Nurvati

Nurvati
Episode 101: Kemenangan Yang Menanggung Rencana.



Sorot sinar baskara menembus lubang-lubang dari rimbunnya dedaunan pohon bekas ke lima anak. Kegelapan agak memudar berkat itu.


Suasana tegang masih membentang melingkupi setiap jiwa individu, aura, aroma pering serta kesiur angin masih terekspos eksistensinya. Tidak damai, tidak juga aman karena erangan kesakitan siluman tenggiling masih mengisi keadaan hutan.


Di waktu yang sama, Zui melesat menuju siluman tenggeling dengan dua bilah pisau yang siap merobek jaring laba-laba pengikat anak-anak.


Siluman tenggeling mulai berlutut menahan sakit, bersamaan dengan tangannya yang berusaha mencabut trisula emas dari matanya, Zui telah terbang di depan anak-anak yang terperangkap itu.


Secepat mungkin dia melepaskan mereka, 'Tsrat' 'Tsrat' jaring laba-laba disayat dan dipotong.


“GHHHHWWWWAAAAAAAH ...!”


Siluman tenggeling telah mencabut satu trisula, dengan darah ungu kehitaman yang melimbur wajahnya.


Satu anak pun telah berhasil diselamatkan yang lantas dibawa ke suatu tempat oleh Zui dengan menggunakan pintu teleportasi dan kembali menyelamatkan sisa anak lainnya.


Tak disangka Quin telah datang dan membantu melepaskan anak-anak lainnya, dia pun memotong buru-buru jaring yang menjerat mereka.


Satu anak lagi berhasil Zui selamatkan dan langsung dibawa pada tempat lain dengan pintu teleportasi.


“GHWWWAAAAAAAAAAAH ...!”


Tapi lagi-lagi siluman tenggeling ini berhasil mencabut satu lagi trisula yang sempat menancap pada mata kanannya, membuat darah ungu kehitaman semakin deras melimbur wajah buruk rupanya.


Satu anak berhasil Quin selamatkan yang lantas diserahkan pada Zui.


“Cepat menyingkir dari sini! Aku akan menggunakan ilmuku!” titah Zui dengan sungguh-sungguh dan mendesak.


Sempat mengernyit kening kebingungan Quin di sana, akan tetapi, dia buru-buru mengikuti perintah Zui, dirinya terbang menjauh dari area jangkauan siluman Tenggiling.


Secara tak terduga, siluman tenggeling ini berdiri kembali dan dalam keadaan buta, dia berusaha meraba-raba ke sekitar; dia hendak kabur.


Arista, Quin serta Darko telah terbang di atas ketinggian 100 meteran, mereka memandang kejadian apa lagi yang akan terjadi.


Tiba-tiba saja tenggiling itu menggulungkan badannya dan langsung berputar menuju arah Utara; dirinya kabur.


Tanah bergetar yang disertai berdebam, siluman itu kabur dalam keadaan buta yang hebatnya dia bisa pergi tanpa menabrak pepohonan yang ada.


“Siluman itu kabur!” kata Darko yang panik karena masih ada anak-anak yang terjebak di sana.


“Ih ... gimana atuh ...,” sambung Arista dengan khawatir.


“Ayo kita kejar!” ajak Quin yang hendak meluncur mengejar siluman tenggiling raksasa.


Tapi semua niat itu sirna seketika, ketiga anak itu berhenti gegara perintah suara dari seorang wanita; Zui.


“Tidak perlu anak-anak!”


Zui telah terbang bersama Nerta serta Gorah, mereka menghampiri tiga anak lainnya.


“Eh? Anak-anak itu masih di sana, kita harus cepat-cepat!” resah Arista.


Dengan raut muka santai dan pandangan tajam pada Arista, Zui berkata, “Semua anak sudah diselamatkan.”


“Hah?” serentak Arista, Quin serta Darko terperangah kaget.


“Ih ... kok bisa sih?” heran Arista.


Ketika mereka telah terbang saling berhadapan, Zui malah tersenyum tenang dengan bersedekap menyilang tangan, tanpa menjawab keheranan Arista yang pastinya akan segera tahu. Dan otomatis suasana tegang telah beralih pada kesenyapan hutan, hening, tanpa adanya suara-suara aneh, kecuali aroma pering yang tak mungkin hilang. Semua nampak kembali normal.


“Ooooooh iya! Ilmu kakak berhasil bekerja dengan baik!” ungkap Arista dengan raut muka ceria, mengetahui alasannya.


Sedangkan Darko hanya menganggukkan kepala memahaminya dan Quin pun mengerti dengan terdiam.


Kecuali Arista yang malah melesat maju menghampiri Zui dengan muka menginding.


“Kakak bagaimana caranya menggunakan ilmu itu? Ajarilah aku ya ... tolong ajari aku!” pinta Arista memohon bahkan sampai memegang siku tangan kanan Zui dengan sedikit didorong-dorong.


“Tidak tidak ...,” balas Zui tetap menolak dengan memalingkan wajah.


”Masalahnya ... kenapa kakak tidak sekalian membunuh siluman tadi? 'Kan lumayan kalau dibawa ke kota akan mengejutkan para warga ... dan lagi memang butuh bukti?“ usut Quin.


