
Tiga bulan telah habis demi agenda rutin sang Ratu Arenda, formalitas bersua dengan rakyat telah tuntas, dirinya sampai-sampai tak dapat pulang ke istana Awan, namun hari ini dan sepekan ke depan menjadi waktu senggangnya, lebih-lebih dia akan kembali bersua bersama sahabatnya.
Apan kabarnya hendak memperkenalkan istrinya pada Arenda. Saat pernikahan antara Apan dengan sang istri, Arenda tak sempat hadir dalam pesta pernikahan tersebut, dikarenakan memang tak ada undangan atau pemberitahuan sebelumnya dari Apan. Dia menikah berbarengan dengan hari pernikahan Arenda dan saat itu mereka memang masih terpisah.
Hanya saja permintaan Arenda yang ingin bertemu dengan pendamping hidup Apan, acap kali ditolak olehnya. Bermacam alasan dicetuskan hanya demi menghindari pertemuannya dengan sang istri.
Namun tepat hari ini, Ratu Arenda pada akhirnya segera bertemu dengan sang pendamping hidup sahabatnya.
Mereka berteleportasi pada sebuah tempat. Cukup asing bagi Arenda. Mereka tiba di sebuah rawa dengan pepohonan berdaun nuansa putih nan besar, di salah satu pohon yang memiliki cabang kuat. Di sanalah sebuah rumah nuansa ungu kebiruan dari bebatuan permata tersemat pada pohon tersebut.
Rumah yang tak begitu luas dan besar, tetapi cukup layak dilabeli sebagai rumah minimalis.
Ratu Arenda serta Apan langsung masuk ke dalam ruangan pertama. Di ruangan nan kosong itu Apan mulai membawa istrinya untuk diperkenalkan pada Ratu Arenda.
Kali ini Ratu Arenda melepas topeng serta membuka tudung jubah kepalanya, membiarkan parasnya dikenali dan supaya lebih sopan. Toh, istri Apan telah diberi tahu agar identitas Arenda selalu dirahasiakan.
Suasana tenang di sini agak menjadi kecanggungan saat muncul yang diduga istri Apan di hadapan sang ratu. Canggung baginya, tapi terkejut bagi Ratu Arenda.
Telah berdiri di samping kiri Apan sesosok wanita, setengah manusia setengah buaya; kulit tangannya bersisik seperti buaya serta memiliki ekor selayaknya buaya. Mengenakan pakaian serba putih. Dengan kata lain, Apan menikahi seekor siluman buaya.
Agak terbelalak mata Ratu Arenda melihatnya.
“Sa-salam Ratu Arenda, sa-saya Hiri istri ... A-Apan ...,” ujar wanita berambut hitam panjang dengan bernamaskara tertunduk penuh hormat dan tergagap-gagap agak takut pada sang ratu. Alias Hiri.
Tetapi wajah Ratu Arenda mendadak berpaling, dirinya bahkan berani nyeletuk, “Apan ... apakah kau sudah siap mati?”
Sontak Apan tertunduk dalam renungan terdalam, dirinya telah mengekspektasikan ketidaksukaan Ratu Arenda. Sedangkan Hiri malah tumungkul karena takut dan cemas.
Hiri nampak seperti seorang wanita yang pemalu dan kikuk, dia bahkan agak menyorong pada suaminya, seakan bersembunyi di balik bahu Apan, menghindari adanya perseteruan, atau kalau bisa menghindari penolakan.
Tatapan iris biru laut nan sayu Arenda kini tajam pada paras sahabatnya, sebuah tatapan tak menyangka dan kecewa. Pasalnya, hukuman mati bisa jatuh pada sahabatnya serta istrinya ini.
“Apa tak ada wanita lain selain seekor siluman? Atau jangan-jangan kalian sudah siap menerima hukuman?” tanya Ratu Arenda dengan tegas, tajam dan tanpa kompromi.
Hingga bersama kesenyapan dan kecanggungan yang merebak, sekonyong-konyongnya Hiri duduk dengan melipat ke dua kaki di lantai, duduk tumungkul penuh harap. “To-tolong Ratu Arenda ... ja-jangan laporka-kan ka-kami ... sa-saya tak ta-tak mau berpisah de-dengan A-Apan ....”
Walau begitu berharap dan nampak sungguh-sungguh, tetapi, Ratu Arenda yang telah dididik oleh hukum, sukar menerimanya, dirinya tahu, kalau ini adalah sesuatu yang durjana.
“Berdirilah! Jangan sebatas cinta maka segalanya dipandang baik, kenyataan tidak seindah itu, nona,” singgung Ratu Arenda dengan tajam bahkan kalau perlu memang menusuk di hati Hiri.
