
Kila mengernyit melihat putrinya mengucapkan salam dengan senyuman yang tak pudar. "Sayang, diantar pulang sama siapa?" Tanyanya penasaran. Biasanya Elvina naik ojol atau taksi online.
"Sama Ken Ma, dia bilang malam ini mau kesini sama abi dan ummi-nya." Jawab Elvina dengan sumringah.
"Waahh, calon menantu Mama mau datang nih. Mama harus siap-siap masak yang enak." Ujar Kila tak kalah antusias dengan putrinya.
"Kok jadi Mama yang antusias banget menyambut Ken?" Selidik Elvina, sepertinya virus lelaki tampan dan tajir sudah menyerang sang bunda.
"Iya dong, 'kan calon menantu mau datang." Goda Kila.
"Mamaa, apaan sih." Ujar Elvina malu-malu, dengan muka yang sudah memerah.
"Kenapa mukanya merah Nak, bahagia?" Goda Kila lagi, kenapa sih mama jadi ketularan Erfan yang suka menggodanya.
"Sangat bahagia Mama." Elvina memeluk Kila yang duduk di sampingnya.
"Kamu jatuh cinta dengannya?" Tanya Kila masih penasaran.
"Tidak tau Ma, tapi hatiku senang setiap ada di dekatnya, walau dia menyebalkan." Elvina mengungkapkan dengan penuh keceriaan. "Dia sekarang berubah jadi sangat lembut Ma, tidak kasar seperti dulu lagi, dia selalu memanggilku El."
Kila tersenyum, sekarang putrinya bisa merasakan cinta yang diberikan Ken. Setelah delapan tahun akhirnya Allah mempertemukan mereka.
"Berhenti bercerita Nana, kamu membuat Mama sangat penasaran dengan lelaki bernama Ken itu." Kila mengurai pelukan putrinya.
"Mama akan jatuh cinta kalau bertemu dengannya nanti." Ujar Elvina sangat percaya diri, siapa sih yang bisa menolak lelaki sesempurna Ken.
"Benarkah, Mama akan masak yang enak untuk menyambutnya. Kamu mandi dan dandan yang cantik ya. Biar dia tambah terpesona denganmu." Kila berbisik di telinga Elvina.
"Mama, cukup aku seperti ini pun dia sudah terpesona." Elvina tertawa kemudian beranjak meninggalkan sang mama sambil berteriak. "Aku akan mandi dan dandan yang cantik Ma."
Kila terkekeh kecil melihat putrinya yang tak berhenti berbinar-binar bahagia. Mudah saja meluluhkan hati Elvina itu, walau diluar terlihat garang.
"Assalamualaikum."
Ulfa dan Nazar mengucapkan salam. Kila menyambutnya dengan senyuman bahagia mengajak tamunya masuk.
"Wa'alaikumsalam, Ulfa apakabar?"
"Alhamdulillah sehat, kamu gimana sama Nana sehat?" Kila dan Ulfa saling berpelukan. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Hanya Nazar yang sering mengunjungi anaknya ke rumah.
"Sehat, tadi Nana bercerita dengan sangat bahagia, ayo silahkan duduk." Ujar Kila, dia sudah menyiapkan jamuan di meja.
"Dia belum menyadari kalau Ken anakku, Kila?" tanya Nazar.
"Nana belum tau Zar, aku tidak pernah bercerita tentang Ken padanya."
"Nana mana, pasti dia kangen?" Ulfa mencari-cari Elvina.
"Dia masih di kamar, aku suruh dandan yang cantik." Sahut Kila sambil tersenyum, lalu beranjak memanggil putrinya ke kamar.
"Na, ayo keluar ada Paman menjengukmu." Panggil Kila dari depan pintu kamar Elvina.
"Iya Ma, Paman?" Tanyanya, Elvina keluar kamar terkejut melihat Nazar ada di rumahnya. "Paman mau ngasih undangan Adnan ya ke sini?" ucapnya polos.
"Bukan, tapi bawa Adnannya langsung ke sini. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini jadi lupa jagain kamu," sahut Nazar.
Elvina mengkerutkan keningnya melihat orang yang ada disebelah Adnan adalah Ken. Ken kenapa ke rumahnya bersama paman, bukankah Ken akan datang bersama abinya.
"Hei Na, kangen banget sudah lama gak ketemu kamu." Sapa Adnan pada Elvina yang masih melongo. Sudah beberapa hari dia tidak masuk kantor karena mempersiapkan pernikahannya.
"Kenapa kaget, Sayang?"