
"Ken kenapa kamu memilih berhenti berjuang."
Elvina bersuara lirih namun masih bisa di dengar oleh Adnan yang mau keluar kamar, lelaki itu berbalik menatap ke arah Elvina.
"Na, apa kamu ingin Ken kembali?"
"Tidak kak." Senyuman Elvina tersembul menyembunyikan lukanya dengan sempurna.
"Kalau kamu ingin Ken kembali. Aku akan memanggilnya pulang."
"Tidak kak, kakak harus janji sama aku tidak memberitahu Ken ya dan kakak juga harus janji membantu Ken dan Aish agar menikah."
Adnan tertunduk mendengar permintaan Elvina, sangat sulit untuk dipenuhinya. Mana bisa dia membiarkan kedua adiknya terluka. Meskipun Ken sudah membuatnya sangat marah.
"Aku di luar ya Na, kamu istirahat."
"Makasih kak."
Adnan meninggalkan Elvina karena tidak tahan melihat kesedihan yang dirasakan adiknya itu.
Elvina mengeluarkan memo dari dalam tas, puisi-puisi dari Ken untuknya.
Elvina Mufida Ilman, jangan pernah membenciku ya, jika kamu tau siapa aku. Aku sangat menyayangimu. Bahkan aku tidak sanggup mendekatimu, karena takut tergoda oleh kecantikanmu. Bacanya gak usah senyum-senyum. Nanti kamu tambah manis.
"Ken kamu lelah ya dengan tingkahku, saat ini aku butuh kamu. Tapi kamu memilih pergi." Elvina tersenyum membaca tulisan pada memo-memo itu. Tidak boleh egois mengharap Ken kembali. Ken lebih pantas dengan kakaknya, Aish.
"Bagaimana keadaan Nana..?" Tanya Nazae pada Adnan, sejak pulang dari rumah sakit Elvina hanya ditemani Adnan.
"Dia perlu Ken Bi, tapi Ken tidak bisa menjaganya dengan baik." Geram Adnan, hatinya masih diselimuti kabut kemarahan pada Ken, Azmi dan Fany.
"Adnan, maafkan adikmu ya, biarkan dia datang." Nazar membujuk putra sulungnya. Adnan itu sangat lembut. Tapi kalau sudah terpancing, emosinya susah dikendalikan.
"Tidak perlu Bi, itu akan sangat menyakitkan buat Nana. Karena dia sudah menyetujui permintaan Abi Zayid." Gurat kemarahan masih tersimpan di hati Adnan.
"Nana tidak mau melihatku lagi, jika aku membatalkan pernikahan, harus bagaimana ini." Adnan memukulkan kepalan tangannya pada sofa untuk meluapkan emosi.
"Adnan, Nana pasti kuat. Kamu jangan khawatir, Mama akan menjaganya." Kila menenangkan Adnan yang masih sangat emosi dan khawatir, sampi tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
"Maafkan aku Ma tidak bisa menjaganya dengan baik." Lirih Adnan di depan perempuan paruh baya itu.
"Bukan salahmu Adnan, ini ujian dari Allah. Nana pasti kuat melalui semua ini." Kila mengusap punggung lelaki yang sekarang tidak kalah hancur dengan putrinya.
"Jangan Azmi... jangan lakukan itu padaku."
"Nana Bi!" Adnan berlari ke kamar di ikuti Kila dan kedua orang tuanya.
"Jiwanya terguncang lagi Zar." Killa menghamburkan pelukannya ke tubuh Elvina yang masih mengigau. Matanya memerah menahan sakitnya hati melihat kehancuran putrinya.
"Jangan Azmi... jangan lakukan itu padaku."
"Nana bangun Naaa." Kila mengguncang tubuh Elvina yang masih belum terbangun.
"Jangan Azmi... jangan lakukan itu padaku."
"Keeen tolong aku... Keeennn jangan pergi..."
Adnan yang mendengar Elvina histeris melayangkan genggamannya ke tembok berkali-kali membuatnya meringis kesakitan.
"Adnan tenangkan dirimu, mengalah dengan egomu biarkan Ken pulang. Abi bisa bicarakan masalah pernikahannya dengan Aish."
"Keeennn.. tolong akuu.."
"Naaa bangunnn, Sayang. Sayang jangan buat Mama sedih seperti ini. Bangun Sayang." Tangis Kila pecah memeluk putrinya.
"Keeeennn.." Elvina terbangun dengan keringat bercucuran.
"Astaghfirullah."
Kila mengambil memo-memo yang bertebaran di atas tempat tidur.
"Ma, jangan dibuang!" Panik Elvina, saat Kila mengambil memo-memo pink itu.
"Dari siapa ini Sayang?"
"Dari Ken Ma." Elvina tersenyum dalam pelukan Kila.
"Paman jangan kasih tau Ken yaa, aku malu." Gumamnya masih tersenyum, baru saja gadis itu histeris sekarang sudah berusaha tersenyum lagi. Semua orang juga akan tau kalau itu senyuman palsu.
"Jangan ada yang memberitahu Ken, biarkan dia menikah dengan Aish, Paman."
Adnan tidak dapat menahan air matanya lagi. Tidak tanggung-tanggung sekarang, hatinya ikut hancur lebur. Senyuman gadis itu bukan membuat bahagia, tapi menyayat hati yang memandangnya.
"Kak Adnan jangan sedih, Ken akan bahagia dengan perempuan itu. Kakak sudah janji denganku kan? Kalian tidak perlu khawatir denganku."
Semua keputusan yang Elvina ambil sudah tepat. Dia tidak menyesal melepaskan Ken untuk Aish. Elvina menggenggam liontinnya sambil memeluk beruang kesayangannya.