Apan sang suami yang merasa tak tega, dirinya bergegas mengangkat istrinya agar tak seperti itu. Meski agak sulit untuk membuat istrinya tak memelas, syukurnya Hiri mau kembali berdiri walah mesti tertunduk malu dan kikuk. Bahkan ke dua tangannya memegang erat pergelangan tangan kiri Apan.
Netra cokelat Apan kini tajam pada paras manis Ratu Arenda, wajah serta segala gestur tubuhnya menampilkan kesan serius. Hingga dirinya —tenggilingnya— berucap, “Arenda ... aku minta maaf karena selalu menutupi ini darimu ... aku hanya enggan kau terlibat dalam masalah ini, aku tahu konsekuensinya dan ... aku sudah siap menanggungnya.”
”Bodoh! Sangat bodoh ... bahkan terlalu dungu kau bicara ... kau siap mati demi seekor siluman hina? Rela mati demi makhluk kotor sepertinya ... kau tak ubahnya sama saja dengannya,“ insinuasi Ratu Arenda tanpa konsesi.
”Apakah persahabatan kita berhenti hanya karena aku menikahi siluman? Dan tolong jangan sebut istriku siluman hina,“ tutur —tenggiling— Apan dengan serius.
'Plak' Ratu Arenda sempat menepuk jidatnya kala kalimat itu telah meresap mutlak dalam sukmanya. Merasa ujaran itu menandaskan kalau Apan terjerat cinta buta dan mungkin malah memilih siluman hina ketimbang persahabatannya sesama ras Peri.
”Apan ... aku tahu kau pria baik ... kau laki-laki yang bermoral, persahabatan tidak akan hilang hanya karena ini ...,“ beber Ratu Arenda dengan tegas nan lugas.
”Apan ... aku memiliki pelayan-pelayan lebih cantik dan bermoral bahkan satu ras dengan kita, ketimbang dia ... aku bisa memilihkan wanita yang cocok bila kamu mau ...,“ imbuhnya menyarankan dan kembali menyiratkan tak suka bahkan jijik pada siluman buaya tersebut.
Apan menggeleng menolak dan sang tenggiling yang bertengger mantap di bahu kanan Apan bicara, ”Tidak ... aku sudah memilih ... dan wanita ini tepat bagiku ....“
Ratu Arenda masih kurang sepakat dan malah semakin jijik. Sehingga sebuah kalimat tajam kembali tercetus. ”Maaf sahabatku ... aku bicara tentang hukum dan konvensi dari Malaikat pun demikian ... jadi ....“
“... apakah kamu yakin, Hiri tidak menyihirmu?” lanjut Ratu Arenda dengan begitu serius dan cukup menyayat hati. Karena memang tak terima bila sahabatnya menikahi seekor siluman.
Jelas Hiri merasa didakwa, seolah dirinya menyihir suaminya sendiri, padahal tidak!
Lebih-lebih Hiri hingga menghadapkan tubuhnya pada Ratu Arenda dan dengan keadaan tertunduk malu nan kikuk, dia bicara keras-keras. “SAYA TIDAK MENYIHIR APAN! Sa-saya tidak menyihirnya! Saya benar-benar tidak pernah menyihirnya!”
Apan seketika merangkul istrinya. Menenangkannya kalau semua akan baik-baik saja jadi tak perlu dihiraukan.
“Tentu saja saya tidak terima! Sahabat kecil saya malah menikahi seekor siluman yang hina! Seolah-olah dunia ini sempit! Dan semestinya kau sadar ... di sini kau melakukan tindakan kriminal!” tandas Ratu Arenda dengan pandangan gusar pada Hiri dan berharap Hiri sadar statusnya sebagai siluman hina.
Apan sebagai suaminya dengan tak menghiraukan peringatan Ratu Arenda, begitu percaya diri melahirkan sebuah kalimat pengukuhan. “Arenda ... ini keputusanku dan tak akan aku hancurkan begitu saja. Sekali lagi aku sudah memilih Hiri dengan sungguh-sungguh.”
”Sebodoh itukah? Kau adalah anggota militer ... dan selayaknya, paham tentang hukum!“ pungkas Ratu Arenda dengan kembali memasang topengnya sekaligus menudungi lagi kepalanya.
Tanpa basa-basi dan memang jijik, Ratu Arenda pun memanifestasikan pintu teleportasi, dia hendak pergi. Toh setidaknya dirinya telah mengingatkan Apan serta istrinya.
Sebelum pergi, Arenda mengajak Apan untuk berunding. Lantas Arenda pun pergi dari sana dan menanti di sebuah tempat.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)