Nurvati

Nurvati
Episode 76: Cinta Yang Disanjung Jadi Kebencian.



Waktu berkutat perlahan membantu kenyataan membentuk musibah, musibah bagi sang pemuda, yang tubuh indahnya, paras tampannya, badan bedegapnya, kini dengan berlutut dalam tangisan keputusasaan dia telah jatuh dalam laknat, memudarkan tubuh sempurnanya menjadi wujud Satanes, membiarkan sang Dewi kembali menunjuk seseorang untuk menjadi makanannya di neraka.


Dan dalam kalimat yang tidak dimengerti, dalam kalimat yang bukan berasal dari Putri Kerisia, Dia bersenandung.


“*Aku telah dapat darah dari rakyat ... oh, aku nyanyikan kematian putus asa untuk dapat kawan di neraka ... cinta yang disanjung jadi kebencian ... aku bersujud pada diriku ... para utusanku ada di Neraka* ....”


Entah mengapa Putri Kerisia bicara begitu, tapi bersama berlalunya waktu, tetesan darah yang faktanya adalah air mata Adofo perlahan dia berubah wujud, kulitnya melepuh menjadi merah magma, hatinya perlahan sakit yang teramat sakit, jiwanya dingin mulai terabaikan, darahnya nampak bergejolak, netranya berwarna merah darah, api mulai menggerogoti tubuh indahnya.


“Mengapa ... aku, hiks ... mengapa aku yang menderita?” keluh Adofo memandang kedua tangannya yang mengisyaratkan memandang akhir yang menderita.


Cita-cita menegakkan keadilannya telah membunuhnya sendiri, perjuangannya kini menjadi omong kosong belaka, keluarganya yang mati hanya mati dalam kesia-siaan, segala olok-olok masyarakat kini jadi do'a-do'a yang membentuk laknat, segala perbuatannya menjadi persembahan untuk sang Dewi Tanduk Empat. Melayani-Nya adalah prioritas utama.


“Tenang saja, tidak apa-apa ... engkau akan kembali mengabdi padaku ... karena yang tercipta dari alam Neraka, akan kembali pada Neraka ...,” ujar Putri Kerisia yang tetap menatap ke depan pada kupu-kupu Peri dan tak sedikit pun raut mukanya berubah, tetap datar namun menyiratkan ketenangan.


Menyerah di sana, semua telah dimenangkan sang putri bangsa Barat, dari ujung rambut hingga ujung kaki, sekarang Adofo telah berubah wujud, menjadi anak Satan milik Putri Kerisia, yang selalu mengabdi hanya pada Putri Kerisia, yang taat hanya pada Putri Kerisia.


Dan kalimat aneh bergaung kembali, bersenandung mengisi suasana damai, memecah ketegangan dari kejadian aneh.


“Terpujalah Dia yang menciptakan alam Neraka, oh, tak ada yang memahami Neraka kalau semua tak masuk Neraka ... lalu kitalah yang menciptakan Neraka ... dan akan kujadikan seluruh alam semesta menjadi alam Neraka.”


Hari yang cerah itu, seorang pemuda telah jatuh dalam kegagalan, penderitaannya dalam pengorbanan diri untuk keluarganya kini jadi milik sang Dewi Tanduk Empat, dia yang memburu keadilan yang begitu tinggi kini jatuh dalam derita berkepanjangan, dia yang melewati waktu dalam harapan kemenangan jatuh untuk sengsara.


Adofo yang gagal harus meratapi perjuangannya yang tak jadi kemenangan, dan hari yang cerah di dalam kesedihan ini nyatanya jadi kemenangan untuk Putri Kerisia.


Takdirnya digunakan dalam langkah yang salah, Adofo mati oleh dirinya sendiri yang berusaha menentang penguasa, lukanya tak pernah sembuh, dia berada dalam laknat berkepanjangan. Dilaknat karena menginginkan yang lebih dari sang penguasa.


Akhir tragis dari seorang pemuda yang berjuang demi keadilan, namun justru diadili oleh kegelapan warisan takdir. Dan setelah itu pun, Putri Kerisia selalu menunjukkan harapan manis pada rakyat jelata. Memberikan persembahan yang mengenyangkan mata namun malah menghancurkan pelan-pelan.


Karena bagi Putri Kerisia sendiri piramida sosial harus tetap diagungkan, tanpanya rakyat jelata nan rakus akan sulit diatur.


Sang Putri Kerisia kini kembali menjalani harinya sebagai penguasa, dalam perang ini memang banyak rakyat jelata yang meminta macam-macam. Ada yang ingin perdamaian, ada yang ingin kerajaan dibubarkan, ada yang ingin seluruh pintu alam ditutup dan ada-ada saja yang lainnya.


