
Falas terpaku dalam raut datar, sama sekali tak menunjukkan keterkejutannya. Dia seperti sudah tahu akan menjadi seperti ini, atau tepatnya; Nurvati terjerumus dalam rencana Falas. Benar, seperti yang sudah diketahui, Falas memiliki rencana tersendiri dalam janjinya, dan ini terlihat berjalan lancar.
“KENAPA KAU MALAH MEMBERI ...,” sentakan Nurvati tiba-tiba tersendat, sebab, Falas telah melayangkan pedangnya pada leher Nurvati, tapi tunggu, pedang itu hanya terhenti tepat di atas bahu kiri Nurvati. Dan itu sanggup membungkam mulut Nurvati.
Tiba-tiba, waktu terkesan berhenti sejenak, angin yang hangat terkesan mendingin, napas seperti berada di ujung hayat, Netra hijau Nurvati berbuntang ngeri, napasnya pun sempat naik tertahan, malah kepalanya pun terasa membeku.
Sedangkan di sana, Falas masih memasang raut muka datar, tubuh tegap yang berbalut jubahnya menggambarkan sikap apatis, namun pancaran netra birunya menyiratkan rahasia penting, dan itu tak disadari Nurvati.
Bersama angin yang spontan berkesiuran, mereka sengap dalam suasana sunyi, hati Nurvati kini malah lebur pada keinginannya bertahan hidup, pancaran iris hijaunya pun telah digenangi air mata yang kalau mau dapat jatuh memilukan. Mereka saling bersirobok dalam perasaan masing-masing.
Namun selang tujuh detik dalam waktu krusial, Nurvati menunduk pilu nan kelesah, seraya berujar, “Se-seharusnya ... kau ta-tak memberiku harapan ....”
Tanpa menanggapi dengan kata-kata, Falas masih mencengkram gagang pedangnya, tetapi kali ini cengkramannya agak kendur, ia berusaha memastikan sejauh mana keinginan Nurvati untuk tetap hidup.
“Berputus asalah Nurvati, kematianmu akan cepat, dan semua akan terobati,” bujuk Falas dengan suara renyahnya yang terdengar begitu kalem namun masa bodoh.
Bukannya senang, atau terbujuk untuk berputus asa, hati Nurvati malah menjadi lebih kuat untuk tetap bertahan hidup, pikirannya berkutat pada harapan baru yang sekiranya berharga untuk diperjuangkan, namun juga bingung karena sebuah janji wajib diselesaikan. Dalam menunduk kepiluan, ia sengap tak membalas perkataan Falas.
Falas yang tak mau basa-basi, secara tiba-tiba memusnahkan pedang ditangannya, hancur seketika menjadi asap, tak lagi memegang pedang sebagai eksekusi, malahan tangan kanannya kembali turun ke posisi nyaman. Sepertinya akan bertolak belakang dengan ekspektasi diawal.
Menyadari keanehan itu, Nurvati refleks menoleh ke kiri, memeriksa apa lehernya benar-benar selamat dari sabetan pedang, meski tiga detik dihabiskan untuk menyadari keselamatannya, ia kembali menghadapkan wajahnya pada Falas; memasang raut muka kuyu. Nurvati bertanya-tanya dalam benaknya atas gerangan apa yang menghentikan Falas dari eksekusi ini, dan Falas tetap memasang mimik muka tak berperasaan; datar.
“Kenapa kau memberiku harapan? Kenapa kau harus menemaniku hingga saat ini?” keluh Nurvati dalam raut kuyu penuh perenungan.
Raut muka Falas yang semula datar kini sekonyong-konyongnya berubah santai, lebih dari itu, entah mengapa bibir tipisnya malah mengembangkan senyuman damai tanpa masalah, netranya berbinar merenggut perasaan tegang untuk dialihkan menjadi tenang.
“Nah 'kan, labil ...,” tutur Falas dengan berkacak pinggang agak menyentil sikap Nurvati.
Tanpa komentar, Nurvati masih memandang Falas dengan raut muka kuyu penuh tanya.
“... jadi, sepertinya pengalaman menjawab apa yang tak dapat dijawab oleh kata-kata?” tanya Falas menguji sejauh mana Nurvati memahami hidupnya.
Netra hijau Nurvati masih diliputi binar kesedihan, telah berkaca-kaca untuk siap menjatuhkan air mata bila hatinya terhenyak, bibir tipisnya masih bungkam, ia berusaha mencerna baik-baik perkataan Falas. Sejauh napas yang direnggut Nurvati dalam hidupnya, sejauh itulah pengalaman hidup memang menjawab untaian kejadian yang tak dapat dijawab oleh kata-kata, tepatnya; nilai-nilai pengalaman hidup yang didapat menjadi pelajaran penting bagi hati serta pikirannya. Nurvati telah memahami kebersamaannya dengan Falas.
“Apa kau tahu, apa yang orang tuamu harapkan dari kematian mereka, apa kau pernah bertanya, mengapa mereka melindungimu dengan nyawa mereka?” tanya lagi Falas demi membuka pola pikir Nurvati.
Nurvati menggeleng tak tahu. Hanya saja berkat pertanyaan kedua itu malah membuat Nurvati menyadari kesalahannya; dia merasa membuat orang tuanya kecewa oleh putus asanya sendiri.
“Ya, aku sendiri pun sebenarnya tidak tahu,” seloroh Falas yang berusaha mencairkan suasana.
