
Usai sholat subuh Elvina membuka jendela kaca membiarkan udara masuk ke kamarnya. Mungkin karena tertidur pulas malam ini dia tidak bermimpi seperti malam-malam sebelumnya.
Mereka menempati satu bangunan terbuka yang berisi empat kamar. Dua kamar saling berhadapan, depan kamar itu dipisahkan paving blok. Ada kursi dan meja untuk santai di sana.
Sarapan pagi sudah disiapkan di kantin, yang di sediakan untuk semua karyawan staff PT. AJA. Seperti berada di asrama, pikir Elvina. Selesai makan dia memilih berkeliling sendirian di area mess karyawan itu.
Sapuan udara pagi sangat menenangkan. Akan ada rutinitas menyenangkan jogging setiap pagi di area ini, Elvina akan mencobanya saat libur kerja nanti.
"Minum dulu Na, cokelat hangat." Adnan meletakkan segelas cokelat di atas meja. Dia baru sampai kamar sudah disambut minuman kesukaannya. Tak pakai lama, Elvina langsung menyeruputnya.
"Gimana tempatnya Na?"
"Nyaman Kak, areanya luas juga. Kapan-kapan kita jogging muter-muter sini." Ajak Elvina antusias.
"Boleh juga, betah dong tinggal di sini?"
Elvina hanya menyunggingkan senyumannya. Kalau ditanya suka, dia suka. Kalau betah? Dia belum bisa memastikan karena seharipun belum berlalu.
"Kak, dari mana ada cokelat di sini?" Gak susah sih nyari yang jualan cokelat. Tapi kok tau aja gitu kalau dia sangat suka ini. Tanpa cokelat dia bisa menggantinya dengan susu cokelat. Semua juga sudah di siapkan dalam kulkas. Sedetail itu, emang Elvina ibu ratu sampai semuanya ada. Tinggal comot aja.
"Pak Nazar sudah menyiapkan stok yang banyak buat kamu."
Elvina merasa tersanjung dengan semua kebaikan pamannya itu. Nazar benar-benar menggantikan posisi ayahnya.
"Ya Allah, dia selalu menyayangiku seperti papa," lirih Elvina.
"Sangat, dia sangat menyayangimu Na. Bagaimana Ken, masih selalu marah denganmu?"
"Iya, aku sampai bosan berdebat dengannya."
"Hari ini kita akan ke lokasi Na, kamu jangan lupa pakai sunblock di luar panas."
"Awas kalau sampai pingsan ya."
"Tak akan pingsan, aku kuat." Sahut Elvina tertawa. Dia tidak semanja itu, kena sinar matahari langsung pingsan.
"Kenapa masih santai di sini?" Ken dan Sabil mendekati Elvina dan Adnan yang masih duduk santai mengobrol.
"Ayo kak, kita berangkat nanti pak bos marah."
"Bawa cokelatnya Na."
"Enggak deh, nanti haus kebanyakan minum yang manis." Ujar Elvina berlalu masuk ke kamar mengambil tas dan segala persiapannya.
"Di mobil banyak air mineral," teriak Adnan sebelum Elvina menghilang di balik pintu. Si empunya mengendikkan bahu tak acuh.
Setelah semua siap mereka berempat memasuki mobil Pajero sport putih. Kuda besi itu melaju menuju kawasan pembangunan Reiz Residence.
Lokasi pembangunan tidak jauh dari PT. AJA Medan, hanya memakan waktu tiga pulih menit untuk sampai ke sana.
Tugas itu dialihkan pada Elvina dan Sabil karena Project Manajernya sedang sakit pasca kecelakaan mobil.
"Na, kamu sudah pelajari konsep milik Pak Jamal?" Tanya Sabil, pasalnya dia juga bingung dengan tugas dadakan ini. Melanjutkan konsep milik orang lain tak semudah itu.
"Sedikit Bil."
Elvina bukan manusia jenius bisa mempelajari konsep pembangunan gedung dalam semalam.
"Setelah melihat progresnya nanti kita meetingkan kembali dengan klien." Lanjut Elvina sambil menyeruput cokelat yang dibawakan Adnan. Kakak tersayangnya itu sangat perhatian.
Elvina jelas tau itu bukan perhatian biasa. Dia bukan perempuan polos yang tidak tau sinyal cinta dari lawan jenis. Adanya Erfan dan Adnan dalam hidupnya itu sudah membuat Elvina lebih baik dari sebelumnya.