EL & KEN

EL & KEN
144



Ken terpaksa mengantar istrinya ke butik Erina. Sudah dilarang karena demam, tapi masih saja ngeyel. Dia tidak ingin berdebat dan membuat mood Elvina yang ceria hari ini jadi buruk.


"Hati-hati El, kalau ada apa-apa langsung hubungi Abang. Jangan keluar dari sini sendirian, tetap tunggu Kak Erin di sini." Pesan Ken sebelum pulang.


"Siyap Abang Ken sayang." Elvina mengangkat tangannya hormat. Ken mengecup kening Elvina singkat lalu pergi dari sana.


Tidak lama setelah Ken pulang Erina datang. Elvina lega tidak sendirian di sini. Kalau pagi butik masih sepi, hanya ada tiga karyawan yang membantu di sana.


"Sekarang kita fokus pada desain yang akan kamu tampilkan nanti Na."


"Aku belum yakin, Kak." Cicit Elvina, "aku ragu eh."


"Kamu bisa, jangan takut mencoba, oke." Erina meyakinkan adiknya. "Kamu hanya perlu sering berlatih dan mengenali dunia fashion lebih dalam lagi. Kita bisa dapat ide dari apa yang kita lihat dan pelajari."


Elvina mengangguk ragu sambil memotong pola. Pelan-pelan dia juga mempelajari teknik menjahit. Kalau semua bisa dilakukannya sendiri, dia bisa melakukannya dari rumah. Tidak perlu takut berkeliaran di luar lagi.


"Na, aku harus pulang cepat nih, babysitter barusan telpon anakku demam. Kamu aku antar pulang ya."


"Gak usah Kak, kakak duluan aja aku nunggu Ken jemput."


"Beneran nih, kamu gak papa aku duluan?" Erina meyakinkan kembali, dia masih was-was kalau Deo tiba-tiba datang menyakiti Elvina.


"Gak papa, aku gak keluar sebelum Ken datang." Elvina meyakinkan sang kakak.


"Oke, aku pulang duluan. Segera hubungi Ken untuk jemput," pesan Erina.


"Siyap bos," Elvina langsung menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban. Adnan juga tidak menjawab. Mungkin mereka lagi meeting. Dia menghubungi Erfan untuk menjemput, sekarang hampir jam dua belas.


"Sudah bilang sama Ken, kalau aku yang jemput?"


"Sudah aku kirim pesan. Ken gak bisa ditelpon, Kak Adnan juga." Ujar Elvina, kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Erfan mengamati mobil yang mengikutinya dari kaca spion.


"Aku antar ke kantor Ken aja ya Na."


"Kenapa gak ke rumah. Nanti aku ganggu Ken di kantor."


"Enggak, aku temani di sana." Erfan hanya ingin mengalihkan mobil yang terus mengikutinya. Kalau Elvina dia antar ke rumah, di sana hanya ada ummi dan Attisya. Bahaya kalau orang itu nekat menerobos masuk.


"Terserah aja deh." Pasrah Elvina sambil menatap jalanan, matanya tidak sengaja menoleh ke spion. "Itu mobil ngikutin kita?" Perempuan itu menoleh pada Erfan yang menjawab dengan anggukan.


"Coba pelan-pelan, aku penasaran sama orang yang ada di dalam." Erfan menurut dengan perintah Elvina. "Gak kelihatan ih," kesalnya.


Erfan memarkirkan mobilnya di gedung PT. AJA, ternyata mobil itu mengikuti. Deo keluar dari mobil mencegat dua orang itu lebih dulu.


"Deo," gumam Elvina kaget. Jadi yang mengikutinya Deo. Mau apalagi lelaki itu.


"Jadi ini lelaki simpanan kamu, hah." Teriak Deo sudah berada di hadapan Elvina.


"Jaga mulut anda, bung. Jangan berteriak." Erfan memegang pergelangan tangan Elvina.


"Kalau iya emangnya kenapa?" Jawab Elvina lantang dengan senyuman miring, "ayo Sayang, kita masuk."


"Dasar perempuan munafik, sok suci lo." Murka Deo, Elvina menulikan telinganya. Kalimat itu tidak sesakit saat dulu Ken yang mengucapkan. Jadi dia biasa saja.