* * *


Mengikuti waktu berlalu, ditiga bulan selanjutnya, dalam hari yang cerah pada suasana hati yang tenang, Putri Kerisia pergi ke bangsa Selatan, orang tua Pangeran Awarta ingin berbincang dengan Putri Kerisia, perihal Pangeran Awarta.


Untuk menuju kerajaan lain, cukup melawati pintu teleportasi antar kerajaan dan hanya anggota kerajaan yang berhak menggunakannya.


Ruangan dengan gumpalan-gumpalan awan, ruangan yang lega dengan terbuat dari batu berlian, langit-langit yang ditinggikan dengan lampu dinding dari kristal yang menyala dalam gelap dan lantainya terbuat dari marmer 'Pelangi', terdapat tiga awan di sini, dua di antaranya telah diduduki raja dan ratu Awan bangsa Selatan, dan Putri Kerisia tanpa sungkan duduk di salah satu awan yang menghadap mereka.


Sempat bernamaskara Putri Kerisia sebagai penghormatan pada ke dua orang tua Pangeran Awarta. Dan orang tua Pangeran Awarta mengangkat tangan kanan kedekat kepala dengan menghadapkan telapak tangan pada Putri Kerisia, sebagai rasa hormat kembali pada sang putri bangsa Barat.


Hawa sangat nyaman, tentram dan terlingkupi dalam damai.


Wujud raja dan ratu bangsa Selatan nampak bercahaya dengan dua sayap putih nan cerah, mereka selalu menggunakan jubah kerajaan mereka, yang memiliki simbol bulan sabit di bagian dada jubahnya. Mereka duduk dengan melipat kedua kaki, menegakkan badan dan menumpu ke dua tangan di atas paha. Duduk berpose layaknya para orang-orang bermartabat.


Kecuali Putri Kerisia yang duduk dengan menjuntaikan ke dua kaki ke bawah karena agak repot kalau duduk melipat kaki dengan desain gaunnya yang seperti itu, namun tetap duduk tegak sebagaimana wanita terhormat.


Masih tenang tanpa ada senyuman hipokrit dalam raut muka datar Putri Kerisia. Tetapi aura keanggunan tetap memancar pekat menggairahkan siapa saja yang memandangnya, ditambah gaun nuansa merah dari batu Ruby yang semakin menambah kecantikannya.


Pembicaran awal mengandung formalitas semata; menanyakan kabar. Dan barulah pertanyaan tentang topikalitas sesungguhnya; menanyai kebersamaan Pangeran Awarta dengan Putri Kerisia.


Sungguh disayangkan, Putri Kerisia lupa caranya tersenyum, membuat nilai ramahnya turun. Tapinya dia bicara, “Saya dengan pangeran hanya bincang-bincang santai, lalu pangeran pergi untuk menyempurnakan ilmu Pengenal Diri-nya ... saya kira ... Paduka Raja dan Yang Mulia Ratu telah mengetahuinya?”


Sebuah kalimat yang sama sekali tak diduga raja dan ratu Awan karena bagaimana pun, mereka tidak tahu, bahkan sejak kepergian putranya saja komunikasi telah terputus.


“Kami baru mengetahuinya,” ungkap sang ratu yang keheranan mengandung sindiran.


“Apa kamu tahu, dia di mana? Saya sudah mencoba menggunakan ilmu Pelacak tapi hasilnya nihil ...,” timpal sang raja yang pengakuannya wajib dianggap fakta.


Pandangannya masih santai, kedua tangannya memegang muka lutut, Putri Kerisia tetap tegap nan cantik, seraya menjawab, “Saya juga tidak tahu keberadaannya, tetapi ... pangeran mungkin akan tampil dalam wujud berbeda.”


“Tampil dalam wujud berbeda?” heran sang ratu, yang bagaimana pun dia tetaplah hanya seorang ibu yang merindukan anaknya.


“Itu hanya sebatas visual di mimpi saya saja ... mohon maaf,” ralat Putri Kerisia yang menyempatkan menundukkan kepala sebagai tanda merasa salah.


Raja dan ratu hanya risau karena rencananya adalah Pangeran Awarta akan memberi kabar bila seratus tahun pergi, atau kalau pun dia tewas, seharusnya jasad Pangeran Awarta bisa dilacak oleh ilmu Hikmah sang raja Awan yang telah sampai tingkat 30, kecuali disembunyikan dalam alam Dewa-Dewi atau Kantor Malaikat. Itulah rencananya.


Karena faktanya dua pengawal setia Pangeran Awarta telah tewas dan mereka pun tak tahu ke mana perginya pangeran.


Maka bertanyalah sang ratu. “Putri ... apakah kamu menyukai Pangeran Awarta?”


Sebuah pertanyaan yang sebenarnya agak lancang, tetapi nyatanya di suasana yang begini kelancangan itu terasa tidak berlaku. Suasana yang santai dan tidak ada kecanggungan. Putri Kerisia tetap santai dalam gestur citra anggunnya.