EL & KEN

EL & KEN
98



"Bagaimana rasanya ditolak lelaki yang kamu cintai? Sekarang kamu bisa merasakan apa yang pernah aku rasakan. Allah itu Maha Adil." Elvina menanggapi ocehan sepupunya dengan tersenyum manis. Aish pagi-pagi datang ke rumahnya hanya untuk mengatakan itu. Tidak taukah sepupunya itu kalau dia sudah lelah menangis semalaman.


"Selamat Aish, aku turut bahagia. Semoga Allah meridhoi pernikahan kalian."


"Tentu saja, karena aku bukan perebut calon suami orang sepertimu. Kamu itu tidak pantas untuk Ken."


Elvina mengangguk, dia malas berdebat yang ada nanti mamanya juga terseret-seret. "Iya, dari awal aku sadar diri kok." Ucapnya, lagi-lagi dengan tersenyum.


Dengan angkuhnya Aish meninggalkan Elvina di dapur, kembali ke ruang tengah menemui Zayid dan Kila. Elvina menarik napas panjang berkali-kali lalu kembali ke kamar.


"Perebut calon suami orang," gumamnya lalu tersenyum miring mengejek diri sendiri.


"Beruang, kamu dengar kata Aish kan. Aku gak pantas untuk Ken, sebentar lagi mereka akan menikah. Mungkin besok, lusa, minggu depan atau bulan depan aku gak tau. Walaupun berusaha seikhlas mungkin tetap saja masih menyakitkan rasanya." Adu Elvina pada beruang kesayangannya. Hanya itu yang bisa menghilangkan kesedihan gadis berusia dua puluh enam tahun itu.


Elvina mengeluarkan puisi dari Ken lalu membacanya satu persatu. Bibirnya tersenyum manis, semua sudah berakhir saatnya dia bangkit kembali menata hidup baru.


Kalau bersaing dengan perempuan lain mungkin lebih mudah. Ini Elvina harus bersaing dengan sepupunya sendiri, sungguh sangat sulit.


Kabarnya Ken sudah pulang dari rumah sakit, syukurlah. Akhirnya lelaki itu pulih juga setelah dua minggu dirawat. Aish mampir ke rumahnya hanya untuk memanas-manasi, kalau dia diperlakukan istimewa oleh Ken. Huhuhu, Elvina melatih pernapasan agar bisa bernapas dengan lega.


Siang ini Nazar mengadakan acara di sebuah Yayasan kampus yang baru dikembalikan Zayid. Elvina terpaksa hadir karena Kila memaksanya ikut. Untuk membuktikan kalau dia baik-baik saja, dia menuruti kemauan sang mama tersayang.


"Kenapa dia ada di sini sih Bi, dia yang udah bikin Yayasan yang Abi bangun diambil Abi Zayid." Elvina meneguk ludah kasar, dia tidak tau permasalah itu. Kila mengusap lembut lengannya untuk menenangkan. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum.


Kalimat yang diucapkan Ken sekarang jauh lebih menyakitkan dibanding Ken yang memakinya dulu. Perasaannya hancur berkeping-keping.


"Ken, itu bukan salah Nana," jelas Nazar pelan. Dia sudah berulang kali memberikan putranya pengertian, kalau gadis itu tidak tau apapun. Tapi Ken tetap keras hati membenci Elvina tanpa alasan yang jelas.


"Pokoknya aku tidak suka dia ada di sini!" Bentak Ken dengan geram. Elvina menguatkan hatinya untuk tetap tersenyum. Walau sudah tidak nyaman berada di sana. Paman dan sepupunya menatapnya seperti sedang mengusir.


"Ma, aku keluar ya." Bisik Elvina pelan hanya bisa di dengar Kila. Perempuan paruh baya itu mengangguk setuju.


"Nana, keliling yuk," ajak Erfan. Sadar suasana sekarang sedang kurang kondusif.


"Oke." Sahit Erfan malas, "nanti aku kembali Na." Ujarnya pada Elvina, gadis itu mengangguk hampir tak terlihat.


"Ngapain sih Erfan sok baik sama dia!" Ucap Ken tak suka.


"Ken!" Tegur Adnan tidak suka, adiknya itu terlalu membenci Elvina. Padahal dulu sangat bucin pada gadis itu.


"Kakak itu urusin Kak Sya aja, gak usah belain dia," geram Ken.


"Kamu bukan anak Ummi lagi," ujar Ulfa marah pada putranya.


"Kenapa sih kalian semua belain dia, di sini aku atau dia yang anak kalian?" Sejak kecelakaan itu emosi Ken tidak stabil, dia mudah sekali marah.


"Nana, ikut Kakak aja yuk." Attisya menarik Elvina menjauh dari sana, dia tidak tega melihat gadis yang tidak tau apa-apa ini diserang Ken terus-menerus. "Jangan dengerin Ken ya, Na."


"Aku gak papa kok Kak, jangan khawatir." Ucapnya dengan tersenyum.


"Kalau kamu merasa gak nyaman di sini puang aja." Saran Attisya, Elvina menggeleng.


"Aku ada atau pulang pun tetap sama kan Kak. Oh ya, emang benar kampus ini sempat diambil Paman Zayid?" Tanya Elvina penasaran, Attisya mengangguk. "Kenapa?"


"Karena Ken tidak mau menikah dengan Aish, saat kamu pergi itu." Sekarang Elvina paham kenapa Aish dan Ken benci padanya, meskipun alasan dua orang itu berbeda. "Secinta itu Ken sama kamu Na."


"Itu dulu Kak." Elvina tersenyum menyembunyikan lukanya. Himpitan di dada membuat napasnya terasa sesak.


"Mungkin sekarang masih, tapi dia tidak menyadari. Benci sama cinta itu sama-sama disimpan dalam hati. Hanya cara penyimpanan penyampaiannya yang berbeda."


"Aku bahagia kalau Ken mau menikah dengan Aish Kak, aku tidak ingin ada perpecahan diantara keluarga. Walaupun Aish sekarang membenciku, tidak apa. Asal mereka tidak membenci mama dan keluarga paman Nazar." Jelas Elvina tenang, setenang apapun tetap saja hatinya bergemuruh hebat.


***


Maafin aku up satu dulu, tabungan cerita udah abis. Doain otakku lancar jaya mikirnya ๐Ÿ˜‚