EL & KEN

EL & KEN
100



"Heh, lo bisa nyetir mobil gak sih?" Teriak Ken melemparkan kerikil ke kaca mobil Elvina.


"Astaghfirullah." Batin Elvina seraya mengelus dada berulang kali, dia membuka kaca mobil. "Maaf Pak," ucapnya karena sudah mengganggu jalan Ken untuk keluar parkiran. Lelaki itu berkacak pinggang di samping mobilnya.


"Lo pikir gue bapak lo, Hah." Ucap Ken naik pitam, setua apa dia sampai dipanggil bapak.


"Ken!" Nazar menarik putranya kembali ke balik kemudi, "kamu lanjut duluan Na."


"Makasih Paman." Ucapnya dengan tersenyum, harus sampai kapan dia berusaha diam menerima kelakuan Ken seperti itu. Kalau dulu dia siap adu urat leher dengan lelaki itu, tapi sekarang, Elvina malas. Karena akan membuat hatinya sakit sendiri.


"Kenapa Na itu Ken ngamuk lagi?"


"Iya Ma, Ken marah lagi." Katanya dengan tersenyum lalu menggeleng, "secepat itu ya Ma, kalau Allah ingin mengambil perasaan seseorang. Cinta dan benci bisa berubah dalam sekedip mata."


"Kalau kamu sudah gak tahan, jauhi aja Na." Kila mengusap puncak kepala putrinya, hatinya juga ikut sakit melihat Elvina selalu dikata-katai Ken dengan kasar.


"Iya Ma. Kita langsung pulang atau mau mampir minimarket dulu?"


"Pulang aja Na, sudah hampir maghrib."


"Siyap," Elvina mengendarai mobilnya dengan pelan. Melupakan sakit hatinya hari ini. Menjauh pergi lebih baik dari pada bertahan untuk hal yang tidak pasti.


Di mobil yang lain Ken melajukan mobilnya dengan gusar. Melihat wajah perempuan itu selalu membuat emosinya terpancing. Dia tidak tau penyebabnya apa, setiap bertemu ingin sekali Ken memaki-makinya.


"Bi, El dimana. Kenapa cincin ini bisa ada pada perempuan menyebalkan itu?" Sambil menyetir Ken mengamati cincin di jari kelingkingnya. Dia tidak suka gadis itu sudah mengaku-ngaku sebagai El.


"Perempuan menyebalkan itulah El-mu Ken."


Ken tersenyum miring lalu menggeleng, "dia bukan El, Bi. El-ku pemberani, tidak lemah seperti perempuan itu."


"Faktanya begitu Ken, dia lah Elvina Mufida Ilman putra almarhum Aliandra Ilman. Orang yang ingin kamu temui malam kecelakaan itu. Kalau kamu tidak percaya kita bisa ke rumahnya. Kamu lihat sendiri barang-barang yang pernah kamu berikan padanya."


Setelah mengikuti arahan alamat dari Nazar, Ken dapat melihat perempuan itu menyetir mobil sangat pelan sampai memasuki pintu gerbang rumahnya. Ken sampai gemas sendiri ingin mengklakson beruntun. Dia ikut memarkirkan mobil di depan rumah itu.


"Kalian gak bilang mau ke rumah?" Sapa Kila pada Nazar dan Ulfa yang baru turun dari mobil. Elvina sudah masuk rumah duluan. "Ayo masuk." Ajaknya pada tamu-tamu itu.


"Dadakan La. Ken mau ketemu Nana." Ujar Nazar menjelaskan, Kila mengangguk lalu menatap Ken.


"Susul aja ke kamar Ken yang itu." Ujar Kila seraya menunjuk ke arah kamar Elvina.


Lelaki itu mengangguk lalu menuju kamar perempuan yang sangat menyebalkan itu, mengetuk pintu kamarnya tanpa suara.


"Masuk Ma, nggak aku kunci." Teriak Elvina sambil melepas jilbab. Tidak mungkin Ken yang masuk ke kamar, pasti mama ingin ngasih tau kalau Ken ada di luar, pikirnya.


Lelaki itu berdehem, dia merasa familiar dengan kamar ini. Boneka, foto anak kecil dan kalung dengan liontin EL yang terpasang di leher perempuan itu.


"Ken." Elvina berjingkat kaget langsung mengambil jilbab instannya. "Kamu ngagetin," katanya setelah selesai memasang jilbab kembali, untung dia belum lepas pakaian.


"Pinjam kalungnya?" Pinta Ken dingin tanpa ekspresi, Elvina melepaskan kalung itu dan memberikannya. Mungkin Ken ingin mengambil semua barang pemberian darinya, batin Elvina.


"Apalagi barang-barang yang berinisial K3IV yang ada di tempatmu."


Elvina mengambil boneka beruang besar dan kecil, juga puisi-puisi dari Ken, meletakkan di ujung rajang. Duh, kalau boneka itu diambil Ken juga, bagaimana dia bisa tidur. Gadis itu sudah gelisah, berharap Ken tidak mengambil beruang kesayangannya.


"Mulai sekarang jangan menyimpan apapun benda dariku lagi." Tegas Ken, Elvina mengangguk patuh. Lelaki itu membawa semua dua boneka itu keluar, setelah memasukkan puisi dan kalung ke dalam sakunya.


"Ayo kita pulang!" Ajak Ken pada Ulfa dan Nazar, dua orang itu terpaku di tempat melihat putranya membawa barang yang sudah diberikan pada Elvina. Ken meninggalkan ruang tamu, memasukkan dua boneka itu dalam bagasi.


"Kila, kami pulang dulu. Hibur Nana ya, nanti aku minta Adnan dan Sya ke sini." Ujar Nazar, dia merasa tidak enak hati melihat kelakuan putranya.


"Iya Zar, makasih." Sahut Kila, boneka itu kesayangan Elvina. Kila menggeleng pelan setelah tamunya pulang. Dia mencari putrinya yang pasti sedang sedih karena kehilangan teman kesayangannya.