Nurvati

Nurvati
Episode 133: Merenggut Waktu Dan Tangis Kesepian.



Sebuah tempat yang luas, tempat di mana terhampar rerumputan nuansa pingai sejauh mata dapat melihat. Udara bertiup lebih kencang di sini, hingga rerumputan bergoyang-goyang seirama bersama angin.


Di sinilah Apan serta Arenda berdiri, mereka telah tiba.


Dengan melompat menjauhi Arenda, tenggiling Apan bicara, “Arenda ... ayo kita bertarung, kita lihat sejauh apa kita berkembang!”


7 meter Arenda berdiri di depan Apan, memandangnya agak rambang karena meski ini hanya sebatas latihan, tetapi agak canggung. Lebih lagi sudah lama Arenda tidak berlatih, sehingga mungkin akan terlihat kaku.


'Bouff' 'Bouff' tembakan bola-bola energi nuansa merah dari dua tangan Apan tiba-tiba menerjang angin menuju Arenda.


Daya destruktif bola energi itu tentulah cukup tinggi; 90%. Seperti serudukan seekor banteng.


'Buaf' 'Buaf' tapi cukup hebat bila disadari, nyatanya Arenda mampu menangkis bola-bola energi itu.


Wajahnya pun seketika serius dan gestru tubuhnya mengambil ancang-ancang, seraya berujar, “Baiklah ... kalau kalah jangan menangis ya ....”


Sudut bibir tipis Apan tertarik membentuk senyum miring, lalu membalas, “Sepertinya, kalimat itu lebih cocok untukmu ....”


”HYAAAAT ...!“ Arenda melompat dengan ke dua tangan berbalur energi merah yang berbentuk seperti pedang.


Energi merah itu mengentak pada Apan, 'Syut' lalu 'Beefff' ke dua tangan Apan diangkat ke atas hingga dengan sama-sama dilimbur energi nuansa merah, pedang energi itu berhasil dihancurkan.


'Drap' 'Drap' Arenda berlari dengan ke dua tangan yang masih dilimbur energi merah.


Maka, 'Buafh' 'Buafh' tinjuan-tinjuan dari Arenda mampu ditangkis cukup cepat oleh Apan.


Tinjuan Arenda dari kanan 'Buafh' Apan mampu menangkisnya. Tinjuan Arenda dari kiri, 'Buafh' Apan mampu menangkisnya.


Tendangan dari kaki kanan Apan melayang secara vertikal, 'Siuw' Arenda berhasil menghindar, lalu 'Swoosh' Apan berputar 360 derajat melakukan tendangan dengan tumit kaki kanannya, namun 'Buafh' tendangannya ditepis oleh dua tangan Arenda.


Maka 'Tap' 'Buafh' 'Tap' 'Buafh' terjadilah pertarungan sengit dengan pukulan-pukulan dari Arenda yang mampu ditepis oleh Apan, begitu pun tendangan-tendangan dari Apan mampu ditangkis oleh Arenda.


Kemampuan energi mereka dipertunjukan satu sama lain pada realitas saat ini, pergulatan itu cukup cepat dan gesit.


Pukul lalu tendang, tendang lalu tepis, tepis lalu tinju, tinju lalu salto, salto lalu pukul, terus bergelut dengan lihai menggunakan energi masing-masing.


Efek serangan cepat mereka membentuk tiupan angin ke sekitar.


Tentulah pertarungan itu bukan semata-mata dendam atau permusuhan, ini hanya pertarungan selamat datang, pertunjukan akan betapa mereka telah tumbuh berkembang selama ini.


Waktu dan jarak yang dulu direnggut demi mimpi-mimpi telah jadi kekuatan mereka untuk bisa ada di titik ini, untuk bisa lebih maju lagi.


Tinjuan dari tangan kanan Apan meluncur menuju wajah Arenda dan 'Baff' berhasil ditangkis oleh tangan kiri Arenda.


”Kau belum melampauiku ...,“ sindir Apan bicara lewat tenggilingnya berusaha membangkitkan semangat juang Arenda.


Lantas tendangan dari Arenda secara horizontal melayang menuju pinggang Apan, tetapi 'Wush' Apan berhasil melompat ke belakang menghindari serangan tersebut.


”Kalimat itu lebih cocok untukmu ...,“ balas Arenda cukup antusias.


Lalu pukulan serta tendangan yang mereka lakukan terus mengisi sepinya suasana, dua sahabat itu saling menunjukkan kebolehan mereka.


Bersama tiupan angin segenap perasaan dan kerinduan berbaur dalam sengitnya pertarungan.


