Nurvati

Nurvati
Episode 93: Kemisteriusan Menggugah Tanya.



Dikegelapan hutan Kematian, seluruh anak telah berdiri di atas tanah dengan tatapan kewaspadaaan, mengedarkan pandangan pada sekitar berharap markas siluman mereka dapati.


Tak ada apa pun, hanya kabut, kegelapan, rumput-rumput layu, bau bangkai, dilengkapi suara-suara aneh dan agak mencekam.


“Ayo kita lanjutkan saja ke depan,” saran Quin dengan melangkah lebih dulu ke depan.


Tak banyak komentar, seluruh anak pun ikut melangkah ke depan, berjalan berbaris dengan Quin yang jadi pemandunya.


Kembali lagi perjalanan yang panjang dilakukan, seluruh pandangan bercahaya mereka menyorot ke segala penjuru. Melangkah penuh hati-hati. Dan bahkan mereka sempat berbincang, perbincangan yang mungkin agak berat, perihal perang dunia ke-18 ini, masalahnya perbincangan anak-anak ini adalah kritikan-kritikan pedas terhadap pemerintahan sekaligus terhadap kekalahan perang.


Mereka memang anak kecil, akan tetapi masalah-masalah dewasa acap kali menjadi topik utama dalam perbincangan.


Semuanya itu terjadi setelah melihat kesamaan orang tua mereka yang bisa dikatakan sangat berperan besar dalam keputusan bernegara, seperti Arista yang jadi yatim gegara orang tuanya tewas dalam medan perang.


Atas kesamaan itulah, mereka seolah membentuk jalan takdir hanya demi memperbaiki kesalahan-kesalahan orang dewasa, terutama orang tua mereka.


Memang mereka hanyalah anak-anak yang masih penuh imajinatif, namun pengalaman telah mencambuk jiwa mereka mendorong mereka untuk menyimpulkan bahwa dunia luar tengah kacau balau dan bila tak diperbaiki maka kiamat akan tiba.


Mereka sadar betul kalau mereka adalah generasi penerus bangsa, mereka sadar betul kalau banyak rakyat yang sebenarnya menderita dalam perang ini.


Pahlawan telah menjadi arti hidup bagi mereka dan menyelamatkan masyarakat telah menjadi jalan hidup mereka, anak-anak yang telah dibentuk oleh penderitaan dan penderitaan itu membentuk pola pikir mereka.


Kini, sebagai generasi penerus bangsa, mereka berjuang membentuk nama baik di kota mereka.


Waktu yang berlalu mengiringi langkah menuju jarak yang jauh, rasa lelah terhalangi karena sikap optimis mereka sangat pekat, kaki-kaki pendek mereka terus membentuk jejak, baik dalam hutan mau pun dalam kehidupan, mereka tak mengeluh, tapi perbincangan-perbincangan akan betapa penasarannya anak-anak terhadap kedawasaan seperti apa, atau apa itu cinta menjadi topikalitas selama perjalanan panjang ini. Ditambah unek-unek segala macam opini-opini dari orang tua ikut mengisi waktu perjalanan.


“Kata ayahku, kematian itu sangat menyakitkan, tapi ... aku sendiri belum merasakannya,” kata anak laki-laki berambut merah.


“Tapi ... kata ayahku, kalau kita mati mengorbankan jiwa kita demi masyarakat, maka kematian kita adalah kemuliaan dan itu tidak sakit ... makanya aku mau membantu masyarakat,” sambung anak perempuan berambut pingai alias Quin.


“Kalo udah mati, emang mau ke mana?” tanya Arista dengan polosnya yang tak lelah menggendong tas di depan badannya.


“Ahhh ... kata ibuku ... setelah kita mati, kita akan memilih, mau terlahir lagi, atau mau istirahat di surga dan menikmati keabadian ...,” jawab anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Terus ... kamu mau ke mana?” tanya lagi Arista yang berjalan di paling belakang.


Dengan menggaruk kepalanya, dalam kebingungan, anak laki-laki berambut hitam panjang itu hanya menjawab, “Aku tidak tahu ... 'kan aku masih di sini, belum mati.”


Perkataan yang terkesan polos itu hanya ditanggapi dengan cengengesan oleh Arista.


Perjalanan masih berlanjut, cerita-cerita akan betapa penasarannya jiwa mereka terhadap pikiran, pekerjaan, serta pendapat-pendapat orang dewasa terus menyertai perjalanan mereka.


