Nurvati

Nurvati
Episode 142: Merdunya Irama Murka Kematian.



Semua telah siap menyerang dan sudah seharusnya menyerang. Pertanyaan yang diajukan Putri Kerisia tetap tak diketahui apa berazamnya.


Hingga kenyataan harus kembali menyuguhkan kejadian yang mengejutkan. 'Woush' Putri Kerisia maju dan 'Shleb' sebilah pedang yang dimanifestasikan dari energi merah Putri Kerisia telah ditancapkan pada punggung Haro yang tembus sampai ke perutnya.


Benar, Putri Kerisia menusuk Haro dari belakang.


Maka berbuntanglah seluruh netra rekan-rekannya, terperangah kagetlah mereka di sana, bahkan Haro yang notabene memiliki rencananya sendiri dikejutkan oleh serangan mendadak dari Putri Kerisia.


“Ahk ... khk ... me-mengapa?” tanya Haro, bersama energi hijaunya yang hilang, tak menduga serangan ini.


“A-apa yang ....” Bahkan Logia tak kuasa untuk melayangkan kalimat tanya.


Arkta pun terpaku tak menyangka atas apa yang kini dilakukan Putri Kerisia.


“Haro ... secara substansi ... pengorbanan pada orang yang apatis padamu ... adalah pengorbanan sia-sia ...,” tutur Putri Kerisia tetap dalam raut muka datar.


“... kau tetap hidup, mereka tetap masa bodoh ... atau kau mati ... justru mereka menganggapmu sangat dungu ...,” pungkas Putri Kerisia.


Cukup berkesan apa yang telah dikatakan Putri Kerisia pada Haro, yang melaburkan rasa keputusasaan pada benaknya, seakan kalimat dari Putri Kerisia telah mencerahkan pikirannya, sampai-sampai bibir tipisnya tertarik mengembangkan sebuah senyuman simpul penuh makna, netra ungunya terfokus ke depan pada kekosongan yang merenggut setiap bentuk kenyataan; mulai merasakan sakitnya kematian.


“Haro ... maafkan aku, sepertinya ... aku akan mempersembahkan kematian pada dua orang yang kau hargai sebagai teman ...,” ungkap Putri Kerisia.


Bisa saja Haro memulihkan dirinya dengan sihir, namun sebaliknya, dia memasrahkan diri menanggung siksa kematian, toh ini sudah termasuk mencapai impiannya.


“Kalau begitu ... terima kasih, Putri Kerisia, saya bersyukur untuk ini ...,” kata Haro pasrah.


Lantas 'Bruk' terkaparlah Haro di sana bersama pedang yang masih menancap indah di perutnya dan demi mempercepat kematiannya, Putri Kerisia memanifestasikan lagi sebilah pedang dari energi merahnya. Kemudian 'Cleeb' ditancapkan pedang itu pada leher Haro hingga hampir putus kepalnya dari tubuhnya.


Darah keemasan memuncrat dari leher Haro, menggenangi pasir di bawahnya, napas mulai semakin sesak, tubuhnya nampak bergetar-getar merasakan arwahnya mulai dicabut, perlahan kematian itu mempersembahkan siksa padanya.


“Khk ... khk ... khk ....”


Dalam pandangan realitas, mungkin Haro tewas dalam hitungan detik, tetapi dalam perspektif Diri Asli sang Putri Kerisia, satu detik dalam realitas adalah seribu tahun kadar Haro mengalami siksa kematian.


Setiap momen getir yang tersuguhkan itu, setiap momentumnya tertangkap mata baik-baik yang mulai memacu darah mengalir cepat, menggerakkan jantung berirama kencang, melonjakan sebuah emosi, emosi itu menyeruak lekas menjerat sukmanya, membuat napas Logia naik turun dalam kemurkaan. Jiwa Logia tak rela menerima realita saat ini, lantaran itu berarti, impiannya mesti pupus.


“DASAR BODOOOH ... PAYAH ... APA YANG KAU LAKUKAN PUTRI DUNGU!” sentak Logia yang dikendalikan oleh emosi kemurkaannya. Netranya menyalang, giginya bergigit geram dan jemarinya mengepal kesal.


”A-apa yang Anda lakukan ... ketua?“ heran Arkta tak menyangka akan apa yang terpampang di hadapannya. Tak mengerti.


Masih memunggungi rekan-rekannya, dan Putri Kerisia berujar, ”Tidak ada gunanya kita mengejar mimpi yang tinggi ... kematianlah ujung sejarah kita ....“


”UCAPAN BODOH MACAM APA ITU!“ bentak Logia sangat-sangat murka dan tak menerimanya.


'Woush' Logia pun maju melesat dengan membentuk sebilah pedang yang langsung ditebaskan pada Putri Kerisia, namun 'Swoosh' Putri Kerisia melompat ke depan berhasil menghindari tebasan Logia.


'Drap' dan mendarat tepat di hadapan entitas Ifret sambil memutar badan menghadap rekan-rekannya sekaligus membelakangi sang entitas Ifret. Lebih-lebih dalam hal ini, gestur tubuh wanita terhormatnya tak lekang oleh kenyataan tadi.


Selepas pedangnya dibuang, Logia berlutut di dekat Haro dengan ke dua telapak tangan yang memancarkan energi ungu sihir pemulihan, dirinya berusaha memulihkan Haro.


