
Berada jauh dari tempat Falas berada, siluman macan tengah melayang di atas Nurvati setinggi 12 meteran, mata gelapnya tak lekang menatap Nurvati lekat-lekat.
Siluman tahu, tak mungkin baginya untuk menangkap Nurvati dengan tangan kosong di hutan bambu ungu itu, terlebih lagi beberapa patahan bambu menimpa anggota tubuh Nurvati, menjadikan siluman macan pasti akan terluka bila menyentuh bambu-bambu itu.
Hanya saja, sang siluman tak kehabisan ide, dia kembali menggunakan kemampuan spesialnya; bola cahaya hijau yang kini ia bentuk tidak hanya dari ke empat tangannya saja, melainkan dari mulutnya pun ia bentuk.
Pertama-tama, ke lima bola cahaya hijau itu terbentuk, lalu perlahan-lahan ke lima bola cahaya tersebut disatukan menjadi satu bola cahaya yang kuat nan paripurna, hijau pekat dan terang benderang.
Nurvati yang tak menyadari kelemahan siluman macan hanya mampu terdiam pasrah, usahanya melarikan diri rupanya tak membuahkan hasil baik. Toh, Nurvati memang sudah menyerah dan membuat janji kalau akan bunuh diri, sehingga baginya hal ini tak perlu diambil pusing. Malahan kelopak netranya mulai terpejam, tubuh lemahnya bergeming, napasnya naik turun dengan cepat, pikirannya terpusat pada mendiang kedua orang tuanya. Iya, batin Nurvati sudah merasakan kedekatan pada ajalnya yang segera menemui orang tuanya.
Sang ibu yang tegas dan tak pernah bosan menemani Nurvati, atau sang ayah yang selalu siap memenuhi segala permintaan Nurvati, itu semua menjadi angan-angan dalam alam pikirnya.
Pelukan ibunya yang memang dulu tak diindahkan Nurvati, kini itu terasa dirindukan, seluruh dukungan ibunya yang dulu Nurvati anggap omong kosong, kini mulai terkesan begitu berarti.
Atau sang ayah, yang sebisanya berusaha mengajak Nurvati bepergian untuk berpetualang, yang dulu selalu Nurvati tolak bahkan Nurvati sering menjelekkan ayahnya, kini ajakan itu menjadi sangat-sangat berharga. Nurvati merindukan orang tuanya, hanya mereka yang memahami dirinya.
Dan betapa bodohnya kini, saat kematian telah merampas orang terdekat, atau kematian memperlihatkan 'keanggunannya', barulah Nurvati menyesali keegoisannya. Ia menyesal selalu memandang rendah orang tuanya, yang mana, Nurvati selalu menganggap orang tuanya adalah bukan orang tua kandungnya.
Lebih dari itu, penyesalan yang paling tedas adalah ketika Nurvati melampiaskan seluruh kekesalannya pada kedua orang tuanya, menjadikan ayah ibunya bagaikan tempat untuk membentak, bahkan menghina mereka, namun hebatnya, tak sekali pun orang tuanya memarahi dirinya, tak sekali pun orang tuanya membentak Nurvati.
Kini, entah bagaimana perasaan menyesal paling dalam, muncul disaat-saat seperti ini, seolah detik ini adalah waktu yang tepat untuk merenungi hidup dalam penyesalan.
Hingga saat kepasrahan menjadi pilihannya, ketika seluruh hasrat untuk hidup perlahan memudar, saat ajal terlihat bagaikan kemuliaan, secara ajaib, tanpa diterka oleh batin, suara seorang anak laki-laki membuyarkan pikiran bodoh Nurvati. Membuka kelopak netranya, berharap melihatnya.
“NUUURVAATIIIIIIIIIII ...!” teriak anak lelaki yang bukan lain adalah Falas.
Falas melesat di udara begitu cepat, hingga sekedipan mata, sang siluman seketika ditendang dan terpental sejauh 20 meter, bukan itu saja, bola cahaya ledakannya, meledak begitu dahsyat di Utara, memicu suara 'duar' yang memecah kesepian hutan, meledak tepat di posisi jatuhnya sang siluman, menciptakan guncangan di tanah, membentuk sinar ledakan bak mangkuk yang terbalik, membuat bambu-bambu lepas dari tanah penghidupannya, membentuk suhu panas, memadamkan gelap bayang-bayang hutan.
