
Suasana masih tenang, pagi yang mendung mulai nampak mendungnya, semburat baskara terhalang oleh tumpukan awan-awan kelabu, angin mulai bertiup kencang, suhu mendingin.
”Falas, bagaimana kalau kita kembali berpetualang?“ ajak Nurvati begitu enteng, seolah-olah tak pernah ada masalah.
Raut muka Falas seketika menjadi serius, senyumnya pudar, sorot netra birunya tertuju tajam pada wajah bercahaya Nurvati, dan menjawab, ”Bagaimana kalau kamu jelaskan mengapa kamu membunuh dua teman masa kecilmu? Atau menjelaskan kerusuhanmu di perumahan area Timur?“
Jelas Nurvati tersentak akan pertanyaan itu, yang berarti Falas mengetahui apa yang dilakukan Nurvati selama ini. Mula-mula perasaan semringahnya mulai padam, pikirannya mulai mengingat semua perbuatan yang dilakukannya, lalu dengan rambang Nurvati bicara, ”Aku ... aku ....“
Sayangnya dirinya tak mampu berucap, ada ketakutan yang menyekatnya, takut kalau-kalau Falas tak paham tentang arti sebuah keadilan.
”Ya, sudah ... kalau ....“
Ujaran kepasrahan Falas langsung dipotong oleh Nurvati, tak ingin sedikit pun Falas salah paham, hingga Nurvati menjelaskan. ”Aku berjuang agar mereka bisa mengenal tentang arti memahami ... menyakiti yang menyakiti, itu adalah keadilan buatku, menyayangi yang menyayangiku itulah keadilan ... sama berat dan tidak memihak ... tak peduli siapa pun itu, rakyat, pejabat, atau penjahat, layak untuk diadili.“
Barulah mendengarnya bibir tipis Falas tersenyum tenang, seraya mengangguk mengerti, Falas membalas, ”Kalau memang seperti itu ... ya ... ya sudah ....“
Nurvati senang mendengar perkataan Falas dan bersyukur tak dibantah.
”Jadi, kamu memahaminya ...?“ tanya Nurvati memastikan.
”Hmmm ... bagaimana ya ...,“ gumam Falas dengan menunduk sembari menggosok-gosok belakang kepalanya dengan tangan kanannya. Falas tak ingin berdebat, apalagi dirinya memiliki pemahaman sendiri.
Lalu dengan kembali memandang santai pada Nurvati dalam bersedekap tangan, Falas bertanya, ”Apakah kamu memiliki kebencian pada mereka?“
”Tidak ... aku hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan,“ sanggah Nurvati dengan pasti nan lugas sambil berkacak pinggang.
"Hem ... sama sekali tak ada kebencian," imbuhnya dan sebagai penguat kebenaran perkataannya dia mengangguk mantap.
”Ya sudah ... kalau memang begitu,“ sahut Falas tak mau ambil pusing, dan kembali tersenyum tenang.
”Tapi ... kau tahu aku mengadili dari siapa?“ selidik Nurvati penasaran.
Iris biru Falas seketika bergerak ke sudut kanan netranya.
”Ilmu ... ya, ilmu ke-Tuhan-an Langit ...,“ papar Falas dalam suaranya yang renyah dan nampak penuh pertimbangan.
Nurvati mengangguk-angguk menerima alasan Falas. Dirinya juga tak menyangka kalau Falas berhasil menguasai ilmu tersebut. Hening sempat merebak, udara dingin meniup ke sekitar, Nurvati serta Falas tengah saling menatap dalam cuaca yang kini mendung.
”Bagiku ... rasanya sudah lama sekali kita tak bertemu,“ tutur Nurvati yang dalam kalimatnya ini secara tidak langsung adalah ungkapan kerinduannya pada Falas.
Cukup disayangkan, Falas tak menggubris perkataannya, bahkan seperti tak memahami perasaan berbunga-bunga yang tengah terjadi pada wanita yang baru dewasa itu. Raut muka Falas nampak sulit diterka, justru dengan lugas nan tegas, dirinya berucap, ”Nurvati, ada hal penting yang ingin aku beberkan, dan ini ... sangat penting ... penting menurutku ....“
”Ya kalau penting menurutmu ... ayo kita bicarakan di tempat lain saja ...,“ ajak Nurvati dengan santai, tanpa tahu rahasia apa yang tersembunyi dalam perkataan Falas.
Falas tersenyum tenang, dengan menggelengkan kepala membalas, ”Tidak tidak tidak ....“
”... Nurvati, ada hal yang harus aku ceritakan ...,“ lanjut Falas dengan serius.
”Oh ... ya sudah, cerita saja,“ sahut Nurvati tak merasa keberatan.
* * * * *
Dulu, ketika orang tua Falas masih hidup dalam realitas putaran dunia ini, ketika usia Falas masih sangat-sangat muda, jauh sebelum perang dunia ke-18 ini terjadi. Dia adalah anak yang begitu dimanja oleh ibunya, tak sekali pun permintaan Falas ditolak.
