EL & KEN

EL & KEN
76



"Fany, Papi sangat kecewa sama kamu." Ucap Wijaya dingin, dia harus menanggung malu atas perbuatan putri dan keponakannya.


Erfan melihat kekecewaan di mata Reny sang ibu dan Wijaya ayahnya. Dia membawa pihak kepolisian ke rumah untuk meringkus dua orang itu. Pantas saja akhir-akhir ini dua orang itu tidak berani bebas keluar rumah.


"Papi, Mami, maafin aku. Aku salah, aku hanya tidak ingin melihat Kak Erfan selalu sakit hati karena Nana. Hanya itu, aku tidak ingin melihat kakak terluka." Ucap Fany pelan, kesalahannya kali ini sudah membuat orang tuanya sangat marah dengannya. Dia akan mendekam lama di balik jeruji kalau Wijaya tidak mau menjaminnya.


"Maaf Fany, Papi tidak bisa membelamu. Semua sudah sangat jelas, apa yang kamu lakukan adalah kejahatan."


"Kak Erfan maafkan aku." Fany memohon dengan air mata yang berderai. Dia tidak mau di penjara. "Aku lakukan ini karena ingin kakak bahagia."


"Harusnya kamu paham, kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Nana tidak pernah menyakitiku, aku sudah tau sejak dulu dia selalu menunggu Ken. Kenapa kamu berpikir dia sengaja melukaiku. Dia yang membuatku bahagia selama ini. Nana yang membuatku bisa bersemangat lagi." Erfan memandang wajah adiknya dengan penuh kebencian. Sebenci apapun dia dengan Fany, gadis itu tetaplah adik kecilnya yang manja.


"Kenapa kakak selalu membela perempuan itu? Aku ini adikmu, Kak." Teriak Fany frustasi, sekarang tidak ada yang berpihak padanya. Azmi hanya diam menerima takdir yang gila ini.


"Karena hatinya tidak sebusuk kamu Fany!" Sentak Erfan geram, "Kamu lihat sekarang apa yang terjadi, kamu mempermalukanku dan menyakitiku Fany, aku sakit sangat sakit sekarang mengetahui perempuan yang sangat aku cintai terluka karenamu. Aku tidak akan bisa memaafkanmu. Tidak hanya aku yang malu, keluarga kita sudah tercoreng karena tindakan bodohmu."


Fany menggeleng-geleng, tidak ada yang mau menolongnya. "Aku minta maaf Kak Adnan." Mohon Fany pada Adnan yang juga datang bersama Ken.


"Silahkan bawa mereka Pak." Ucap Ken pada dua polisi yang ada di sana, dia rasa perdebatan sudah selesai. Mereka membawa Fany dan Azmi yang sudah terbargol. Walau pelakunya sudah tertangkap tetap hati Ken belum bisa lega.


"Ken, aku minta maaf atas perbuatan adik dan sepupuku pada Nana. Andai aku tau dari awal semua ini tidak akan terjadi." Erfan menyesal sudah memukul Ken tadi. Tidakkah dia bisa melihat wajah Ken yang sangat kacau.


"Bukan salah kamu Fan, aku pun tidak bisa menjaganya dengan baik." Penyesalannya selalu datang menghampiri. Ken benar-benar merasa seperti orang yang sangat bodoh.


Adnan dan Ken pamit pulang setelah semua urusannya beres.


Sesampainya di rumah Ken langsung mengurung diri di kamar. Dia tidak semangat untuk melanjutkan hidup, hatinya sangat hampa. Baru satu hari Elvina pergi, dunianya seakan runtuh sekarang.


Jatuh cinta bisa membuat seseorang lupa bahwa mencintai itu terkadang tidak sepaket dengan memiliki. Banyak yang saling mencintai namun berakhir patah hati. Cinta selalu datang sepaket dengan luka.


Di kediaman Wijaya, Erfan juga mengurung diri di kamar. Tak bisa di gambarkan bagaimana rasa bersalahnya sekarang.


Berharap semua ini hanya mimpi buruk di siang hari. Kenapa harus keluarganya yang menjadi penyebab kehancuran gadis yang sangat dicintainya. Tidak ada cara lain kah, agar bisa kembali seperti semula.