
"El," lirih Ken sendu. Attisya segera berpindah ke sofa. "Huuhh," lelaki itu menghela napas dengan berat. Melihat istrinya terbaring dengan wajah pucat seperti ini dia benar-benar merasa seperti penjahat.
Ken membenamkan wajah dalam genggaman tangan Elvina. Gadis itu hanya menatap suaminya dengan sendu. Tadi pagi dia melihat suaminya itu seperti iblis, sekarang Ken nampak tak berdaya. Ada bekas memar di pipi lelaki itu.
"Sakit?"
Ken mengangkat wajahnya, harusnya dia yang bertanya seperti itu. Elvina membelai lembut pipi suaminya. Dia sudah berjanji untuk bertahan mendampingi lelakinya ini.
"Di sini yang sakit?" Ken membawa telapak tangan Elvina ke dadanya. "Aku bahkan gak bisa ngendaliin diri aku sendiri untuk gak menyakiti kamu. Kamu bakalan terluka kalau terus berada di sisiku." Buliran bening terjatuh dari mata lelaki itu.
"Maafin aku karena gak ceritain kondisi aku lagi sama kamu, aku kira kamu masih ingat itu."
Ken menggeleng pelan, mencium kening Elvina lama. "Aku yang minta maaf sudah menghina dan membuatmu kesakitan." Lelaki itu membaringkan kepalanya di samping sang istri lalu memeluknya dengan erat.
"Sakit banget, El?"
"Lumayan." Sakit banget, lanjut Elvina dalam hatinya.
"Dulu waktu orang itu, sakit gak?" Tanya Ken sambil mengelus lembut perut istrinya, Elvina melirik raut wajah sang suami. Tidak ada perubahan.
"Aku gak ngerasa Ken, aku dalam pengaruh obat tidur waktu itu." Jelas Elvina, tangannya terangkat untuk mengelus surai hitam milik Ken.
"Berarti aku lebih bajing*an dari orang itu, sekarang dimana dia?"
"Kata kamu, dia sudah mendapatkan hukumannya."
"Aku juga lupa bagian itu."
"Siapa yang mukul kamu?" Tangan Elvina beralih pada pipi Ken.
"Kak Adnan. Dia bilang aku sama bajing*annya dengan orang yang sudah merenggut kehormatan kamu."
"Enggak gitu konsepnya Sayang, meskipun apa yang kamu lakukan gak bisa dibenarkan. Semua yang ada di diri aku sudah halal untukmu."
Ken tertegun mengangkat kepala, menatap lembut sang istri. Siapa yang Ken nikahi ini, kenapa hati perempuannya ini sangat kuat.
"Karena kamu yang selalu bertahan saat aku terus menolakmu dulu." Ucap Elvina dengan tersenyum manis.
"Mau peluk," ujar Ken manja.
"Inikan udah peluk, Sayang."
"Ini cuma tangannya yang meluk." Rengek Ken dengan nada dimanja-manjakan. "Mau ikut tidur di sini."
"Nanti ranjangnya roboh gimana?" Goda Elvina.
"Aku gak segendut itu Sayang, sampai bisa bikin ranjang besi ambruk." Sahut Ken dengan wajah cemberut, tanpa persetujuan Elvina pun dia sudah menyempil di ranjang sempit itu. Biar bisa dempet-dempetan dalihnya.
"Kamu sudah mandi belum, Sayang?"
"Belum," katanya diikuti gelengan kepala.
"Aku bantu mandi dulu yuk biar lebih segar dan enak istirahatnya."
"Gak ada pakaian ganti di sini."
Duh Ken jadi makin merasa bersalah terus kalau begini. "Ya udah nanti aku ambilin pakaian kamu ya," Ken tidak mungkin meminta kakaknya yang membawakan pakaian Elvina kan. Pasti dia kena semburan lagi, Adnan masih marah besar dengannya. "Ada obat penghilang sakitnya gak, El?"
"Ada, belum aku minum." Ken melirik ke arah nakas, di sana juga ada sarapan yang masih utuh.
"Kamu belum sarapan?" Elvina mengangguk, "sama, aku juga belum." Lirih Ken, "kamu mau makan itu, gak enak loh makanan orang sakit. Aku beliin aja yah. Kita makan bareng."
"Nanti aja, masih pengen kamu di sini." Elvina memindahkan kepalanya ke dada bidang Ken. Jangan cepat-cepat dibuang kesempatan ini. Bisa saja nanti Ken marah-marah lagi, dia masih ingin menikmati rasanya bermanja-manja dengan suami sendiri. Tanpa mempedulikan Attisya yang mengamati setiap pergerakan mereka.
***
Bagaimana keluarga mereka, kalau yang istri mengalami depresi sedang si suami mengalami trauma.