
Sepi melanda suasana di depan rumah Ketua Hamenka, bersama waktu yang bekerja, Ketua Hamenka tetap mematung dalam sengapnya.
Satu detik lalu tiga detik dilalui dan berakhir pada tujuh detik. Maka Ketua Hamenka mulai kembali tersadar dengan sikap biasanya.
Namun agak konyol saat disadari kalau dalam momentum penting ini Nurvati malah sempat-sempatnya tertunduk, tidur berdiri.
“Nurvati heh ...!” seru Ketua Hamenka.
Terhenyaklah Nurvati mendengar suara lantang Ketua Hamenka. Hingga Nurvati yang kembali terjaga menjawab, “Iya siap! Saya di sini ...!”
“Haah ... sepertinya kamu memang perlu mencari tahu identitasmu ...,” seloroh Ketua Hamenka.
“Hehehehe ... maklum, akhir-akhir ini saya orangnya gampang kantuk ...,” balas Nurvati dengan menggaruk bahu kanannya merasa malu.
Sesaat Ketua Hamenka mengembus napas pasrah, dirinya mulai berusaha membawa suasana menjadi serius, sehingga berujar, “Dengar ini, Nurvati ....”
“... bapak melihat, kamu sudah tidur seribu tahun lebih ...,” bebernya.
“APA ...?!” jelas Nurvati kaget bukan main, dirinya baru tersadar kalau tidurnya bisa selama itu.
“Ngok ngok ....”
“Nah ... lalu ....” Ucapan Ketua Hamenka terpotong.
”Tunggu sebentar ketua! Aku harus banyak merenungi seribu tahun itu ...,“ sela Nurvati dengan tertunduk berkacak pinggang sembari mengingat-ingat segala masa silamnya.
”Tidak perlu, tidak perlu ... semuanya sudah berlalu,“ sahut Ketua Hamenka.
Akan tetapi Nurvati malah menjadi panik, dirinya malah meminta Ketua Hamenka menceritakan kejadian-kejadian penting selama seribu tahun ke belakang. “Ketua! Tolong ceritakan apa saja yang sudah terjadi pada dunia ini! Aku harus tahu!”
“Ngok ....”
Karena merasa tak keberatan, Ketua Hamenka dengan santainya pun menceritakan beberapa peristiwa penting, mulai dari adanya penyerangan ras Barqo pada alam ras Peri, geriliya dengan ras Siluman, lantas sejarah baru terbentuk yaitu Pangeran Azer naik takhta menjadi raja bangsa Barat yang ke-31, hanya saja cukup memilukan ketika ke dua orang tua Raja Azer meninggal dunia, tak lupa juga undang-undang kematian bagi pefitnah yang resmi dijalani sehingga tak boleh sembarangan bicara dan cerita sejarah-sejarah itu ditutup oleh hukum baru yang hendak direalisasikan, yaitu hukum siksa bagi yang menolak kebenaran perang dunia ini.
Mendengar cerita yang cukup panjang dan memakan banyak waktu itu, hampir membuat Nurvati tertidur, namun berkat angsa yang mencatuk kaki kanannya dirinya seketika tergugah untuk meluapkan rasa senang dan sedihnya.
”Yoosh ...! Aku tak menyangka sudah tertidur begitu nyenyak ... dan sekarang ...,“ tutur Nurvati dalam determinasi yang segar.
”... aku harus semangat seperti dia ...,“ lanjut Nurvati dengan tertunduk dalam alam kenangan yang beralih pada sosok dia —Falas— yang telah menyirami Nurvati dengan kehidupannya.
Sedangkan Ketua Hamenka hanya membisu memandang Nurvati dengan santai.
“Guru! Eh, maksudku ketua! Apakah aku sekarang sudah berbeda?” tanya Nurvati memastikan dan berharap Ketua Hamenka melihat Nurvati sebagai sosok wanita yang berbeda; jadi lebih dewasa.
Karena bagaimana pun, seluruh realitas yang telah dilaluinya telah membentuk Nurvati yang sekarang, pengalaman-pengalamannya membuatnya untuk jadi lebih dewasa.
“... tapi bapak rasa, kamu tetap saja terlihat labil ...,” imbuhnya dengan santai.
”Apa?! Tidak tidak ... sekarang aku tidak akan labil lagi ...,“ sanggah Nurvati.
”... aku adalah Nurvati yang berbeda dari sebelumnya! Iya ... dengan kenangan yang sudah aku jadikan kekuatan dan realitas yang memacuku untuk tetap hidup! Aku usahakan menjadi wanita yang berpendirian kuat!“ lanjut Nurvati dengan begitu antusias sampai-sampai ke dua tangannya mengepal dalam gairah hidup, menyiratkan kalau memang dirinya telah berubah.
