
Pencarian Nurvati telah berlanjut dan 200 tahun telah lepas untuk itu. Tapi tak sia-sia pencariannya, sebab Dua Dewa dan dua Dewi Surgawi yang dicari-carinya pun syukurnya telah ia dapatkan; termasuk angsa putih.
Dewa Surgawi yang dihukum menjadi seekor ular naga bening sayap tiga berhasil Nurvati bawa. Bahkan dirinya mesti mendapatkannya dengan cara mengikuti sebuah turnamen Pedang.
Dia didapatkan di kota Arar. Sebuah kota yang dipenuhi Peri klan Kristal. Para peri yang bertubuh transparan.
Ular naga transparan ini mampu juga mengubah wujudnya menjadi sebuah bando berlian dan kini tersemat indah di kepala Nurvati, membuatnya terlihat seperti mengenakan mahkota.
Selanjutnya ialah Dewa Surgawi yang dihukum di dalam ubur-ubur udara. Nurvati mendapatkannya dari seorang petualang yang menjadikan ubur-ubur itu sebagai lampu dan senjata. Nurvati bahkan mesti bertarung dengan sang pemilik demi mendapatkannya.
Dia didapatkan di kota Aselof. Sebuah kota yang dipenuhi oleh para petualang, tempat petualang bertukar benda-benda mistik atau aneh.
Ubur-ubur udara yang mampu benderang seperti lampu, berukuran sekepal tangan orang dewasa dan mampu mengeluarkan asap dengan efek membentuk ilusi Ruang dan Waktu, kini bertengger mantap di pergelangan tangan kanan Nurvati, seperti jam tangan.
Ketiga, adalah Dewi Surgawi yang dihukum menjadi seekor capung emas. Nurvati mendapatkannya kala dia melihat capung itu dikejar bocah-bocah yang bermain.
Dia didapatkan di kota Korintus. Sebuah kota megah perdagangan binatang Gaib, tempat para ilmuan membuang produk gagalnya.
Terakhir adalah Dewi Surgawi yang dihukum dalam tubuh angsa putih, yang sudah ada sejak Nurvati terbangun dalam tidur panjangnya.
Seperti yang telah diketahui, angsa putih nampak selayaknya angsa biasa. Hanya itu yang diketahui.
Kekuatan spesial mereka adalah anugrah tersendiri sebagai makhluk alam Surgaloka.
Mereka sebenarnya hanya dikutuk dalam wujud dan dihukum memiliki kehidupan yang menyakitkan, sehingga sudah menjadi bawaannya sekalipun dalam wujud yang dikutuk, mereka masih mampu menggunakan kekuatan spesial mereka. Tapi tak mempan pada majikan mereka.
Faktanya adalah, ras Dewa Dewi Surgawi tak akan mampu menguasai ilmu Energi, atau ilmu Hikmah, sebagaimana jin dan manusia. Mereka kebanyakan telah memiliki anugrahnya masing-masing.
Pada dasarnya, masih ada beberapa Dewa Dewi yang turun ke bumi karena dihukum. Tak banyak, masih terhitung oleh jari.
Kendati nyatanya, Nurvati hanya memilih yang dirasa cocok, yaitu mereka yang malah dijadikan budak, tepatnya yang dimanfaatkan demi keuntungan sepihak.
Di sinilah Nurvati serta kawan-kawannya. Dalam suasana sejuk nan damai di hamparan bunga-bunga berwarna-warni. Dirinya menghadap keempat hewan gaib yang sebenarnya adalah Dewa-Dewi Surgawi.
Nurvati sempat bertanya pada sang Diri Asli perihal cara untuk membebaskan mereka dari hukuman alam semesta. Tetapi justru Nurvati dituntut agar mencari tahunya sendiri, karena itu kewajibannya.
Dirinya berkacak pinggang merenungi baik-baik kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Kemungkinannya pengalaman dapat menjawab apa yang sempat tersembunyi.
Tapi waktu tak berhenti berputar, menggiring jiwanya pada cara lain. Nurvati mula-mula menyelidiki penyebab mereka dihukum.
“Aku dihukum karena menyembunyikan harpa dari sesosok malaikat ... padahal, niatku hanya bercanda ....” Keterangan dari ular naga transparan bersayap tiga.
“Aku dihukum karena sebulan penuh menghalangi beberapa kelompok pribadi yang hendak menemui sesosok manusia.” Keterangan menurut ubur-ubur udara.