”Kakak ajari aku ...,“ pinta Arista memelas dengan mendorong-dorong lembut tangan Zui.


Pernyataan yang terdengar apik bagi semua anak, membuat mereka mengangguk-angguk sepaham.


”Wah, tidak sia-sia aku memanfaatkan kakak,“ kata Darko dengan santai.


”Hah?“ heran Zui dengan memandang Darko.


Sedangkan Gorah serta Nerta hanya diam menjadi pendengar yang baik.


”Kalau kakak bisa melihat masa depan atau masa lalu ... mengapa tidak dari awal saja kakak melihat seluruh waktu siluman yang pernah kita temui, atau melihat masa lalu hutan ini?“ tanya Quin penasaran.


”Tidak bisa begitu ... hutan Kematian ini 'kan diselubungi aura kelam dari kutukan Dewa Maut ... sehingga hanya kegelapan yang terlihat ... dan lagi, dari banyaknya siluman yang mampu menutup diri dengan aura kelam di sini, hanya siluman tenggiling tadi yang tak mampu menutup dirinya dengan aura kelam ... penyebabnya karena siluman laba-laba tadi sudah tewas, simbiosisnya telah terputus ... dan itulah mengapa kakak membiarkan siluman tenggiling dibiarkan kabur, supaya dia bisa menuntun kita,“ papar Zui.


”Tapi 'kan ... aura kelam hutan ini bisa menutupnya?“ timpal Gorah.


”Iya ... makanya kita tak boleh berlama-lama di sini,“ ungkap Zui.


”Lalu ... kakak bawa ke mana anak-anak yang tadi diculik?“ selidik Quin.


”Oh ... mereka sudah pada tabib kenalanku ... beliau tinggal di dekat hutan Kematian,“ papar Zui dengan berusaha melepaskan tangan Arista dari tangannya, namun Arista kembali memegang siku tangan Zui, dilepaskan tapi kembali dipegang, dilepas lalu kembali dipegang. Terus begitu karena Arista mengotot ingin menjadi murid Zui.


Hanya satu kata 'hem' yang terucap dari mulut Quin disertai anggukan paham darinya.


”Kakak ... tolong ajari aku ... aku ingin seperti kakak ... nanti kalau kakak mengajariku, aku berjanji akan ... akan ... ya ... pokoknya ajari aku ... kumohon ...,“ pinta Arista bersikukuh dengan memaksa.


”'Kan aku sudah bilang ... aku tidak ingin menurunkan ilmuku pada siapa pun ... apalagi pada bocah seperti kalian,“ tegas Zui dengan memalingkan muka.


”Sok kakak mau dibayar berapa, aku akan kasih ... tapi jangan minta banyak-banyak ...,“ rayu Arista dengan memasang muka ceria.


”Tidak!“


”Tidak!“


”Tidak!“


”Tidak!“


”Dan tidak!“


Lima kali Zui menolak dengan kata 'tidak' seraya menggeleng kepala dan menjadi enam kali saat batinnya juga berkata 'tidak'. Zui masih enggan menurunkan ilmunya pada siapa pun juga.


Dan saat Zui hendak terbang pergi, dia terpaksa terhenti karena masih ada yang bicara.


“Itu artinya ... kakak bisa 'kan membeli pil Energi tanpa meminta dari kita? Sebab kakak bisa menggunakan pintu teleportasi, lalu dengan cepat langsung berada di pasar,” selidik lagi Quin dengan serius.


“Hemmm ... tidak begitu ... pintu teleportasi pun kadang tidak bekerja ... biasanya terjadi gangguan atau pun hilang sinyal atau bahkan kadang dihalangi oleh dinding gaib yang membuat jaringan terputus ... apalagi berada di hutan Kematian ini ...,” sanggah Zui dengan santai.


Bahkan pembicaraan itu pun diselingi oleh rengekan dari Arista yang terus ngotot ingin menjadi muridnya. “Kakak yang cantik ... yang baik dan pemurah ... tolong ajari aku ... kakak 'kan baik ....”


“Jadi ... ya ... aku bisa saja membeli pil Energi pada kenalanku si tabib itu ...,” lanjut Zui.


“Ayo ... kita lanjutkan perjalanan ... kita ikuti siluman tenggiling itu ...,” ajak Zui dengan terbang mengikuti jejak siluman tenggiling. Dan dirinya terus ditempeli Arista yang ngotot ingin menjadi murid Zui.


Lalu seluruh anak mulai mengikuti Zui.


“Eh ... kita sudah kehabisan pil ... bagaimana ini?” resah Darko.


“Kita pikirkan diperjalanan ...,” balas Zui.


Maka tanpa banyak berlama lagi mereka pun terbang, menelusuri jejak siluman tenggiling sebelum hilang.


Lebih-lebih Arista terus saja memohon seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan.


”Kakak ... ajari aku ....“


”Ya ... nanti saja kalau kau sudah tak berumur lagi.“


”Eh? Mati dong ....“


”... ayolah kakak ... ajari aku.“


”Tidak, tidak dan ... pastinya tidak.“