
Ken memangku kepala Elvina sambil memijatnya lembut, "tidur lagi El, aku temani di sini." Perempuan itu membenamkan wajah di perut Ken dengan kedua tangan memeluk pinggang suaminya.
"Abang gak akan hilang, Sayang. Gak perlu dipeluk kencang-kencang begitu." Goda Ken sembari mengecup samping kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Elvina tidak menyahut dia lebih nyaman begitu, Setelah perempuannya tertidur Ken membaringkan di atas bantal lalu ikut berbaring. Sampai pagi Ken masih tidur memeluk istrinya.
"Pagi El," sapa Ken saat membuka mata lalu mengecup kening istrinya yang masih demam. Lelaki itu beranjak ke kamar mandi lalu siap-siap sholat subuh.
Sampai Ken pulang dari mesjid istrinya itu masih betar tidur. Dia beranjak dari kamar mendatangi ummi-nya dapur.
"Ngapain ke dapur pagi-pagi Ken?" Ujar Ulfa heran, anaknya itu celingak-celinguk di dapur masih menggunakan baju koko.
"El sakit Mi, aku mau buatin bubur. Gimana caranya, biar kayak di tv, istri sakit langsung dibikinin bubur." Kata Ken sambil cengengesan.
"Makan tuh tv, bukannya sembuh istrimu malah keracunan kalau kamu yang bikinin bubur." Omel Ulfa pada putra bungsunya yang menggaruk tengkuk bingung. Punya niat baik juga salah, gumam Ken.
"Ya udah, Ken beli aja. Lebih lengkap ada ayam, kuah dan kacangnya." Putus Ken akhirnya, dari pada dapat siraman rohani sejak matahari terbit sampai terbenam.
Bungsu Nazar itu kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Syukuri aja masih punya ummi yang masih setia mengomel, batin Ken sambil senyam-senyum dalam mobil.
Ken langsung pulang setelah mendapatkan bubur yang dicarinya. Dia menyiapkan bubur dan segelas susu cokelat lalu kembali ke kamar. Istrinya sudah tidak ada di kasur.
Dilihatnya noda merah yang menempel di seprai. Ken langsung memasukkan seprai itu ke keranjang cucian lalu menggantinya dengan yang bersih. Itu anak lagi demam tapi lama banget di kamar mandi, gumamnya.
"Kamu demam, kenapa mandi El?" Tanya Ken serius, menarik Elvina untuk duduk di kursi rias dan mengeringkan rambutnya. "Kamu bisa tambah sakit, mandinya lama lagi." Omelnya, istri Ken itu hanya tersenyum.
"Senyam-senyum kalau dikasih tau."
"Abang kalau ngomel gitu tambah ganteng," Elvina mencubit genit perut Ken.
"Eh, nakal ya. Makan!" Titah Ken, setelah mengambil semangkok bubur. Dia duduk di meja rias menyuapi Elvina.
"Manisnya suamiku ini," goda Elvina sambil mengedipkan mata. Ken tak menghiraukan, fokus menyuapi istrinya itu. "Kalau Abang masang tampang cool gini aku bisa tambah jatuh cinta, ih." Katanya menoel-noel perut Ken. Si empunya tetap duduk dengan tenang menyuapi sang istri yang usil.
Ken membersihkan sudut bibir Elvina dengan bibirnya setelah perempuan itu menghabiskan semangkok bubur dan segelas susu. Bukan sakit, tapi lapar itu anak orang. Elvina terkejut saat lidah Ken menyapu bersih sisa bubur dan susu di bibirnya.
"Kalau ada adegan gini jadi tambah manis gak, hm?" Ken menggoda dengan senyuman yang bisa meruntuhkan pertahanan para kaum hawa.
"Abang bikin jantungku melompat-lompat, kalau jantungku lari ketar-ketir nanti gimana."
"Ada jantung Abang di sini, El." Ken membawa telapak tangan Elvina ke dadanya, "milikmu." Ujarnya dengan tersenyum manis.
Tolong selamatkan Elvina, jangan biarkan dia terbuai rayuan maut Ken. Mimpi apa dia tadi malam sampai suaminya manis begitu. Ummi pasti terlalu banyak memasukkan pemanis buatan diminuman Ken nih.