak ke dalam dada bocah laki-laki itu, secara tak terduga, dia mencabut jantung dari tempat yang seharusnya, jantung bocah itu nampak berlumuran darah keemasan dengan masih berdetak pelan.
Siluman ular itu melahap bulat-bulat jantung tersebut dengan buru-buru.
Lebih dari itu, sang siluman ular buru-buru menyantap organ dalam bocah laki-laki itu yang sebisa mungkin banyak meminum darah segar sang bocah.
Organ dalam pada ras Peri sangat berbeda dengan organ dalam manusia, 'usus' mereka langsung terhubung pada 'lambung energi'; organ yang mencerna sari pati makanan untuk menjadi kekuatan. Saraf atau pun otot pada peri berwarna pelangi, yang mengandung sel-sel 'kunang-kunang' yang membuat kulit mereka memancarkan cahaya dan menyalurkan energi dari pusat Energi pada seluruh jaringan tubuh mereka. Ada pun bila tewas, cahaya para peri akan redup, penyebabnya karena sel 'Kunang-Kunang' tak mendapat lagi nutrisi dari jaringan darah 'berlian' yang dipompa jantung.
Selepas menyantap organ dalam tubuh bocah itu, tak lupa dua bola mata bocah Peri itu dicabut dari asalnya dan langsung disantap sang siluman, bahkan tangan kanan nan mulus sang bocah langsung digigit oleh siluman ular, yang mana gigi sang siluman sangat tajam.
Dia mulai menyantap tangan bocah itu buru-buru dengan begitu gelojoh.
Digelap malam yang terasa kelam, siluman ular kobra itu mencoba memulihkan lagi tubuhnya dengan menyantap seorang anak kecil.
-------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)