
Beberapa detik dihabiskan demi meresapi hawa ketentraman di sini. Udaranya segar dan wanginya khas.
“Semuanya indah rajaku ... semuanya unik dan baru ... aku pun bahagia ... Anda tidak membuat saya kecewa ... dan saya harap, saya pun tidak membuat Anda kecewa ...,” tutur Ratu Arenda dengan memandang jauh ke depan pada kehampaan.
Raja Azer mengangguk pelan mendengar dengan saksama.
“Anda juga sudah tahu. Saya adalah ... wanita yang sederhana ... saya menyukai kedamaian, tenang dan penyendiri ... tempat ini sangat cocok dan istana ini dapat mewujudkan tempat sesuai selera ... bahkan mampu mengubah perasaan bercampur aduk ...,” imbuh Ratu Arenda masih samar penjelasannya, namun mengandung sanjungan dan rasa terima kasih.
“Oh iya ... apa nama istana ini ...?” tanya Ratu Arenda tiba-tiba.
Raja Azer tercenung sesaat, kemudian menjawab, “Saya ingin Anda yang menamainya.”
Ratu Arenda malah membisu, dirinya termenung. Menimbang-nimbang nama yang bagus, atau mungkin nanti. Lalu berujar, “Nanti saja, kita tunda namanya.”
Tanpa sungkan Raja Azer mengangguk sedia. Tak begitu masalah.
Hingga pernyataan Ratu Arenda langsung disambungnya lagi pada topik sebelumnya. “Saya sangat bahagia ... iya, saya tak dapat tersenyum ... karena ... hadiah ini malah membuat saya terharu ....”
Raja Azer hanya bungkam seraya mengangguk-angguk berusaha memahaminya.
“Maaf ... maksud saya ... saya terharu untuk niat dan tekad Anda demi ... saya,” tegas Ratu Arenda dengan tetap memandang jauh ke depan dan secara tidak langsung mensyukuri pemberian suaminya.
Raja Azer kemudian bersedekap menyilang tangan, berdiri tegap, lalu berkata, “Syukurlah kalau begitu ... saya dapat lega mengetahuinya.”
Persembahan itu telah diterima sang ratu dengan senang hati. Bukan itu saja, setelah meleburkan perasaan pada kedamaian dan ketenteraman istana tersebut, mereka bahkan menyempatkan diri untuk bersua pada klan Mared yang hidup di sini.
Selain Raja Azer mempertemukan istrinya pada mereka atau pada ketua klan Mared; Karkam. Makan-makan bersama sebagai bentuk menjalin keakraban pun dilangsungkan.
Tidak di istana mewah Ratu Arenda. Mereka menikmati momen keakraban itu dalam istana klan Mared, di bawah laut.
Sementara raja dan ratu bangsa Barat tengah menikmati waktu berlalunya di planet lain.
Bangsa Barat untuk saat ini mulai memendam masalah besar. Masalah yang muncul berkat adanya solusi, namun solusi ini menimbulkan problematik.
Perserikatan sihir bangsa Barat mulai terlihat terbelah dua.
Bila diselisik kembali atas kasus yang terjadi dalam medan perang, tentang adanya penyihir ras Peri yang berkhianat; mereka malah membunuh rasnya sendiri.
Bangsa selain Barat pun tengah mengalami krisis dalam negerinya. Kalau sekelompok penyihir mulai bersekutu pada lawan dan membantu ras Peri lainnya yang hendak membantu lawan.
Pemerintah menanggulangi dan menutupi masalah tersebut hanya dengan menyebarkan berita-berita mengenai para ilmuan yang sukses menangani perang; pengalihan isu. Tetapi itu tidak efisien.
Beberapa masyarakat cukup pintar ketimbang para pejabat. Mereka mampu mengendus adanya polemik ini.
Pasalnya, polemik dingin dan terselubung itu sewaktu-waktu bisa meledak dan menjadi lebih runyam; perang saudara.
Bukan itu saja, adanya persoalan lain yang 'benang merahnya' sama; perang dunia. Membuat warga semakin ketir-ketir perihal kebenaran perang dunia ke-18 ini.
Persoalan lain seperti, para Ketua Kehormatan yang berselisih pendapat, kalau ras Malaikat tak menginginkan perang dan Malaikat Abriel justru tak pernah ingin adanya perang.
Tapi, di lain sisi para Ketua Kehormatan pun mendapat titah dari ras Malaikat untuk berperang demi kebenaran, itu pula telah diizinkan oleh Malaikat Abriel. Dengan kata lain, petunjuk dari ras Malaikat telah turun pada alam ini, namun masih dalam pertanyaan besar.
Mengapa ras Malaikat tidak satu suara dalam kepastiannya dan malah menimbulkan perselisihan?
Selain itu, masalah lain pun ditemukan, kalau nyatanya ada beberapa organisasi serta kelompok tertentu yang menyebarkan propaganda, bila ras Peri harus menyerang satu bangsa penuh, tanpa mengikuti hukum berperang.
Ketiga, persoalan mengenai adanya hukuman mati bagi para penolak kebenaran perang dunia mulai terendus masyarakat.
Keempat, adanya masalah dalam berkurangnya jumlah penduduk karena telah banyaknya para pejuang yang gugur.
Dan terakhir, masalah-masalah kecil lainnya yang masih diselidiki, namun memiliki potensi yang sama bahayanya; perang saudara.
Seluruh masalah dalam bangsa Barat itu pun telah dirasakan bangsa lainnya. Kendati begitu, perang ini masih dapat terkendali dan didominasi oleh mereka yang pro pada perang dunia ke 18.
Setiap warga tetap dapat beraktivitas, meski adanya batasan mereka masih santai menjalaninya.