Hingga Arenda dengan salto di udara menyorotkan energi nuansa jingga pada rerumputan yang diinjak Apan. Membuat rumput tumbuh subur, namun secara tiba-tiba malah mengikat ke dua kaki Apan, yang otomatis membuatnya terjungkal jatuh, 'Bruak'.


'Drep' telah mendarat Arenda dengan selamat, namun ke dua tangannya terus menyorot energi nuansa jingga pada rerumputan, membuat rerumputan itu menjadi kuat dan malah melilit sekujur tubuh Apan.


”Gah ....“ Apan meronta-ronta bahkan menggelepar-gelepar dengan rerumputan yang menjalar dengan cepat telah membungkus dirinya seperti kepompong, terlebih dua sayap putihnya pun terlilit.


Tapi tunggu dulu. Mantra di dalam hati telah dirapal oleh Apan. Mantra 'Cermin'.


Energi ungu sihir mulai meliputi tubuh Apan dan sihir pun bekerja!


”Sialan ...!“ umpat Arenda yang terkejut kalau nyatanya rumput-rumput yang telah melilit Apan, malah mulai menjalar menuju kaki Arenda dan mulai melilit tubuhnya.


”HYAAAAAAT ...!“ teriak Apan dengan menggelepar-geleparkan sayapnya.


Lalu 'Srak' Apan berhasil meloloskan diri dari jeratan rumput dengan energi sihirnya yang hilang dan 'Siuw' melompat ke belakang mengambil jarak jauh pada Arenda, terbang di ketinggian 2 meteran.


Untung bagi Arenda sihir cermin itu telah lenyap, dia kembali berdiri dengan tubuh yang utuh tetap mengambil ancang-ancang menyelia pada Apan.


Sihir cermin itu cukup berbahaya, kalau salah keputusan, kekalahan yang harusnya bagi Apan malah menginversi pada Arenda.


Perasaan dilemanya untuk momen ini terasingkan oleh seriusnya pertarungan ini.


Lalu 'Bouff' tembakan bola energi nuansa merah meluncur deras pada Apan dalam jarak 8 meteran itu.


Seperti perhitungan diawal, Apan menggunakan sihir cerminnya, bola energi dari Arenda menabrak pancaran energi ungu sihir Apan. Yang mana sihirnya telah mencapai tingkat Langit 7.


'Bouff' bola energi itu menginversi pada Arenda dan secara cepat dia menghancurkannya, lebih dari itu, 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' beberapa bola-bola energi kembali ditembakan pada Apan.


Arenda memiliki rencana dan inilah rencananya.


'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' bola-bola energi terus ditembakan pada Apan oleh Arenda dan itu dengan langkah kaki Arenda yang berjalan maju.


'Buaf' 'Buaf' 'Buaf' bola-bola energi milik Arenda beradu dengan bola energinya yang menginversi dari sihir Apan dan sirna saat beradu. Tetapi Arenda terus melangkah mendekati Apan.


”Ayo sahabatku ... tunjukan potensimu ... tunjukan potensi seorang peri klan Daun!“ tantang Apan dengan niat ingin membangkitkan semangat pertarungan Arenda.


Sadar akan koneksi tersebut, maka 'Woush' Arenda melompat tinggi meluncur menuju Apan dengan masih menembakkan energi merah padanya.


Netra cokelat Apan bergerak selaras dengan gerakan Arenda, yang setiap detiknya semakin mendekat.


”Apa yang sebenarnya kau lakukan?“ gumam Apan dengan mengernyit kening kebingungan dan bicara lewat tenggilingnya.


'Buuff' sebuah tembakan energi jingga meluncur ke bawah kaki Apan, cukup cepat dan membingungkan, sampai-sampai Apan kewalahan karena Arenda sudah dekat dengannya. Arenda berusaha mengalihkan pusat perhatian.


Tembakan bola energi telah usai. Tangan kanan Arenda memanifestasikan sebilah pedang dari energinya yang diangkat dan diarahkan pada Apan.


Dalam berpikir cepat, Apan tak mungkin menggunakan sihir Cermin pada momen ini, Arenda dapat terluka parah, sehingga 'Wush' Apan terbang lebih tinggi dan membuat Arenda meluncur di bawah kakinya tanpa mengenai sedikit pun anggota tubuh Apan.


Maka 'Drap' Arenda mendarat dengan selamat oleh dua kakinya tepat di rerumputan warna pingai, berlutut dengan memunggungi Apan.


Akan tetapi, ada hal janggal yang memicu Apan keheranan hingga memutar tubuh ke belakang pada Arenda.


Tenggiling Apan di pundak kirinya menghilang.