Di sana, Ketua Hamenka dengan santai hanya menyahut, ”Hem ... lakukan saja, tak perlu banyak bicara ... karena ada hal yang penting lagi mesti kita bicarakan ....“
Nurvati menggangguk tanda sepakat.
Sehingga suasana serius kembali lagi melingkupi mereka.
”Nurvati ... biasanya hanya para Ketua Kehormatan yang sanggup bertemu dengan penghulu ras Malaikat, dan pertanyaannya harusnya bukan apakah itu malaikat atau bukan ... harusnya, pertanyaannya adalah siapakah kamu yang berhak bersua dengan penghulu malaikat ...,“ tutur Ketua Kehormatan masih agak rancu.
Sehingga Nurvati bertanya, ”Jadi, apa itu benar dia?“
Ketua Hamenka tidak menjawab, membiarkan pertanyaan Nurvati menggantung dalam realitas. Justru dirinya malah membuat pintu teleporatasi menuju sebuah tempat.
Ketua Hamenka malah mengajak Nurvati ke suatu tempat asing. Alasannya disebabkan perkara ini adalah kasus yang cukup berat, yang harus dibicarakan secara sembunyi-sembunyi, tujuannya agar tidak ada yang menguping dan malah jadi salah paham.
Dan di sinilah tempat berbeda itu, hanya sebuah samudra lautan nan luas dengan langit biru yang membentang dihiasi awan-awan putih layaknya kapas. Air lautnya agak kebiruan karena refleksi dari langit. Udara agak hangat dan lembut menerpa tubuh.
Dalam jarak 5 meteran itu, Nurvati serta Ketua Hamenka berdiri berhadapan. Sedangkan sang angsa putih terlihat berenang-renang mengelilingi Nurvati.
Di atas air itu percakapan rahasia terjadi.
Nurvati pun menceritakan semua yang dialaminya selama Malaikat Abriel betandang, dari Nurvati yang berkeluh kesah, dan ditampakannya masa depan hingga ditunjukan menemui Ketua Hamenka. Selama cerita berlangsung Ketua Hamenka tak berkomentar, hanya sengap dengan mengangguk-angguk mencerna baik-baik pemaparan penting dari Nurvati, bak menjadi pendengar yang baik.
”Nurvati, itu memang dia ... dan sebaiknya kamu rahasiakan pada publik, supaya tidak ada kecemburuan sosial,“ pesan Ketua Kehormatan dengan sungguh-sungguh.
Nurvati mengangguk-angguk sambil merenungi gerangan apa yang sebenarnya menimpa hidupnya kini. Oleh kebingungan itulah, Nurvati kembali menggali keterangan lebih lanjut. ”Kenapa tidak ketua atau orang-orang yang lebih layak daripada aku? Apa yang diharapkan Malaikat Abriel dengan menunjukkan itu padaku? Dan ... apakah ketua pernah berjumpa dengannya?“
Pertama-tama Ketua Hamenka mengangguk, memahami maksud ucapan Nurvati, lantas menjawab, ”Seperti yang sudah dikatakan ... siapakah kamu, mengapa ras Malaikat mesti menemuimu ... nah, itu sebabnya dia memintamu untuk menyadari identitas aslimu ....“
“... dan harus kamu tahu, belum pernah ada seseorang dari ras Peri satu pun yang didatangi oleh Malaikat Abriel ... bahkan saya atau ketua kehormatan di seluruh bangsa ras Peri, belum pernah didatangi ... kecuali kami yang harus mendatanginya, bahkan itu pun dengan ujian dan tahap demi tahap yang berat ... sehingga bagi yang tidak kuat, bisa menjadi gila atau bahkan menjadi iblis, dari situlah, kami baru layak untuk dikunjungi oleh ketua ras Malaikat ... nah ... kamu bisa menilainya sendiri ...,” imbuh Ketua Hamenka dengan serius.
”WAAAAH ... itu artinya aku beruntung ... hihihihi ...,“ sahut Nurvati dengan semringah penuh syukur dan bangga.
“... lalu kenapa tidak ras Malaikat saja yang turun dan mengelola alam ini?” herannya.
“Inilah akhirnya ... jawaban yang dicari-cari sejak berbiliun tahun silam, baik dari awal penciptaan hingga detik ini ... pada akhirnya akan terjawab ... jadi ... ras Malaikat akan turun untuk membimbing kita dan membawa kita pada era kejayaan ... tetapi ... tentu dibalik kesenangan itu pasti ada perjuangan dan dibalik perjuangan pasti ada pengorbanan ...,” balas Ketua Hamenka dengan lugas nan tegas.
“... nah Nurvati ... semua jawaban yang kamu cari ada di dalam identitas aslimu ...,” tandasnya.