Bahkan demi menutup kalimat humornya itu sampai disertai tawa, dengan tujuan menggugah sisi psikologis Nurvati agar ceria. “HAHAHAHA ....”
Mendengar hal yang bagi Nurvati sendiri tidak lucu membuatnya berani berkata, “Kau itu tidak lucu Falas, berhentilah berusaha membuatku tertawa.”
Malahan dalam komplainnya itu Nurvati sampai menyeka matanya oleh punggung tangan kanannya. Menghilangkan air mata yang hampir menjadi simbol kesedihan. Sepertinya tak akan ada air mata yang jatuh.
“Oh ... maaf-maaf aku memang tidak pandai membuat orang tertawa ... tapi bukannya kamu pernah tertawa gegara aku 'kan?”
Sebuah pertanyaan yang bagi Nurvati sendiri itu tidak penting, apalagi dibahas dalam keadaan seperti ini, meski memang Nurvati pernah tertawa gegara lelucon Falas, namun semakin hari leluconnya semakin 'garing', tapi tetap saja, hati Nurvati mengapresiasinya dengan perasaan senang, karena bagaimana pun, dalam hidupnya, barulah Falas seorang yang berjuang membuat Nurvati tetap ceria, satu-satunya teman dalam hidupnya.
“Sekarang bagaimana ini, kita sudah berjanji untuk membunuhku?” komplain Nurvati dengan sungguh-sungguh. Nurvati tahu bahwa bila janji tak ditepati maka hukum alam yang membalas.
Falas termenung, bola iris birunya bergerak ke sudut kanan bawah netranya, lalu kembali menatap serius pada Nurvati, seraya bertanya, “Jadi, kamu tidak mau mati?”
“Hem,” balas Falas dengan mengangguk mengiakan tanpa penjelasan yang eksplisit.
“Jadi, kita melanggar janji?” tanya Nurvati memastikan.
Falas mengernyit kening keheranan, dan mengungkapkan rasa herannya itu, “Loh, kau sendiri 'kan yang tidak mau?”
Nurvati diam dalam hening merenungi baik-baik perkataan Falas yang ada benarnya.
“Kalau begitu, biar aku yang membayarnya,” ungkap Falas dalam tujuan yang samar.
Membuat Nurvati mengernyit kening kebingungan, sehingga rasa bingung mendorong benaknya untuk menyelidik, “Maksudmu bagaimana?”
Dalam raut muka tenang dan senyuman damai, Falas membalas, “Ketika itu aku memang berjanji lewat mulutku untuk membunuhmu, namun di sisi lain, hatiku juga berjanji, bahwasanya yang aku bunuh bukanlah dirimu, melainkan, keputusasaanmulah yang aku bunuh.”
Mendengar penjelasan itu, membuat benak Nurvati lega, lalu berucap, “Oooh ... aku kira ....”
Walau hanya tiga penggal kata yang terlontar, tapi itu cukup membuat Falas menanggung tanya, karena pada kata, 'kira', terdapat hal penting di dalamnya.
“Eh, memangnya tadi kau mengira apa?” usut Falas yang merasa Nurvati menyembunyikan hal berharga.
Kedua alis Nurvati terangkat, kaget; ia tak menyangka Falas mempertanyakaan perkiraan awal Nurvati.
Karena tak mau membeberkan isi hatinya, Nurvati pun yang merasa gengsi bicara dengan ketus. “Huh, aku hanya mengira kau akan bercanda.”
Meski Nurvati telah menuturkan alasannya, tapi Falas mengetahui ada hal yang ditutupi Nurvati. Dan akan cukup memberikan nilai artistik tersendiri kalau dikuak.
“Atau jangan-jangan ... kau mengira aku bunuh diri?” duga Falas dengan bersedekap menyilang tangan, dan bola irisnya tertuju ke sudut kanan netranya, memikirkan kebenaran perkiraan Nurvati.
“Dan ... kau takut kehilanganku 'kan?” lanjut Falas dengan mengangkat kedua alisnya, menatap netra hijau Nurvati, membentuk kesan guyon berpadu menggoda.
“Eh, bukan begitu,” sanggah Nurvati.
“Ooooh ... ahk aku tahu, kau takut kehilanganku ... hahahaha.”
”Huh, salah besar!“ bantah Nurvati dalam gengsi.
”Jadi ... sekarang aku berharga buatmu 'kan?“ sindir Falas mencari tahu sejauh apa nilai dirinya berada dalam hidup Nurvati.
”Salah besar! Aku hanya tak mau yang menanggung beban kematian itu adalah kau, karena ...,“ penjelasan Nurvati yang mengotot dipotong mendadak oleh Falas.
”Berharga! Ya ... kau tidak mau aku yang mati, karena aku terlalu berharga buatmu.“
Penjelasan Nurvati yang mengandung gengsi, yang terpotong, telah dilengkapi sempurna oleh Falas, yang memang pada dasarnya Nurvati tak mau lagi kehilangan seseorang yang paling berharga dihidupnya.
”Jadi akhirnya begini saja? Aku kira akan ada rengekan darimu yang ....“
Perkataan Falas itu tak tuntas disebabkan Nurvati yang sekonyong-konyongnya malah pergi tanpa berpamitan.
”Eh, Nurvati tunggu!“
Pada akhirnya, kematian cepat bagaikan obat yang diagungkan Nurvati pun gagal terlaksana hanya gegara Nurvati mulai merasakan nilai hidupnya yang berharga; terbentuknya harapan kedua.