Lebih-lebih pil Energi mulai dibagikan pada setiap anak, mau tidak mau perjalanan panjang mereka harus menanggung lelah. Tapi itu tak menjadi keluh kesah mereka, mereka tetap optimistis dalam misi penyelamatan mereka. Tetap bisa tersenyum senang walau berada di hutan Kematian. Dan menganggap ini adalah petualangan yang mengasyikkan.


Entah sudah berapa lama mereka melakukan perjalanan, namun sang fajar telah menyingsing, menyingkirkan kegelapan malam berbintang, menyingkap tabir hitam malam pada hari yang beralih menuju cerah, meski awan-awan mungil nampak berkumpul, itu tak menghentikan sinar baskara untuk memamerkan keelokan sinarnya.


Kaki-kaki pendek mereka pun terus bergerak mengambil jarak-jarak mencari siluman, meninggalkan peraduan demi kehormatan yang disebut pahlawan, rasa lelah telah menjadi bagian penting perjuangan mereka, jadi tak dihiraukan.


Masih menginjak tanah hitam nan kering, dan demi mengisi kejenuhan, pembicaraan akan penasarannya mereka pada dunia terus bersenandung menghibur waktu, melayani realitas.


“Teman-teman ... apa kalian masih memegang impian itu?” tanya Nerta yang berjalan di belakang Quin.


“Cita-cita menjadi pahlawan kota ...? Tentu saja iya!” jawab Quin.


“Pasti dong,” sambung anak laki berambut merah dan anak laki-laki berambut hitam panjang secara kompak. Dan kesamaan itu membuat mereka tertawa.


“Aku ingin jadi pahlawan!” timpal Arista yang mengandung jawaban 'iya'.


“Baguslah ... karena ...,” ucapan Nerta tersendat karena adanya hal janggal.


Langkah mereka terhenti serempak dan masih menatap dengan cahaya dari mata mereka, membentuk formasi melingkar, berdiri saling membelakangi, mewaspadai ke segala penjuru mata angin.


“Ada pergerakan lain! Hacim ...,” keluh Nerta dengan raut muka serius.


“Iya! Ada seseorang!” sambung anak laki-laki berambut merah dengan mengepal tangan ke atas dada.


“Hati-hati teman!” timpal anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Aku selalu siap untuk ini!” ungkap Arista dengan ke dua tangan mengepal yang disejajarkan dengan bahu.


“Dan aku siap untuk mengahajar siapa saja yang menghalangi impian kita!” celetuk Quin dengan ke dua tangan telah berbalut energi nuansa merah bersiap menyerang.


Seluruh kesunyian yang merebak buyar seketika, seorang beratribut aneh muncul dari arah Tenggara, masuk dalam realitas perjalanan mereka.


'Woush' Quin langsung melesat maju dan melakukan pukulan pada orang itu.


'Trang' 'Trang' 'Trang' segenap pukulan Quin berhasil ditepis oleh dua sayap orang aneh itu, sayap yang seperti besi yang mampu menepis segala pukulan energi Quin.


Tapi kejadian itu tiba-tiba terhenti gegara sosok yang ternyata wanita itu bicara, “Berhenti bocah-bocah, berhenti!”


Setelah melakukan salto ke belakang, ke dua kaki Quin berhasil menapak di tanah dan langsung berdiri di tengah-tengah teman-temannya. Membuat ke lima anak itu memasang wajah serius penuh waspada dan menyelidik.


Mata mereka tetap bercahaya, begitu pula dengan netra wanita misterius ini; menyorotkan cahaya.


Dia wanita berjubah kelir hitam dengan tudung kepala yang menutupi kepalanya, jubah yang besar, dia memiliki dua sayap yang aneh, tidak seperti umumnya ras Peri, tas gendongnya yang kelir hitam melekat di depan badannya, berdiri berkacak pinggang, netra biru langitnya begitu intens memindai lima anak yang berdiri di depannya dalam jarak 4 meteran.


“Kenapa bocah-bocah seperti kalian bisa berada di sini?” usut wanita misterius dengan suara seraknya.


Seketika ke lima anak itu saling menatap penuh tanya, merasa aneh dengan pertemuan ini dan merasa kalau wanita di depan mereka sepertinya bukan siluman.