Falas yang kembali kuat, melindungi Nurvati dengan perisai berbentuk telur yang meliputi mereka, melindungi diri dari radiasi ledakan, guncangan masih hebat terasa, bambu-bambu nampak bergerak liar laksana ditampar ke kanan ke kiri.
Nurvati yang sadar telah diselamatkan menaruh rasa kecewa dalam jiwanya. Dua kali sudah dirinya diselamatkan Falas dari kehadiran maut. Gagal mendapatkan kematian dan melanjutkan hidup penuh penderitaan.
Beberapa detik berlalu, dan radiasi ledakan telah usai, pun cahaya ledakan sudah sirna, situasi mulai kondusif, tetapi belum dipastikan aman. Kala perisai pelindung telah lenyap. Falas menyingkirkan bambu-bambu yang menimpa Nurvati, sebisa mungkin membantu Nurvati.
“Uhuk-uhuk.”
Menyadarinya Falas memegang pundak kiri Nurvati, menyalurkan energinya pada Nurvati, membuat Nurvati untuk kembali kuat, Nurvati yang diam saja dalam posisi mendeprok mulai kuat untuk bangkit berdiri, akan tetapi, tangan kirinya menepis tangan Falas yang hendak membantu.
“Aku bisa berdiri sendiri,” ketus Nurvati tanpa rasa terima kasih.
Omongan itu ditanggapi Falas dengan santai tanpa keluhan. Dan kala mereka telah bangkit berdiri bersama, Falas bicara, “Siluman itu memiliki kelemahan, bambu di tempat inilah kelemahannya.”
Sekonyong-konyongnya Nurvati malah memutar badan ke belakang, dia melangkah bersama sikap masa bodohnya, baginya, ucapan Falas tak begitu penting. Nurvati putus asa, dan hanya itu yang dirasakannya. Akan hal itu membuat Falas ikut memutar tubuhnya seirama bersama kepergian Nurvati.
“Nurvati, kau mau ke mana?” tanya Falas dengan khawatir dan mengernyit memandang Nurvati.
Nurvati yang melangkah memunggungi Falas, menjawab, “Mau menyelamatkan diri dari kegilaan ini.”
Falas yang tak suka mendengar jawaban Nurvati, buru-buru berlari menghampirinya, bahkan langsung membopong Nurvati, bersama keterkejutan Nurvati, Nurvati yang pasrah, dibawa terbang kembali oleh Falas.
Falas tak mungkin membiarkan Nurvati pulang sendiri, tak mungkin juga membiarkan Nurvati menanggung beban bahaya sendirian. Tetapi bodohnya, Nurvati sama sekali tetap tak peduli, ia kecewa dengan Falas, dan hanya rasa putus asa yang masih dinikmati Nurvati.
“Seharusnya kau membiarkan aku mati,” keluh Nurvati dengan raut datar dan benaknya terkendali oleh keputusasaannya.
“Aku tak sudi nyawamu direnggut oleh makhluk najis seperti siluman ...,” balas Falas bersungguh-sungguh dengan menggantung kalimatnya.
Nurvati membisu, prasangkanya masih menghalangi hatinya malahan alam pikirannya buntu, karena di ujung pikirannya, hanya bayang kematian yang nampak menggiurkan.
“... dan tolong untuk percaya padaku,” imbuh Falas penuh harap. Falas juga tak mau kalau nyatanya Nurvati malah terlarut dalam prasangka, menyalahkan sesuatu yang sama sekali tak salah, karena itu buruk.
Tak ada tanggapan berarti dari Nurvati, hanya sengap yang ia lakukan. Karena bagaiamana bisa dia memercayai pendusta seperti Falas, berbohong demi membuat Nurvati tunduk padanya, sungguh tak akan rela Nurvati melakukannya.
Dalam langit yang jingga, gemintang yang berkelip, dan angin yang berembus kencang, Falas membawa Nurvati untuk keluar dari hutan. Tetapi, itu adalah ide buruk, siluman mengincar Nurvati, entah alasannya apa, yang jelas, Nurvati lebih bagus tetap di hutan bambu, karena keselamatan di dalamnya lebih terjamin.
Anggota militer sebenarnya jarang berpatroli di hutan ini, ditambah jarak yang jauh antara hutan dan kota, membuat Falas sebenarnya berencana untuk bersembunyi di dalam hutan, namun apalah daya, Nurvati menginginkan kabur, akibatnya Falas tak mau menanggung risiko kesembronoan Nurvati. Dengan harapan keselamatan atau keberhasilan kabur dari sang siluman, Falas terbang membawa Nurvati dalam kecemasan.