“Aku dihukum karena berdusta.” Keterangan dari capung emas.
"Aku dihukum karena setahun penuh tak menjalani kewajiban." Keterangan menurut dari angsa putih.
Semua penjelasan dalam bahasa roh telah diterima nalar Nurvati.
“Perlu digaris bawahi, bukanlah Surga yang memiliki hukum ... tapi kamilah yang terkekang hukum ... saat ini, Dewa Dewi seperti kami tidak lagi merasakan alam Nirwana, kecuali lepas dari hukuman ini ....” keterangan dari angsa putih.
Nurvati tercenung, sebisanya mencari celah penalaran terbaiknya. Hingga sang Diri Asli kembali memberikan petunjuk. “Nurvati, ras Dewa Dewi pun memiliki tugas yang mirip seperi ras Malaikat ... mereka memiliki kewajiban untuk mengurus alam semesta ... para Dewa Dewi dan Malaikat tidak menikmati Surga sebagaimana jin dan manusia ... diantara mereka ada yang bertugas menurunkan berita, atau sedikit rahmat dari Surga ....”
Lalu Nurvati bertanya kembali. “Kalau kalian dihukum ... tentu ada tempo selesainya 'kan?”
Namun dengan kompak, jawaban mereka berempat sama saja, yaitu, hukuman tidak diketahui akhirnya.
Nurvati kembali lagi dan lagi larut dalam pikirannya. Sebisa mungkin mencapai titik terangnya. Selepas banyak detik yang terbuang. Pria urakan yang tengah asyik mendeprok di bunga-bunga, tepatnya roh Pangeran Awarta menutarakan ide. “Coba kau gunakan energi ... bukankah kau sudah terikat untuk menolong mereka ...?”
Ide yang muncul itu tanpa ragu Nurvati implementasikan, energi hijaunya dimunculkan, meliputi tangan kanan Nurvati. Lagipula tak ada ruginya juga mencoba.
Dirinya sekonyong-konyongnya menembakkan bola energi tersebut pada dua Dewa dan dua Dewi di hadapannya.
'Buaff'.
Hingga secara ajaib dan tak disangka-sangka, pada akhirnya, Dewa-Dewi Surgawi itu pulih kembali. Mereka kembali pada wujud normal mereka.
Sang naga bening memiliki wujud pria gagah nan tampan.
Sang ubur-ubur udara memiliki wujud pria bedegap dan pendek.
Sang capung emas memiliki wujud wanita jelita dan bertubuh ramping.
Lalu terakhir, sang angsa putih memiliki wujud wanita eksotis dan bertubuh ideal.
Makhluk Surgawi itu senang dan semeringah. Mereka lega dan teramat bersyukur. Busana yang mereka kenakan juga seperti normalnya makhluk kahyangan, banyak aksesoris emas.
Ucapan-ucapan terima kasih terluap dari mulut mereka, khusus untuk Nurvati. Terutama sekali Dewi yang sempat jadi angsa putih, dia sampai memeluk Nurvati penuh syukur.
Sedangkan pria urakan tetap mendeprok di bunga-bunga begitu asyik memeluk batunya sambil memandang intens pada Nurvati dan Dewa Dewi.
Sayangnya di sinilah mereka akan berpisah. Setelah bertahun-tahun mereka bersama, semuanya mesti diakhiri.
Dewa sang naga bening pun berpamitan, lantas mulai memudar dan hilang, disusul oleh Dewa sang ubur-ubur udara, dia pun berpamitan dan menghilang, begitu pula dengan Dewi sang capung emas, dia hilang.
Hingga akhirnya, Dewi sang angsa putih. Cukup berat baginya meninggalkan Nurvati yang telah lama menemaninya, apalagi tak mudah untuk sampai ke hari ini.
Oleh sebab itu, Dewi sang angsa putih berjanji akan menemui Nurvati lagi, namun sebelum itu terjadi, dirinya mesti kembali terlebih dulu ke Langit untuk melaporkan kebebasannya.
Nurvati tak menjawab, hanya mengangguk mengiyakan.
Maka setelahnya, dengan tersenyum dan sekali lagi berterima kasih, Dewi sang angsa putih pun mulai memudar, lantas hilang dari realitas.
Kini bersama udara yang berembus lembut, di sana hanya menyisakan Nurvati serta pria urakan. Berdiam diri dalam putaran waktu.
Nurvati telah berhasil menyelamatkan Dewa dan Dewi, atau tepatnya, sukses menjalankan kewajibannya.