EL & KEN

EL & KEN
170



"Aku benci Claudia, aku benci mereka. Aku benci semuanya." Ucap Elvina pelan dalam pelukan Ken. Ken dapat merasakan kesakitan yang istrinya itu rasakan.


"El, tenang ya, Sayang." Ken menciumi puncak kepala Elvina.


"Mereka udah lihat tubuh aku, aku jijik. Ih, aku jijik." Elvina memukul dada sambil menarik-narik bajunya degan kasar.


"Jangan dipukul Sayang, nanti sakit." Ken menahan tangan Elvina lalu memeluknya sangat erat.


"Kamu jangan peluk-peluk aku!" Teriak Elvina, melepaskan diri dari pelukan Ken lalu berguling-guling di lantai. Dia jijik dengan dirinya sendiri.


"Sayang!" Ken menangkap Elvina, lalu memeluknya. Melihat istrinya seperti ini dia ikut hancur.


"Jangan peluk aku. Aku kotor, aku ini menjijikan." Teriak Elvina, siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan sakit yang sama. "Aku jijik, aku jijik."


"Kalau aku peluk kamu itu artinya kamu gak menjijikan, Sayang. Nih buktinya aku betah meluk kamu." Kalimat yang Ken ucapkan itu bagai mantra, mampu membuat Elvina tenang.


Ken bernapas lega, akhirnya sang istri bisa dikendalikan. Mereka berpelukan di lantai. "Romantiskan kalau gini, Sayang." Godanya, berusaha mengalihkan perhatian Elvina.


"Abang gak jijik sama aku?"


"Kenapa harus jijik, Sayang. Abang sayang sama El. Abang cinta sama El." Ken mengusap punggung Elvina dengan lembut, menyatukan kening mereka berdua. Tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang memperhatikannya.


"Aku kotor Abang, udah gak ada yang berharga lagi di diri aku. Semua orang bisa melihat tubuhku dengan mudah. Aku jijik, ih."


Huft, kalimat itu terlalu menyakitkan untuk Ken dengar. Salah apa kesayangannya ini sampai diuji seperti ini.


"Kamu tetap berharga buat aku, El. Mereka cuma bisa melihat, tapi hanya aku yang bisa memiliki dan menyentuhmu."


Ulfa menatap sendu menantunya, air mata perempuan paruh baya itu sudah menggantung di pelupuk mata.


Ken menggendong Elvina ke tempat tidur, saat semua orang sudah bubar. "Mau ketemu dokter Raga, Sayang?"


"Apa dia gak jijik sama aku?"


"Walau seluruh dunia memandang El jijik, ada kami yang selalu menyanyangimu. El berharga, Sayang."


"Aku malu, Abang."


Ken membawa Elvina dalam pelukan. "Jangan malu, Sayang. Kamu gak salah. Kita akan lalui ini sama-sama ya."


"Jangan peluk aku, Ken!"


Lelaki itu menurut melepaskan pelukan. Mereka saling diam dalam waktu yang lama.


"Sarapan dulu ya El, baru minum obat." Bujuk Ken, Elvina tidak mau keluar kamar. Sejak pagi masih meringkuk di bawah selimut. Setelah kejadian tadi pagi, istri Ken itu tidak mau bertemu siapapun.


Perempuan itu menggeleng. Ken sudah meminta Raga untuk datang kalau dokter itu bisa meluangkan waktu. Istrinya tidak mau ditangani dokter lain.


"Kamu bisa sakit kalau mogok makan, El." Ucap Ken pelan seraya mengelus surai hitam Elvina yang memunggunginya.


"Aku gak nafsu makan, Ken." Jawab Elvina pelan.


Panggilannya sudah berubah, Ken hanya bisa bersabar menghadapi istrinya tersayang ini. Dia kembali membaringkan badan di belakang Elvina. Dipeluk pun perempuannya ini tidak mau lagi.


"Kamu bisa tinggalin aku sendirian Ken," pinta Elvina. Dia sedang tidak ingin ditemani siapapun.


"Iya," ucap Ken lemas lalu beranjak dari tempat tidur. Kakinya melangkah menuju ruang keluarga dan membaringkan diri di sana. Adnan dan Erfan sudah berangkat ke kantor. Kecuali Nazar yang masih ada di rumah.