EL & KEN

EL & KEN
127



Seusai sarapan Ken mengajak Elvina bersepeda. Berkeliling disekitar taman komplek. Pasangan pengantin baru itu duduk berselonjor dipinggiran taman.


"Minum El," Ken memberikan sebotol air mineral pada Elvina. Keringat yang berjatuhan di kening perempuan itu membuat kesan sexy ditambah pancaran cahaya sinar matahari. Hanya melihat pemandangan seperti itu membuat gairah Ken bangkit.


"Makasih Abang," Elvina menyapu keringat di keningnya menggunakan ujung lengan baju.


"Capek?"


"Lumayan, lama gak olahraga." Jawab Elvina dengan cengiran, malu dengan suaminya yang sangat suka olahraga sampai badannya kotak-kotak.


"Nanti olahraga sama Abang lagi." Ujar Ken dengan senyuman penuh arti. Elvina hanya mengangguk belum menyadari olahraga yang maksud Ken. Dia pikir ngegym. "Ayo pulang, kita lanjut olahraga di kamar."


"Eh, kenapa di kamar Abang. Bukannya di ruang fitnes." Tanya Elvina lugu, Ken menjawab dengan cengiran mengajak istrinya pulang.


Ken merasa lebih tenang setelah dari psikiater kemaren. Mungkin pengaruh obat yang dia minum. Ken akan berjuang untuk cepat pulih demi Elvina.


"Kalian darimana aja keringatan gitu?" Tegur Erfan kepo, ternyata anak itu tidak main-main minta diadopsi keluarga Nazar.


"Kepo," Ken mencebik, "ayo Sayang kita olahraga lagi habis ini." Ujarnya sambil tersenyum miring pada Erfan.


"Eh, awas lo main kasar lagi sama kesayangan gue ya." Teriak Erfan panas, sahabatnya itu suka pamer kemesraan di depannya.


"Gue main lembut kok, sampai El keenakan." Sarkas Ken, Elvina mendelik. Frontal sekali mulut suaminya ini, "Abang!"


"Iya Sayang, ayo ke kamar." Ken merangkul Elvina masuk ke kamar.


Attisya dan Adnan yang menyaksikan hanya menyengir lebar.


"Sepertinya ada lo di sini itu bisa bikin Ken lebih lembut pada Nana, Fan. Semoga dia bisa cepat pulih."


"Kasihan sih, cuma mau gimana lagi. Lo juga mau ngikutin peran begini." Adnan tersenyum mengejek.


"Sabar, sabar. Di sini banyak setan yang bikin hati gue panas." Erfan mengusap dada dengan dramatis. Dia akan membantu Ken cepat pulih, tidak tega melihat Elvina yang tersiksa ketika Ken tidak bisa mengendalikan diri.


"Aneh ya Mas. Orang marah biasanya cemburu dengan marah-marah. Tapi Ken kenapa gak gitu sama Erfan."


"Karena Ken tau, kalau Erfan itu sudah kalah jauh darinya, di hati Nana hanya ada nama Ken. Jadi dia tidak cemburu begitu, malah Ken akan merasa menang kalau bisa membuat Erfan kesal dengan kemesraannya. Kecuali lelaki lain yang membuatnya cemburu. Bisa habis Nana diamuknya." Jelas Adnan, Erfan membenarkan. Mereka selalu bersaing secara sportif.


"Gak salah dong kalian buat rencana seperti ini."


"InsyaAllah, semoga Ken tidak mengamuk lagi, kasihan Nana." Adnan menghela napas panjang, dia juga ikut sakit kalau melihat adik iparnya itu terluka.


"Nan, bantu gue cari apartemen sekitar sini. Biar bisa dekat kalau bolak-balik." Erfan membaringkan tubuhnya di sofa dengan tangan menopang kepala dan satu kaki berada di atas lutut.


"Nginap di sini aja, kamar kosong banyak. Tapi jangan lupa bayar sewa kamar sama gue. Gak boleh telat."


"Gak enaklah gue, numpang makan dan tidur." Ujar Erfan tanpa menanggapi candaan Adnan.


"Nanti gue carikan, orang tua lo gak papa kalau lo keluar dari rumah."


"Gak masalah, malas banget gue masuk rumah lihat foto-foto Fany. Panas hati." Erfan menerawang ke arah langit-langit. Dia sangat menyayangi adik kecilnya itu. Apapun yang Fany mau Erfan selalu berusaha menuruti.


"Gitu-gitu dia adik kandung lo Fan."


"Iya, gue sayang banget sama dia. Tapi apa yang dia lakuin bikin gue sakit dan dihantui rasa bersalah."


"Itu bukan salah lo Fan, Nana juga sudah memaafkan. Jangan terlalu dipikirkan. Kita bisa bantu Nana bahagia dengan cara yang lain sebagai tebusan karena kita gagal menjaganya dengan baik." Nasehat Adnan, padahal dia juga menjadi orang yang paling hancur saat kejadian itu.