Di malam harinya, di alam Peri bangsa Barat. Tepatnya dalam suasana remang-remang kunang-kunang, hutan rawa-rawa.
Hiri serta Apan yang tengah menikmati momen berduanya. Secara tak disangka-sangka, keromantisan momen itu mesti buyar. Buyar oleh adanya penguntit.
Sebab dengan insting penyihirnya, Apan mendadak berputar badan dan 'Bouff' menembakkan bola energi ungu pada kekosongan.
Kemudian 'Buaf' seorang pria dengan jubah penyihirnya mendadak tampil dalam realitas. Persembunyiannya dalam oksigen telah terungkap.
“Gah ...!”
Jelas hal itu menimbulkan kepanikan bagi Hiri. Membuat tenggiling transparan milik Apan melompat dari pundaknya ke tanah, seraya berujar, “Ikuti aku sayang!”
Spontan Hiri berlari mengikuti tenggiling transparan itu yang melaju dengan berputar di tanah seperti roda.
Mereka berusaha kabur menyelamatkan diri.
Lebih dari itu, 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' Apan yang tetap di posisinya kembali menembakkan bola-bola energi ungu pada beberapa titik yang dicurigai.
Empat penjuru mata angin tertembak oleh energi ungu dan benar saja, 'Buaf' 'Buaf' 'Buaf' 'Buaf' empat penyihir bertopeng burung gagak muncul dalam kenyataan.
Hingga karena itulah, hal tak terduga terungkap.
Kalau faktanya, Hiri dan Apan telah dijebak oleh para penyihir. Sihir Manipulatif Ruang telah digunakan.
Karena secara terbuka dan terorganisasi, telah berdiri sepuluh penyihir berjubah hitam, bertopeng kepala burung gagak. Empat di antara mereka membentuk segel akuarium dan mengurung Hiri serta tenggiling Apan.
Mereka —Hiri dan tenggiling— berada sekitar 30 meteran dari posisi Apan.
Hiri bahkan sempat memukul-mukul dinding akuarium itu berharap mampu menghancurkannya.
Sedangkan Apan masih terbebas, tengah dikerubungi oleh enam dari departemen kemiliteran penyidik dan penangkap. Itu tersimbolik dari busana dan topeng mereka.
Faktanya mereka tengah berada di hamparan rerumputan nuansa cokelat di belakang rumah. Langit malam agak violet dihiasi taburan bintang, udara cukup dingin, tetapi suasana mulai tegang.
'Woush' Apan secara impulsif meluncur terbang berusaha menyelamatkan istrinya.
Namun 'Bruk' dirinya malah menabrak dinding gaib salah satu sihir dari seorang mata-mata. Akibatnya Apan jatuh ke tanah, mendeprok dengan ketir, namun buru-buru bangkit berdiri.
Hiri yang bimbang dan ketakutan hanya sanggup berdiri tertunduk malu dengan memeluk tenggiling Apan seakan memeluk suaminya demi meredakan ketakutannya.
“Tenang, sayang ... tenanglah ...,” ujar —tenggiling— Apan berusaha menenangkan istri tercintanya. Tapi itu tidak cukup.
Hingga ketegangan pun diisi lagi oleh munculnya sesosok pria bertopeng cermin yang bukan lain adalah Kaca.
Dalam balutan setelan jas nuansa hitam favoritnya dan semakin nyentrik dengan ke dua tangan yang terbungkus sarung tangan kulit nuansa hitam. Dirinya hadir dalam tugas negara.
Hebatnya hanya dengan satu jari telunjuknya energi sihir ungu tertembak pada sekitar Apan, membentuk segel seperti akuarium, namun lebih kecil ketimbang segel pada Hiri.
Segel tersebut berbentuk tabung yang melingkupi sekujur tubuh Apan, membuatnya tak bisa bergerak, kecuali dua sayapnya yang bebas.
“Kami datang dari departemen penyidik dan penangkap, divisi penyihir ...,” ungkap Kaca yang berdiri di depan Apan dalam jarak dua meteran.
Lalu Kaca memamerkan selembar kertas ke hadapan wajah serius Apan. Menunjukkan surat izin penangkapan.
“Sesuai dalam perundang-undangan Pidana ras Peri bangsa Barat, perihal Pernikahan. Bab tujuh, Lini tiga, yaitu ... barangsiapa dengan sengaja, atau dipaksa, menikahi atau mengawini selain daripada rasnya sendiri, berhak dijatuhi hukuman ....”
“... pertama, hukuman mati bila terbukti sengaja. Kedua, hukuman cambuk sepuluh ribu kali bila terbukti dipaksa. Ketiga lolos dari hukuman bila terbukti disihir ...,” lanjutnya dengan lantang dan tegas.
Selepas surat izin penangkapan disimpan kembali pada saku dalam jas Kaca. Kaca kembali bicara dengan tegas. “Saudara wajib mengikuti prosedur kami dan diharapkan untuk tidak melawan, atau bila terbukti melawan dan melarikan diri, hukum pidana dapat dilipat gandakan.”
Sengap Apan di sana, mimik wajahnya menyiratkan kecemasan dan kebingungan, terpojok dirinya dan tak mungkin melawan para penegak hukum negara. Entah bagaimana para penegak hukum ini sanggup menyadari bila Apan menikahi selain dari ras Peri.
Bukan itu saja, Hiri yang notabene perempuan lemah lembut secara naluriah dan ketakutan matanya mulai berkaca-kaca. Takut-takut kalau ini akan menjadi akhir kebahagiaannya, untuk itu, semakin erat dirinya mendekap tenggiling Apan dalam getir dan agak bergetar.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Mari mendukung /menghargai kinerja Author, dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)