
Hari sudah terik benderang, langit biru membentang indah, dihiasi beberapa awan putih yang bertengger, angin yang sangat sejuk bersiur kesegala penjuru kota menyingkap hawa panas dari baskara cerah hari ini.
Bangsa Barat saat ini tengah diguncang realisasi hukum pada para provokator dan yang terduga sebagai pemecah belah bangsa. Pasalnya, tengah malam itu mereka telah dieksekusi mati.
Beberapa anggota sekte, beberapa anggota organisasi dan pemimpin setiap kelompok pun telah menanggung mati dalam hukuman yang didakwa sebagai pengkhianat bangsa.
Segala validitas itu membentuk bermacam asumsi miring dalam benak setiap pribadi, warga bangsa Barat cukup terguncang oleh tragedi itu. Iya, mereka mendeskripsikan hukuman itu sebagai tragedi dan bukan sebagai suatu kewajaran.
Kebanyakan masyarakat agak tak sepakat bila hanya gegara berdemonstrasi menyuarakan aspirasi malah dihukum mati, agaknya itu sangat tak etis.
Kendati begitu, hampir seluruh lini masyarakat apatis dengan kenyataan itu, mereka memang prihatin, tetapi hanya sebatas itu saja, tak sampai berunjuk rasa atau berontak, toh memang kehidupan bernegara masih teratur dan stabil.
Meski kebanyakan sekte, organisasi atau pun fraksi-fraksi pemerintahan yang apatis terhadap masalah itu, namun tak dapat dipungkiri, kalau ada beberapa sekte hingga fraksi politik yang ngotot ingin menghentikan perang.
Betapa tidak, mereka punya yang namanya visi dan misi, atau katakanlah faktor ideologi yang menggerakkan mereka untuk berontak. Dalam perkara yang rumit ini sebenarnya tidak bisa didakwa mana-mana saja sekte atau organisasi aliran hitam, atau dengan kata lain, semua orang dan golongannya ingin selalu dipandang baik.
Hanya saja, perlu digaris bawahi, segala pemahaman atau ideologi yang dimiliki para pribadi itu, nyatanya saling kontradiktif yang berujung perpecahan.
Akan hal itulah, ada beberapa sekte dan organisasi yang rela mengutuk-ngutuk pemerintahan hingga berusaha menggulingkan pemerintah, beberapa sekte dan organisasi sempat dibubarkan karena memiliki paham radikalisme dan sekularisme. Meski tak semua dapat dibubarkan dikarenakan adanya faktor lain. Hari ini, atau tepatnya, zaman ini segala ideologi mulai terasa memicu perpecahan.
Mereka sebenarnya dapat saja membentuk negara baru di luar planet Peri, tapi yang namanya hasrat dan doktrin, membuat mereka tak ingin meninggalkan bumi ini.
Mungkin sebagian orang meyakini bahwasanya pemerintahan yang salah, bahkan ada saja oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab malah mengutuk-ngutuk para pejabat pemerintahan.
* * *
Kendati nyatanya, pemerintahan tidak salah. Karena bagaimana pun, mereka bekerja demi kemajuan bangsa dan dunia.
“Tak ada yang salah saat kita mengagungkan kepercayaan dan pendapat kita, segalanya menjadi masalah karena lawan bicara kita tak sepaham dengan kita, yang menjadi kontradiktif, lalu malah membiarkan ego mengambil alih untuk menetapkan permusuhan,” kata Hamenka Ketua Kehormatan yang berdiri dalam sidang Ketetapan.
Benar, di ruangan tertutup ini, di ruang yang hanya berdiri seorang Ketua Kehormatan Hamenka, pemimpin sekaligus pengajar dari akademi Kemalaikatan kota Barata, provinsi Barat, Hamenka disidang guna sekiranya beliau mau turut andil menyepakati perang dunia ke-18 ini sebagai validitas terbaik.
Hakim yang memutuskan adalah seorang ahli kitab yang tergabung sebagai penasihat kota, merekalah yang memutuskan dan mengangkat seorang untuk digelari Ketua Kehormatan di setiap akademi Kemalaikatan di kota Barata ini.
“Tapi Anda serta beberapa rekan Anda menolak kebenaran perang dunia ini dan dari berita yang didapatkan, justru kepercayaan Anda selaras dengan Iblis, dengan para Pembangkang ... yang malah menginginkan perang dunia ini berhenti ... bukankah itu pembangkangan?”
