
"Ada apa?" Tanya Elvina setelah menormalkan detak jantungnya. Ken membalikkan badan lalu tersenyum, "Hei, sangat susah menemuimu di sini," curhatnya. Ken kembali ke mobil mengambil dua boneka.
"Aku mau mengembalikan bonekamu, kamu pasti susah tidur tanpa ini." Ucap Ken lembut, dia berusaha menekan marah yang kembali datang. Elvina hanya mengangguk, tidak bisa menolak. Dia tidak bisa menolak, karena memang sulit tidur tanpa memeluk beruang itu.
"Kamu pegang dulu," Ken memberikan satu beruang cokelat kepelukan Elvina. Lalu merogoh saku celananya. "Ini kalung dan puisi-puisinya." Lelaki itu meletakkan kertas-kertas, kalung dan cincin ke tangan Elvina.
"Aku boleh minta ini gak?" Ken mengangkat teddy bear yang berukuran lebih kecil, "aku lebih nyenyak kalau tidur sama ini."
"Iya, ambil aja. Kita satu-satu, kamu mau puisinya juga?" Tanya Elvina, dia bisa mengerti Ken sangat rindu dengan El-nya. Tapi tidak menemukan El itu dalam dirinya.
"Mau?" Ucap Ken antusias, Elvina mengulurkan tangannya mengisyaratkan ken untuk mengambil. Ken mengambil beberapa lembar lalu memasukkannya di saku celana kembali. "Aku pasangkan kalung dan cincinnya, boleh?"
"Boleh," ucap Elvina sambil mengangguk.
Lelaki itu menjepit boneka di ketiaknya lalu memasangkan cincin di jari manis Elvina. "Tangannya masih sakit?" Tanyanya saat melihat bekas jahitan di pergelangan tangan gadis itu.
"Sudah gak sakit lagi." Jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan diulangi." Pesan Ken, lagi-lagi Elvina mengangguk antusias. Hatinya sangat bahagia malam ini, rindunya telah sirna. Walau Ken belum bisa menerimanya sebagai El. Dia tetap bahagia dengan perubahan Ken.
"Kamu masih benci lihat aku?" Tanya Elvina saat Ken memasangkan kalungnya.
"Maaf." Ucap Ken dengan wajah tertunduk, "aku gak tau apa penyebabnya."
"Aku punya cincin satu lagi, kamu mau pasangkan di jari aku?" Tanya Ken.
"Tentu." Sahut Elvina semangat, Ken merogoh kantongnya yang lain mengeluarkan cincin yang ukurannya lebih besar. Di sana juga ada ukiran El-KEN. "Ada nama EL-KEN juga ya," dia baru tau kalau cincin itu berpasangan.
"Iya, aku pesan sepasang buat melamar El." Jelas Ken, Elvina mengangguk mengerti lalu memasangkan cincin itu di jari Ken.
"Sudah." Gadis itu terus menyunggingkan senyuman manis, entah apa arti penyematan cincin malam ini.
"Aku pulang ya, tadi aku cuma dikasih waktu lima menit buat ketemu kamu. Ini sudah lebih." Pamit Ken, walau tidak mengerti dengan hatinya. Ken tetap melawan rasa emosi yang membara itu.
"Kamu hati-hati," Ken mengangguk lalu kembali ke mobil. Elvina melepaskan kepergian Ken sampai keluar gerbang.
"Kamu bahagia?" Tanya Erland yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya.
"Sangat bahagia Om, tapi dia belum ingat siapa aku. Setiap kali melihat aku dia merasakan marah dan benci. Dia sedang berjuang menahan perasaannya saat menemuiku. Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya. Ken bilang saat tidur bersama boneka itu dia bisa tertidur lebih nyenyak. Sama sepertiku yang tidak bisa tertidur tanpa boneka ini." Curhat Elvina seraya masuk ke dalam rumah.
"Om bisa bantu dia berobat, kalau kamu mau. Sama sepertimu, dia juga harus menyembuhkan dirinya. Apa sebelum kejadian itu kalian bertengkar?" Tanya Erland, bisa jadi yang teringat adalah memori saat mereka bertengkar.
"Iya, aku menolak menikah dengannya. Setelah dokter Raga membantuku lebih tenang, aku mengirim pesan bahwa aku mau menikah dengannya. Setelah itu Ken kecelakaan." Ucapnya sendu, sekarang Erland mengerti apa penyebabnya.
"Kalau lelaki itu yang bisa membuat kamu bahagia, Om akan bantu dia biar gak benci kamu lagi dan mau menerima kalau kamu memang perempuan yang ada di hatinya selama ini." Erland mengusap belakang kepala keponakannya, mengantar gadis itu sampai ke depan kamar.