Oleh sebab itulah, Arenda bangkit berdiri sembari memutar tubuh ke belakang, menghadap Apan dengan tangan kiri yang memegang tenggiling transparan milik Apan, lengkap oleh pedangnya yang ditempelkan pada punggung tenggiling itu; memberikan kesan mengancam.


Arenda pun dengan tersenyum miring menatap Apan, lantas berkata, ”Aku menang ... atau tenggiling ini hilang nyawa.“


Menanggapi itu, perlahan Apan turun dan mendarat di rerumputan, membuat dua pribadi itu berdiri dalam jarak empat meteran, saling bersirobok.


Udara mulai bertiup pelan, sepi sempat eksis dalam suasana. Pertarungan yang bisa dikatakan sangat singkat, atau juga memang disengaja untuk singkat, sebab sepertinya pertarungan telah usai.


Di sana Apan tersenyum santai dengan berkacak pinggang, dilihat dari situasi yang ada, Arenda telah berhasil unggul; dia menang.


”Jadi kau memanfaatkan kelemahanku ya ... hemmm ... tidak masalah bagiku ...,“ ungkap Apan lewat tenggilingnya yang tak ambil pusing.


Maka Arenda pun menancapkan pedangnya di tanah, membiarkannya begitu saja, kemudian berjalan mendekati Apan.


”Kau menggunakan energi jinggamu itu dengan membuat rumput, lalu mengambil Bening dariku lewat titik butaku, 'kan?“ tanya Apan lewat tenggilingnya.


Arenda membiarkan kalimat itu mengisi kenyataan sementara, dengan mengulur tangan kirinya ke depan, sehingga tangan kanan Apan ikut terulur ke depan, membuat tenggiling tersebut berjalan dari tangan kiri Arenda menuju tangan kanan Apan.


”Iya ... seperti ekspektasimu itu ... tapi, kalau kau tahu aku melakukannya, mengapa tidak menggunakan perisai saja?“ ujar Arenda dengan balik bertanya.


Bersama tenggiling yang telah kembali ke pundak kiri Apan, tenggiling itu bicara, ”Aku panik saat itu, jadi tidak terpikirkan ....“


”Itu artinya ... aku menang ...?“ tanya Arenda dengan semringah.


Dengan raut muka santai dari Apan, lewat tenggilingnya Apan berujar, ”Iya ... mau bagaimana lagi ... kembali seperti masa lalu ... kau mengalahkanku lagi ....“


Hanya anggukan pelan dari Arenda sebagai responnya dengan bonus senyuman senang.


Tidak seperti masa lalu baginya, dulu, kemenangan yang diraih Arenda membuatnya lompat-lompat kegirangan dan Apan mengumpat-umpat karena kalah.


Semuanya memang telah berubah. Apan telah tumbuh dewasa, dia bisa menerima kekalahannya secara sportif, tidak seperti dulu yang ngomel-ngomel tidak jelas, yang hanya bisa berhenti saat Arenda memberinya bunga hias.


Untuk itulah, Arenda pun tak banyak tingkah, dirinya diam dan hanya mampu diam.


Setelahnya, suasana di sini terasa kembali sepi, angin meniup lembut dan dua pribadi itu sempat melengkapi tiga detik untuk saling menatap penuh makna.


Sudah lama tak bersua, pandangan itu hanya sekadar melepaskan rindu semata, tidak lebih dari itu dan memang tidak boleh!


”Ayo ...,“ ajak Apan bersuara lewat tenggilingnya sambil memutar tubuh ke belakang.


Kesunyian buyar, pandangan melepas kerinduan pun sirna.


Sadar akan pergi, Arenda melayangkan kalimat tanya, ”Mau ke mana?“


Dengan terbang, tenggiling Apan berujar, ”Kita cari tempat makan ... sambil melihat matahari terbenam ....“


Tak ada keluhan, bersama senyum penuh syukur yang menghias wajah manis Arenda, dia berlari mengejar Apan untuk ikut bersamanya. Ini memang telah jadi agendanya.


Hanya saja, kelumit perasaan Arenda menyeruak kembali, perasaan aneh yang merekah kembali, sebuah perasaan yang memberi harapan benderang padanya dan muncul ketika sosok Apan muncul.


Tetapi demikian, Arenda mendeskripsikannya sebatas perasaan rindu yang telah tercurah pada sahabatnya itu. Tak lebih dari itu, karena memang seperti itu.


Kini mereka kembali terbang bersama-sama menuju tempat lain, yang diharapkan sampai di tempat makan untuk melihat matahari terbenam.


Ada pun bila jarak yang ditempuh itu dekat, mereka tak perlu repot-repot membuat pintu teleportasi, kecuali bila jarak sangat jauh. Atau memang sengaja ingin terbang menghabiskan waktu di perjalanan.