EL & KEN

EL & KEN
110



Ken mengusap pipi yang bekas dielus Elvina tiga hari lalu. Itu hari terakhir mereka bertemu. Di rumah pun tidak ada yang pembahas perihal perempuan itu lagi.


Beberapa malam ini Ken bisa tidur dengan nyenyak memeluk teddy bear cokelat itu. Entah kenapa dia suka bau parfum yang lengket pada boneka itu. Ken mengambil paksa dua boneka itu dari sang kakak.


"Malam itu aku nunggu balasan chat dari kamu berjam-jam. Tapi gak ada balasan, sekali dapat kabar kamu sudah di ruang operasi. Aku nunggu kamu bangun, tapi saat bangun kamu marah-marah sama aku Ken." Ucapnya dengan tersenyum manis.


"Buket bunga yang penuh darah itu masih aku simpan, cuma itu sekarang yang aku punya. Kalau kamu mau menikah dengan Aish gak papa." Elvina membelai pipi Ken untuk yang terakhir kalinya, "jangan bingung." Katanya setelah menepuk pipi itu pelan.


Suara perempuan itu lagi-lagi berputar di kepala Ken. Argh, ada apa dengan dirinya ini. Ken memeluk beruang biru, si kecil itu bisa membuat hatinya lebih tenang.


Tadi siang dia mendatangi rumah Elvina, katanya perempuan itu sudah keluar dari rumah sakit. Tapi tidak ada ada orang di rumah itu selain asisten rumah tangga.


"Kak, perempuan itu dimana sekarang?" Tanya Ken, dia masih memeluk boneka beruang biru. Kapan Ken suka boneka? Batin Adnan, sampai dibawa-bawa keluar dari kamar.


"Di rumah Om Erland, gak ada yang bisa menemui Nana di sana. Dia dijaga ketat." Ujar Adnan, tadi dia ke rumah itu ingin menemui Elvina, tapi tidak diizinkan. Sampai gadis itu lebih baik baru bisa ditemui.


Hati Ken mencelos, apa yang terjadi dengannya. Saat didekat perempuan itu dia merasakan sangat benci. Tapi kenapa sekarang dia sangat ingin melihat perempuan itu.


"Dimana rumahnya, aku ingin mengembalikan boneka ini." Ujar Ken beralasan, Adnan mengernyitkan alisnya. Adiknya itu tumben-tumbenan mencarinya ke kamar hanya untuk menanyakan alamat Elvina.


Adnan memberikan alamat rumah Erland, walaupun ketemu rumahnya belum tentu bisa bertemu Elvina, pikirnya. Jadi Ken tidak mungkin bisa menyakiti gadis itu, dia tidak perlu khawatir.


Lelaki itu membawa kuda besinya membelah jalanan dibawah cahaya lampu penerangan. Dia memasuki komplek perumahan tempat Erland tinggal.


Cukup sulit sampai Ken dapat masuk ke rumah besar itu. Setelah memohon pada tuan rumah.


"Saya ingin bertemu Nana sebentar saja, setelah itu pulang. Ada barang-barang yang ingin saya kembalikan." Mohon Ken pada lelaki paruh baya yang menemuinya di teras.


"Kamu Ken?" Lelaki itu mengangguk. "Maaf, saya tidak bisa memberi izin kamu bertemu Nana." Tegasnya, Ken menarik napas lelah.


"Sebentar saja saya mohon, lima menit." Erland menghela napas panjang, dia tau lelaki ini yang dicintai Elvina. Tapi pemuda yang di depannya ini juga yang sudah menggores luka pada keponakannya.


"Oke, jangan ucapkan apapun yang bisa menyakiti hatinya." Putus Erland, dia kasihan dengan pemuda itu. Rela menunggunya hampir satu jam demi diizinkan masuk. Erland meninggalkan Ken sendirian di teras.


"Nana, ada yang mau ketemu." Erland memanggil keponakannya di kamar. Elvina mengernyitkan kening. Siapa yang mencarinya ke sini.


"Dia sudah lama menunggu di depan, temui gih." Ucap Erland dengan tersenyum. Elvina tidak bertanya apapun langsung keluar kamar setelah menggunakan hijab instannya.


Elvina sangat kenal lelaki yang berdiri membelakanginya ini. Lelaki yang beberapa hari ini dia rindukan. Untuk apa Ken mencarinya lagi, dia sudah tidak menyimpan benda apapun dari Ken. Apa Ken akan memaksanya untuk melupakan lelaki itu detik ini juga. Entahlah, Elvina tidak tau.