
"Sayang, mama datang pengen ketemu kamu. Kamu mau ketemu mama?" Tanya Ken seusai mematikan sambungan telpon, Erfan yang menelponnya kalau ada keluarga Elvina di luar.
"Gak pengen ketemu mama, aku lagi capek." Ujar Elvina, bukan tubuhnya yang lelah tapi hatinya. Dia tidak ingin mama melihatnya saat seperti ini. Itu akan membuat mamanya sedih nanti.
"Kalau kamu menghindari mama, mama tambah kepikiran kamu, Sayang. Gak papa kalau kamu mau menangis dalam pelukan mama." Bujuk Ken lembut.
"Ayo kita keluar," ujar Elvina menguatkan hati, ucapan Ken ada benarnya. Kalau dia terlalu lama mengurung diri semua orang akan mengkhawatirkannya.
"Kamu yakin, Sayang?" Tanya Ken ragu. Perempuan itu menggeleng lemah.
"Jangan dipaksa kalau gak bisa," Ken memeluk Elvina dengan hangat.
"Aku mau coba. Aku mau sembuh. Aku gak mau nyusahin kamu lagi," ucap Elvina pelan.
"Kamu gak nyusahin aku, kalau mau coba hayuuk," lelaki itu menggenggam tangan Elvina, membawanya keluar kamar.
Ramai suara mengobrol di ruang tengah membuat tangan yang dalam genggaman Ken itu bergetar. Dia menoleh pada Elvina yang sudah menunjukkan wajah cemas. "Lanjut atau kembali ke kamar, Sayang?"
"Lanjut," jawab Elvina pelan. Ken merangkul pinggang istrinya. Khawatir Elvina lemas dan langsung jatuh.
Saat sampai ruang tengah semua mata tertuju pada mereka. Ken dapat merasakan tubuh istrinya bergetar hebat, dia semakin menguatkan rangkulan.
"Kuat Sayang, ayo kita duduk."
Ken tidak menyangka sebesar ini ketakutan istrinya bertemu orang lain. Elvina mengangguk, wajahnya sudah memucat dan berkeringat.
"Tarik napas, Sayang." Ken membimbing Elvina yang berada dalam pelukannya. "Lihat Abang aja kalau kamu cemas lihat yang lain." Ruangan itu mendadak hening setelah kedatangan Elvina.
Elvina menurut menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Kedua tangannya masih berada dalam genggaman Ken.
Erfan menatap Elvina dengan penuh rasa bersalah. Semua tidak terjadi kalau bukan karenanya. Fany menghancurkan Elvina karenanya.
"Biar Ummi yang buatkan Ken," sela Ulfa yang langsung beranjak dari sofa. Ken mengangguk setuju.
"El lihat, semua orang yang ada di sini sayang sama kamu." Bisik Ken pelan yang hanya bisa di dengar Elvina. Perempuan itu bergeming masih mengatur ritme napasnya.
Kila berpindah duduk ke samping putrinya lalu memeluk dengan erat. Lagi-lagi dia hanya bisa menangis dalam diam. Ken menyeka air mata yang hampir terjatuh di mata ibu mertuanya. Dia tidak mau Elvina melihatnya.
"Kamu gak bosan diam di kamar, Sayang?" Tanya Kila pelan.
Elvina tak menjawab, Kila tidak lagi mengajak putrinya bicara. Andai suaminya masih ada, dia ingin mengadukan segala kerisauan yang dirasakannya. Sakit saat melihat kondisi anaknya kembali seperti ini.
"Mau ke kamar," lirih Elvina pada suaminya setelah melepas pelukan Kila.
"Ayo Sayang," Ken mengulurkan tangannya.
"Gendong bisa, kaki aku lemas." Bisik Elvina, Ken tidak banyak suara langsung membawa istrinya dalam gendongan.
Beberapa pasang mata menatap nanar kepergian Ken yang menggendong Elvina. Walau tidak mau bicara, berani keluar saja itu sudah merupakan kemajuan.
Sampai di kamar, Ken langsung membaringkan istrinya di kasur.
"Bantu ke kamar mandi dulu, boleh?" Tanya Elvina.
"Apa sih yang gak boleh," sahut Ken dengan senyuman. Kembali membawa Elvina dalam gendongan.
Setelahnya Ken membantu Elvina rebahan sambil memijat kaki kesayangannya.
"Capek ya ngurusin aku?" Tanya Elvina lesu.
"Abang senang kalau bisa jadi kaki dan tangan buat kamu, Cinta. Kamu berharga banget buat aku." Ungkap Ken setulus hati, membuat Elvina merasa sangat dicintai. Dari dulu Ken memang sangat mencintai perempuannya.