Suara lelaki dewasa tanpa entitas wujud itu bergaung di ruangan ini, vibrasi suaranya langsung meresap ke telinga Hamenka.
Hamenka terdiam, memandang dirinya sendiri yang terefleksikan pada cermin di depannya. Dinding ruangan ini memang seluruhnya cermin, baik laintai mau pun langit-langitnya, seluruhnya dilapisi cermin, ruangan sepetak yang sempit, yang hanya bisa menampung dua orang. Jadi empat orang kalau mepet.
Dirinya tahu, kalau sebentar lagi pemakzulan padanya akan terjadi oleh paksaan.
“Hamenka ... pilihanmu hanya dua ... menyetujui adanya penegakan keadilan lewat perang atau ... kamu mengambil hukuman mati ....”
Pilihan yang menyudutkan itu membuat Hamenka membisu dalam termangu.
Ini bukan karena pemerintahan yang salah, bukan karena kinerja pemerintahan yang cukup jahat. Hamenka tahu betul akan hal itu.
Ada sosok, atau mungkin kelompok rahasia yang memplopori kalau perang dunia ke-18 ini adalah demi kebenaran, bukan itu saja, dalam pencariannya dengan bertanya-tanya pada malaikat, Hamenka telah diberi tahu, kalau memang adanya dalang yang mengadu domba pemerintah dan masyarakat, yang hendak memecah belah bangsa Barat. Akan tetapi, Hamenka diperintahkan untuk tidak membeberkannya pada publik, karena dapat memicu perpecahan serta pertumpahan darah. Lebih-lebih Hamenka punya tugasnya sendiri, sehingga kewajibannya hanyalah melakukan tugas.
“Anda tak perlu menjawabnya sekarang ... nanti saat Pangeran Azer sudah naik takhta, sidang Ketetapan kedua akan diselenggarakan lagi ....”
“Kapan waktunya?” tanya Hamenka demi mempersiapkan segalanya.
“Anda tak perlu tahu waktunya, yang perlu Anda cari tahu adalah pilihan mana yang terbaik untuk Anda ....”
Itu adalah kalimat pemungkas yang terkesan represif, preventif dan terselubung, menuntut hanya agar Hamenka mau menyepakati kebenaran perang dunia ini. Namun sayang, sekali pun dirinya harus mati, Ketua Kehormatan Hamenka telah beriktikad pada pemahamannya; perang dunia ini tidak benar. Dirinya siap mati.
Setelah sidang usai, Hamenka pergi dengan pintu teleportasi yang dimanifestasikannya.
Tak hanya Hamenka yang diadili, setelah unjuk rasa kemarin, hari ini seluruh ketua kehormatan bangsa Barat yang tidak menyepakati kebenaran perang dunia ke-18 ini diadili.
Tak ada yang tahu soal itu, kecuali segelintir orang. Pengadilan tersebut adalah persidangan rahasia.
Namun masa bodoh dengan itu, kebanyakan rakyat masih setuju dengan berjalannya perang dunia, sehingga masyarakat yang tak setuju kesannya menjadi pengkhianat bangsa.
Cukup mudah hari ini atau hari yang akan datang, kalau pengkhianat bangsa dan pembangkang kebenaran adalah mereka yang tak sependapat pada kebanyakan orang.
Ketua Kehormatan Hamenka percaya, pada risalah para Raja, yang telah tertulis. Meski banyak yang meyakini kalau itu hanya dongeng, tapi tidak bagi Hamenka.
Risalah para Raja; “Pasukan sang Penyelamat itu akan tiba, di antara huru-hara yang terjadi, di antara ribuan bahkan jutaan individu yang berkumpul, sebuah kelompok sangat kecil, hingga seluruh sekte, golongan, kelompok mau pun organisasi, menertawai pasukan yang kecil itu, tapi tak ada yang sadar, kelompok itu memiliki cahaya yang paling benderang bila saja rahasia disingkap.”
Risalah para Raja; “Akan datang kelompok kecil demi mendirikan lagi zaman kejayaan ras Peri, hanya dengan satu kalimat kemanunggalan kelompok kecil itu menaklukan bangsa-bangsa, hanya dengan satu kalimat kemanunggalan, para penjahat tunduk dan para pahlawan sejati akan memimpin bangsa.”
Dia —Hamenka— bahkan ingat seluruh kalimat-kalimat yang termaktub itu, menjadikan dirinya optimis untuk tetap mempersembahkan segala yang terbaik demi ibu pertiwi.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)