”SADAR HARO!“


”SADAR PAYAH!“


”JANGAN MENGHANCURKAN IMPIANKU!“


Tak peduli sekali pun Haro telah sekarat.


Hardikan yang menyentak itu muncul dari mulut Logia, memenuhi suasana membuat ketegangan terasa lebih eksis di benak Arkta. Tidak termasuk pada Putri Kerisia dan sang Ifret, mereka berdua santai tak bermasalah.


Tapi sayang, sangat disayangkan, telah tak bernyawa Haro di sana, tewas terbunuh tak dapat lagi disembuhkan.


”AAAAAAAAAAARRRRRRRGGGH ...!“ teriak Logia tak menerima kenyataan pahit yang tersuguhkan untuknya.


Karena itulah, segala impian yang diawalinya telah luruh di sini, apa yang diagungkannya telah dilecehkan oleh Putri Kerisia, memudarkan harapan yang sempat melambungkan angannya pada kesuksesan dan membentuk kejiwaan yang meletup-letup ingin dilampiaskan.


Terlalu cepat baginya ini semua sirna. Semua orang memang tidak bisa memahami, mereka semua memang tak mau untuk mengerti, Logia hanya berusaha meraih impiannya, dia hanya ingin membuktikan pada keluarganya, kalau dirinya bisa meraih kesuksesan yang akan membawa harum nama keluarganya, meraih kehormatan itu dan mempersembahkan kehormatan pada keluarganya. Semestinya dirinya bisa sukses sesuai yang didambakannya.


Tapi kandas saat ini mimpinya, raib kehormatan itu, yang kini malah membuat jatuh air mata kesedihannya, jemari yang mengepal kini semakin erat tak terima, benar-benar tak ingin menerima ini.


Dia tak punya waktu, tak ada waktu untuk menunggu lagi.


”BAJINGAN! BERENGSEK! BEDEBAH KAU PUTRI KEPARAT! DASAR LACUR!“ cemooh Logia dengan tertunduk dengan menjambak rambutnya sendiri. Merasa semakin jijik pada Putri Kerisia.


Tapi disela waktu yang bekerja, sempat-sempatnya entitas Ifret itu bertanya pada Putri Kerisia. ”Apa yang kau lakukan wanita muda?“


Pertanyaan yang muncul gegara dia merasa heran dengan perbuatan bodoh ras Peri ini, sehingga layak untuk diselidiki apakah benar ras Peri di depannya terjangkit kebodohan atau hanya sekadar iseng semata.


Di sana, Putri Kerisia dalam gestur wanita terhormatnya, menjawab, ”Aku hanya ingin mempersembahkan rasa sakit padanya ... dia menangis bukan menangisi kebaikan kawannya, dia ... Logia ... menangisi keridakberdayaannya menanggung kegagalan ....“


Perkara ini telah menyiratkan kesan bahaya, itu yang dirasakan Arkta, sampai berani berujar, “Te-teman-teman ... sebaiknya kita sudahi ini ....”


Namun kalimat yang berusaha meredakan situasi untuk tetap aman, malah diekspektasikan sebagai penghalang bagi Logia.


“DIAM KAU PAYAH!” sergah Logia dalam kemurkaan dengan tertunduk demi menetapkan hatinya untuk satu tindakan; mengadili Putri Kerisia.


“Kita masih bisa ikut seribu tahun lagi ...,” balas Arkta sekali lagi berusaha meredam amukan Logia.


Tapi itu bukanlah solusi, hanya sebatas pengalihan isu, atau katakanlah, Arkta tak mau masalah ini jadi masalah lagi.


“TIDAK ADA SERIBU TAHUN LAGI! TIDAK AKAN ADA!”


“SI LACUR KERISIA SUDAH MEMUPUSKAN IMPIANKU!”


“DIA HARUS MENDAPATKAN BALASANNYA!” bentak Logia terkendalikan oleh marahnya dan kemungkinan besarnya amukan Logia tak dapat dibendung lagi.


Arkta hanya dapat membisu di sana, dirinya kebingungan. Tak mungkin dirinya menyakiti Putri Kerisia, tak mungkin, sangat-sangat tak mungkin.


Walau dalam perspektif Arkta memang ada yang salah, tetapi perasaan cinta butanya pada Putri Kerisia membuatnya bingung dan malah siap untuk mengampuni segala kesalahan sang dambaan hati.


Jelas, Logia langsung memutar badan menghadap Putri Kerisia. Netranya menyalang marah pada putri bangsa Barat itu. Memampang wajahnya yang merengut kemarahan dan air mata kesedihannya melimbur ke dua pipi mulusnya. Berdiri dengan napas naik turun kemurkaan.


“TAK AKAN AKU MAAFKAN PERBUATANMU INI!” bentak Logia seraya menunjuk Putri Kerisia demi mengukuhkan kalimatnya yang tidak main-main.


Hanya sengap, tanpa ekspresi gembira atau pun kuyu, raut muka Putri Kerisia masih seperti biasanya; datar tak berperasaan. Terlebih pandangannya sama sekali apatis pada apa yang terjadi pada Logia, tak berempati secuil pun padanya, tak juga ingin minta maaf.


Ketika dua tangan Logia diliputi energi ungu sihirnya, suasana yang tegang otomatis jauh lebih tegang. Dia akan melawan Putri Kerisia —bukan— Logia hendak membunuh Putri Kerisia. Menghukum Putri Kerisia dalam balasan demi keadilan.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)