EL & KEN

EL & KEN
45



Elvina duduk termenung di taman belakang menyeka air matanya yang sesekali terjatuh. Dia yang meminta Ken untuk pergi, malah dia juga yang bersedih. Sangat lucu bukan.


Adnan tidak menemukan Elvina diruangannya. Dia memutuskan untuk memeriksa di taman belakang. Ternyata benar, gadis itu sedang melamun di sana. Berusaha terlihat tegar dengan tidak meunjukkan air matanya.


Lelaki itu berjalan mendekati sang gadis. "Nana, kenapa, Sayang?"


"Aku gak papa, Kak." Elvina menyembulkan senyumannya yang paling menawan.


"Kenapa sedih?"


"Kangen Papa, Kak." Sahut Elvina menutupi luka yang hatinya rasakan.


"Kalau Nana menangis terus, Papa jadi sedih di sana." Adnan menenangkan gadis itu, walau dia tau bukan itu alasan Elvina bersedih.


"Kak, apa Azmi masih menyayangiku?"


"Kakak gak tau Na, kamu kangen dia?" Adnan tidak mungkin menentang keinginan Elvina sekarang, hati gadis itu sedang hancur.


Dia sedang terluka karena Ken ingin meninggalkannya, bukan karena Azmi.


"Kak siapa Aish?" Tanya Elvina sambil tersenyum, dia sangat kenal dengan nama itu. Kalau benar yang dia pikir orang yang sama, maka Elvina akan lega melepaskan Ken untuk orang itu.


Adnan masih mengamati wajah sendu Elvina yang berusaha gadis itu tutupi dengan senyuman.


"Aish itu anak sahabat Papa. Abi Zayid sangat ingin Ken jadi menantunya."


Benar saja, mereka orang yang sama. Elvina menarik napas panjang lalu menghembuskannya.


"Apa Paman setuju?"


"Abi menyerahkan sepenuhnya pada Ken. Selama ini Ken selalu berusaha mendekatimu. Namun setiap kali kamu menyebut menginginkan Azmi dia mulai menyerah."


"Dia sekarang memilih Aish ya, pasti nanti Ken akan sangat bahagia."


"Kamu mencintai Ken?"


"Tidak." Elvina memegang liontinnya. "Aku berharap pemilik liontin ini bukan Ken, Kak." Lirihnya pelan.


Semua orang juga akan tau kalau Elvina mencintai Ken. Tatapan mata tidak pernah bisa bohong, tapi gadis itu selalu melawan perasaannya. Adnan bisa apa, huh. Dadanya ikut terasa sesak sekarang.


Ingin Elvina bilang mencintai Ken. Tidak tau sejak kapan dia jatuh cinta dengan lelaki itu. Mungkin sejak dia selalu dihantui dengan mimpi yang sama setiap terlelap.


"Apa kamu mau menikah dengan kakak?" Adnan tidak melepaskan pandangannya sedetikpun dari Elvina.


Elvina membulatkan matanya, terkejut dengan pertanyaan Adnan. Hal bodoh apalagi yang akan dilakukan orang terdekatnya ini.


"Kak, kamu adalah kakakku, itu tidak akan pernah terjadi," tegas Elvina.


"Jika Ken tidak mau menjagamu, maka aku akan menjagamu Na." Adnan menatap intens gadis di depannya.


"Selama inikan kakak sudah menjagaku, jangan lakukan itu. Pernikahan kakak tinggal sebulan lagi. Tetaplah menjadi kakakku, jangan pernah menyakiti perempuan itu."


"Kak, hari ini aku mau ketemu sahabatku Fany, aku pulang naik taksi saja ya, gak usah diantar." Elvina mengalihkan pembicaraannya, dia bisa gila sekarang. Bukan hanya sekedar depresi.


"Iya Na. Tenangkan dirimu dulu." Ujar Adnan, mungkin gadis itu menganggapnya bercanda. Tapi sungguh Adnan serius mengungkapkannya.


"Terimakasih, Kak. Kamu selalu menjagaku." Ucap Elvina berusaha tersenyum. Adnan hanya mengangguk, membawa Elvina kembali ke ruangannya.


"Na, kakak tinggal yaa. Masih banyak kerjaan." Ujar Adnan meninggalkan Elvina di ruangannya. Dia harus melakukan sesuatu dan memastikan agar gadisnya ini baik-baik saja.


Elvina memijat keningnya pelan setelah kepergian Adnan. Lalu tersenyum, dunia ini terlalu sempit ternyata.


Aish, Ken kah orang yang kamu maksud dulu itu. Argh, andai Elvina tau lebih dulu dia tidak akan menjatuhkan hatinya pada Ken. Syukurlah semua belum terlambat. Dia akan jadi orang yang paling bersalah jika sampai merebut Ken dari orang tersayangnya itu.


Ternyata inilah alasan tersembunyi yang dia tidak tau. Allah yang menuntunnya agar tidak hidup dalam penyesalan.