Ibunya terbilang begitu dermawan, di mata Falas, ibunya seperti seorang pahlawan yang benar-benar nyata, tentu saja, sebutan pahlawan dari Falas bukan semata-mata karena memiliki seorang ibu yang memanjakan anaknya, bukan itu!
Sang ibu yang memiliki rambut panjang nuansa hijau, dengan netra merah, bernama Sasvaty, sebenarnya memiliki tiga panti asuhan di tiga area perumahan yang berbeda, tempat yang merawat anak-anak yatim, baik anak-anak yang ditinggal mati, atau anak-anak yang ditinggal begitu saja.
Masalahnya, sang ibu merawat anak-anak hasil kawin silangnya antara umat jin dengan umat siluman, atau umat manusia dengan umat jin.
Jelasnya, dia menampung banyak anak-anak hasil kawin silang antar ras yang berbeda, dan acap kali warga sekitar merasa terusik oleh kehadiran anak-anak aneh itu, yang mana, ibu Sasvaty sebenarnya sudah meminta izin pada Ketua Perumahan, namun itu terkadang sama sekali tak berguna, panti asuhan yang menampung anak-anak 'aneh' selalu menuai konflik dan kecaman baik dari lingkungan masyarakat, mau pun terbawa oleh isu politik.
Sebab faktanya, bagi ras yang berani-beraninya menikah atau kawin silang dengan ras jin lain, mereka atau anak dari mereka pasti dikucilkan dari lingkungan masyarakat, bahkan hingga seluruh ras memberikan hukuman, yaitu, diturunkan pada bumi manusia, atau bahkan dihukum mati. Terlebih, peringatan untuk tidak menikah dengan yang sesama bukan ras, telah tertulis di kitab suci Keutamaan 3 seluruh ras jin.
Di siang hari nan cerah, tepat di area Selatan perumahan bangsa Barat. Falas kala itu tengah terbang untuk menemui ibunya, dan tak sengaja, di depan lingkungan panti asuhan, ibunya bersama dua orang perawat, tengah cekcok dengan beberapa masyarakat.
Masyarakat tak terima dengan kelakuan anak-anak aneh itu, pasalnya, anak-anak panti asuhan itu membuat anak-anak dari kalangan orang-orang biasa itu terluka. Memang, anak-anak panti asuhan didik di sekolah formal seperti masyarakat pada umumnya, menurut ibu Sasvaty, itu dilakukan demi keadilan dan kebersamaan dalam lingkup bermasyarakat, bahkan untuk itu sang ibu harus bicara langsung pada perdana menteri kerajaan.
Kini para orang tua tak terima, mereka membentak dan menjelek-jelekan ibu Sasvaty, karena tak becus menangani anak-anak aneh itu.
”Saya tidak mau tahu! Anak-anak aneh itu harus kami hukum!“ sentak seorang ibu yang menggandeng anak perempuannya.
Tapi dengan berlutut oleh dua lutut dan menundukkan kepalanya, ibu Sasvaty memohon, ”Tolong maafkan mereka ... tolong maafkan mereka, tolong, biar saya saja yang menghukum mereka ....“
Walau telah memohon dengan berlutut, masyarakat masih tak terima.
”Heh Sasvaty! Dari kemarin kau bicara begitu terus! Tapi apa nyatanya ...?“ sindir seorang ibu.
”Anak-anak kami tetap saja jadi korban dari anak-anak monstermu itu!“ lanjutnya begitu marah dan murka.
”Iya, mana anak monster itu!“
”Biar kami yang hukum anak-anak itu!“
Beberapa masyarakat mulai riuh karena marah, dan justru semakin marah.
”Saya mohon dengan sangat ... mereka hanya anak-anak ... saya mohon!“ Terus dan terus, ibu Sasvaty memohon belas kasihan dari orang tua para korban.
”Enteng sekali kau bicara kalau beralasan mereka anak-anak!“
Falas yang menyadari ibunya terdesak mulai turun mendarat, dia mendarat tepat di tengah-tengah kekisruhan berlangsung, berdiri di depan ibunya, berdiri memandang serius pada seluruh masyarakat. Jelas Falas sempat menjadi objek perhatian mereka.
”JANGAN GANGGU IBUKU!“ sentak Falas dengan mendepang tangan, berniat melindungi ibunya dari amukan warga.
Melihatnya buru-buru ibu Sasvaty menarik Falas ke sampingnya, berusaha menjauhkan anaknya dari masalah. Tetapi dengan kesal dan sebenarnya telah mengetahui asal muasal masalah ini, Falas kembali menyentak, ”ANAK-ANAK KALIAN YANG BODOH! ANAK-ANAK KALIAN SELALU MENINDAS ANAK-ANAK PANTI ASUHAN!“